Tasbih Cinta Fatimah

Tasbih Cinta Fatimah
Perbedaan Sikap Satya


__ADS_3

"Khem," deheman Satya mengalihkan perhatian Fatimah yang sejak tadi hanya diam mematung menatap keluar jendela.


"Apa ada yang kamu inginkan?" Fatimah yang sejak tadi berusaha mengumpulkan keberanian untuk memulai pembicaraan kini sedang berusaha mengajak Satya yang sudah sah menjadi suaminya itu bicara.


"Bisakah kamu mengambilkan air minum untukku?" sahut Satya.


"Tentu saja, tunggu sebentar!" sanggup Fatimah.


Sejak kecil Fatimah sudah tinggal di pesantren, karena itulah dia sangat mengerti dan memahami tugas seorang istri untuk suaminya, dan hak suami juga haknya sebagai istri.


Mendengar suaminya meminta minum tanpa berfikir dia kali ataupun mendebat ucapan Satya, Fatimah langsung berjalan keluar dari kamar untuk mengambilkan air minum sesuai dengan apa yang di inginkan Satya.


"Loh, kamu mau ke mana, Nak?" cegah Mama Satya yang berdiri tepat di samping dapur di mana tempat keluarga Fatimah menyimpan air untuk minum.


"Aku mau ambil minum Ma," jawab Fatimah dengan senyum yang mengembang di wajahnya, meski saat ini Fatimah sedang tidak ingin tersenyum, tapi Fatimah tetap berusaha menampilkan semua yang terbaik yang dia punya.


"Kenapa tidak menyuruh asisten rumah tangga, Nak?" Mama Satya kembali bertanya.


"Mas Satya yang minta di ambilkan minum, Ma, karena itulah aku yang mengambilkan minum itu sendiri," jelas Fatimah.


"Meski Satya yang meminta, kamu bisa menyuruh orang lain, Nak Mama yakin kamu pasti merasa lelah dan capek karena harus duduk tegap sesuai permintaan MUA," Mama Satya kembali menjelaskan alasan dirinya yang meminta Fatimah menyuruh asisten rumah untuk mengambilkan minum untuk Satya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Ma, sudah menjadi kewajiban untukku melakukan apa yang di perintahkan suami harus aku lakukan," jawab Fatimah dengan senyuman yang menenangkan hati siapapun yang melihatnya.


Mama Satya tidak melakukan apapun, dia berjalan mendekat ke arah Fatimah kemudian memeluknya dengan penuh suka cita, rasa bahagia membuncah menjadi satu mengingat apa yang sudah di lakukan Fatimah, Mama Satya semakin yakin jika puteranya telah menikah dengan gadis yang tepat, dan Fatimah pasti akan merawat Satya dengan baik di kemudian hari.


"Mama merasa bahagia melihat apa yang kamu lakukan, semoga pernikahan kalian semakin langgeng dan bahagia," untaian rasa bahagia di barengi dengan do'a yang di ucapkan oleh Mama Satya membuat siapapun merasa bahagia mendengarnya, begitu pula dengan Fatimah yang berfikir jika rumah tangganya nanti pasti akan jauh lebih baik dengan restu dan do'a sang Ibu mertua.


"Amin," Sahut Fatimah yang terlihat masih tersenyum ke arah sangat Mama mertua.


"Ma, aku pergi dulu ya. Kasihan Mas Satya kalau menunggu terlalu lama," sambung Fatimah.


"Pergilah! jika kamu lelah jangan sungkan untuk meminta tolong pada asisten rumah tangga," pesan Mama Satya sebelum akhirnya Fatimah pergi dengan langkah lebar meninggalkan ruangan.


"Siapa yang minta air putih?" sahut Satya dengan ekspresi wajah kurang bersahabat, Fatimah yang melihat perubahan sikap Satya sontak terdiam, dia mematung merasa ada yang aneh dengan suaminya itu.


"Hah?" Fatimah mendesis merasa aneh dengan perubahan sikap Satya yang terkesan tiba-tiba.


"Sudahlah, aku mau istirahat capek. Bangunkan aku jika pihak MUA datang!" titah Satya yang kini berdiri melepas jas yang dia pakai dan melemparnya asal ke arah kursi yang berada tidak jauh dari tempat keduanya berdiri.


