Tasbih Cinta Fatimah

Tasbih Cinta Fatimah
Hadiah Dari Kak Satria


__ADS_3

"Mama sudah siapkan makanan spesial untuk kalian, kalau begitu lebih baik sekarang kita makan saja dulu." Ajak sang Mama yang cukup membuat Fatimah melotot dan langsung menoleh ke arah Satya yang kini duduk di sampingnya, semua itu bukan karena Fatimah tidak menyukai apa yang baru saja di katakan oleh sang Mama, hanya saja Fatimah merasa sudah kenyang dan tidak mungkin makan lagi setelah Satya mengajaknya makan tadi.


"Ma, kami sudah makan tadi, jadi lebih baik kami masuk ke kamar saja." Sahut Satya yang masih memiliki pengertian dan mengerti dengan kode yang baru saja di berikan oleh Fatimah.


"Kenapa kalian makan di luar? Harusnya kalian tahu jika aku pasti memasak untuk kalian, kenapa sekarang kalian malah bilang sudah makan, lalu bagaimana dengan masakan mama? Siapa yang akan memakannya?"sahut sama mama yang terlihat sedikit kecewa dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Satya.


Fatimah yang merasa tidak tega dengan apa yang baru saja dikatakan oleh sang Mama memilih untuk makan lagi meski hanya sedikit hanya untuk melegakan hati sang mama.


"Mas, sepertinya lebih baik kita makan saja, aku tidak tega jika harus melihat Mama kecewa seperti itu," bisik Fatimah saat melihat ekspresi wajah kecewa yang di tunjukkan oleh sang Mama.


"Baiklah Ma, kita akan makan," ujar Satya, entah mengapa kini Satya seperti seorang robot yang selalu saja mengikuti apa yang di katakan oleh Fatimah, semua itu terjadi entah karena apa, Satya sendiri tidak tahu.


Satya dan Fatimah juga Satria berjalan mengikuti langkah sang Mama menuju ruang makan untuk menyantap makanan yang sudah di siapkan oleh sang Mama.


"Bagaimana masakan Mama?" tanya sang Mama saat ketiga anaknya sudah berada di meja makan dan memakan sesuatu masakan sang Mama.


"Enak, Ma," sahut Fatimah, sedang Satya dan Satria hanya menganggukkan kepalaenyetujui apa yang baru saja di katakan oleh Fatimah, suasana ruang makan terlihat begitu tenang tak ada yang membuat kegaduhan ataupun memancing emosi dengan kejahilan seperti biasanya, hanya dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring terdengar menguasai ruangan, Fatimah dan kedua laki-laki yang awalnya asing kini menjadi saudara sekaligus teman hidupnya memakan masakan sang Mama dengan senyum yang mengembang meski rasa masakannya terasa biasa saja karena selama ini sang Mama jarang sekali memasak, tapi ketiganya tetap menunjukkan ekspresi wajah senang seolah masakan yang mereka makan terasa begitu nikmat.


"Ma, aku ke kamar dulu." Pamit Satya saat makanan di piringnya habis.

__ADS_1


"Aku juga pamit pergi dulu Ma," kali ini yang berpamitan adalah Fatimah.


"Yasudah, kalian istirahat saja dulu!" sahut Sang Mama.


"Mau istirahat atau mau Melanjutkan yang belum selesai?" goda Satria yang tak di respon oleh Satya.


Bagi Satria saat ini bukanlah hal yang perlu di tanggapi, jadi Satya terus berjalan meninggalkan ruang makan tanpa memperdulikan ucapan Satria.


Satria yang mengira jika Satya ingin melanjutkan sesuatu yang sudah di lakukan keduanya karena melihat bi**r Fatimah yang sedikit bengkak yang bisa dipastikan karena ulah sang adik.


"Mas, tadi sepertinya Kak Satria berbicara padamu, maksudnya apa ya?" tanya Fatimah yang sebenarnya penasaran dengan maksud dari ucapan Satria, hanya saja Fatimah memilih diam dan terus mengikuti langka Satya dari pada bertanya, semua itu di lakukan Fatimah karena dia tidak ingin bertengkar ataupun berselisih faham dengan Satya.