Satya kembali memberi perintah pada Fatimah, sebuah perintah yang tak pernah di sangka oleh Fatimah, bagaimanapun dia baru saja menikah, kenapa Satya malah bersikap seperi itu? biasanya orang akan bersikap sangat manis dan baik pada pasangannya saat pertama kali menikah, bahkan terkadang dia akan bersikap sangat romantis, karena hubungan yang terjalin baru saja sah dan di resmikan, tapi hal itu sepertinya tidak berlaku pada Satya yang justru bersikap sebaliknya, Satya malah cenderung dingin dan bersikap acuh pada Fatimah.


"Apa kamu mendengar ucapanku Fatimah?" tanya Satya saat dia tak mendapat respon dari Fatimaj yang memang diam mematung di hadapan Satya.

__ADS_1


"Iya, aku akan membangunkanmu, tidurlah!" sahut Fatimah dengan suara lirih penuh kebingungan.


'Kenapa Satya bersikap seperti itu?' batin Fatimah saat melihat sikap Satya yang menurutnya tidak wajar, jika Fatimah terus berfikiran yang tidak-tidak tentang perubahan sikap Fatimah, maka jauh berbeda dengan Satya yang kini malah merasa senang, dia tersenyum licik setelah melihat ekspresi wajah Fatimah, senyuman yang tak tampak tapi penuh arti.


Satya yang merasa menang dengan apa yang sudah terjadi kini bisa tidur dengan tenang, gadis yang sejak dulu ingin dia dapatkan kini telah menjadi miliknya, meski cinta yang pernah tumbuh berubah jadi dendam, tapi Satya tetap tersenyum karena sudah berhasil mengikat gadis sombong yang sudah menolaknya di depan umum itu.


'Kamu akan tahu bagaimana rasanya sakit hati Fatimah, aku yang akan mengajarimu menangis nanti,' batin Satya yang kini mulai memejamkan mata mencoba tidur.


Fatimah melangkah menuju kamar mandi untuk mengganti gaun yang dia pakai untuk acara akad tadi. Mencoba menepis segala perasangka yang muncul karena sikap Satya yang tak semanis saat pertama kali dia turun dari mobil, Satya telihat begitu bahagia dan ramah, sangat jauh berbeda dengan apa yang di tunjukkan di kamar saat ini.


Fatimah duduk tepat di depan cermin menyisir rambut dan melihat pantulan dirinya yang kini sudah tak bermake up, wajah yang putih bibir merah alami dengan alis tebal yang terlihat beraturan karena pihak MUA telah merapikannya tadi.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" lirih Fatimah sambil menyisir rambut hitamnya yang cukup panjang.


Fatimah masih saja tak bisa menemukan jawaban atas pertanyaan yang tiba-tiba muncul karena sikap Fatimah, hingga dia memutuskan untuk tidur dan bergabung dnegan Satya yang lebih dulu tidur sambil memunggunginya.


"Semoga semuanya baik-baik saja, dan aku tidak salah memilihmu sebagai pendamping hidupku, semoga saja prasangka ini tidak benar, dan aku berfikiran seperti ini hanya karena aku belum mengenalmu," gumam Fatimah dengan suara sangat lirih bahkan Satya yang belum benar-benar tidur tak mendengar ucapan Fatimah.


Perlahan tapi pasti, Fatimah yang sebenarnya juga merasa lelah mulai larut dan ikut tertidur di samping Satya dengan jarak yang cukup jauh.


Fatimah ikut tidur di samping Satya, saking fokusnya dia memikirkan sikap Satya saat ini yang berbeda dengan sikap Satya saat berada di luar kamar membuat Fatimah lupa akan pesan yang di berikan Satya sebelum dia tidur tadi, Fatimah malah tertidur dengan sangat nyenyak, apa lagi sudah cukup lama Fatimah tidak merasakan spring bad seempuk ini, selama di pesantren dan di rumah sakit, Fatimah tidur dengan alas seadanya, dan sudah menjadi kebiasaan Fatimah yang akan langsung terlelap saat dia mencium aroma bantal.

__ADS_1


__ADS_2