Fatimah yang mendengar ucapan Satya memilih untuk diam dan tak berkata apa-apa dari pada memaksa atau membantah ucapan Satya yang pada akhirnya akan mendapatkan amukan dari Satya sang suami.


Sebenarnya setiap tadi setia begitu penasaran dengan kotak hadiah yang diberikan oleh Satria sang kakak, hanya saja dia berpura-pura tidak peduli dan tidak ingin tahu apa yang diberikan oleh kakaknya itu saat mereka berada di ruang keluarga.


"Fatimah!" panggil Satya saat melihat Fatimah hendak meletakkan kotak yang tadi diberikan oleh Satria di atas nakas dekat dengan tempat tidurnya.


Fatimah yang meletakkan kotak itu di atas nakas dengan mata yang masih memperhatikan setiap sisi dari kamar Satya yang baru saja dia memasuki.

__ADS_1


Ini pertama kalinya sejak Fatimah menikah dengan Satya, Fatimah masuk ke dalam kamar pribadi Satya yang ada di rumah sang mama, dan Fatimah tidak menyangka jika kau merasa dia terlihat begitu rapi dan bersih tanpa debu, sepertinya saat dia bukanlah orang yang suka dengan hal-hal yang kotor, buktinya kamar saja terlihat begitu bersih dan rapi karena itulah Fatimah tersenyum dan senang karena mendapatkan suami yang bisa menjaga kebersihan kamarnya.


"Ada apa mas Satya?" sahut Fatimah sesaat setelah dia tersenyum dan menoleh ke arah Satya yang memang telah memanggilnya.


"Kenapa kotaknya malah kamu taruh di atas nakas? Bukalah! Aku ingin tahu apa yang ada di dalam kotak itu," pinta Satya yang cukup membuat Fatimah tersenyum karena apa yang di perintah oleh Satya adalah hal yang tidak pernah terbesit dalam benak Fatimah, melihat Satya yang acuh dan tidak memperhatikan juga tidak memperdulikan kotak yang diberikan oleh Satria membuat Fatimah berfikir jika Satya tidak peduli dengan kotak yang diberikan oleh Satria.


"Mas Satya yakin ingin membuka kotak ini?" tanya Fatimah yang merasa kurang yakin dengan apa yang diminta oleh Satya.


"Jangan banyak bertanya ataupun bicara! Buka saja kotaknya!" Satya yang tidak ingin menjelaskan apapun kepada Fatimah memilih untuk memerintahkan Fatimah segera membuka kotak hadiah yang diberikan oleh sang kakak.


Mendengar perintah saja yang begitu tegas membuat nyali Fatimah menciut, dia tidak ingin terus berbicara ataupun menanyakan sesuatu pada Satya yang terlihat sedikit emosi, Fatimah memilih untuk mengikuti perintah Satya dari pada terus bertanya ataupun berbicara.


Perlahan tapi pasti Fatimah membuka kotak yang tadi dia taruh di atas nakas dan kini sudah berpindah di atas pangkuannya.


Melihat apa yang diberikan oleh Satria membuat Fatimah mengernyitkan dahi bingung, karena bagaimana mungkin kakak iparnya bisa memberikan hadiah sebuah lingeri yang entah bagaimana bisa dibeli oleh Satria.


"Kenapa kak Satria malah membelikan aku barang ini? dan bagaimana dia bisa membelinya? "Spontan Fatimah bertanya saat dia mengangkat tinggi hadiah dari sang kakak ipar, dan menunjukkannya ke arah Satya tanpa rasa canggung, karena saat ini Fatimah sangat terkejut dengan apa yang dia dapatkan.


Reaksi yang ditunjukkan Fatimah berbeda dengan reaksi yang ditunjukkan oleh Satya, dia yang sudah mengerti dengan watak dan sikap sang kakak hanya bisa menggelengkan kepala merasa jika sang kakak tidak akan pernah berubah sampai kapanpun.

__ADS_1


__ADS_2