Tasbih Cinta Fatimah

Tasbih Cinta Fatimah
Aku Menyayangimu Fatimah


__ADS_3

"wah, istriku semakin rajin saja," puji papa Satya, sesaat setelah dia sampai di rumah Satya dan melihat sang istri dan juga Fatimah sedang asyik memasak di dapur.


"Siapa dulu, Mama Nia," sahut Mama Nia membanggakan dirinya sendiri, sedang Satria yang ada di samping sang Papa hanya memutar bola mata jengah melihat apa yang dilakukan oleh kedua orang tuanya saat ini.


"Papa, Satria! Kalian sudah datang?" sapa Satya yang baru saja datang dan melihat keberadaan Satria dan sang Papa yang kini berdiri di depan dapur yang berada tidak jauh dari ruang keluarga.


"Kamu ke mana saja?" sahut sang Papa sambil berjalan pelan ke arah Satya, dan ikut duduk tidak jauh dari tempat Satya duduk.


"Aku baru saja dari taman belakang Pa, lihat-lihat koleksi bunga," jawab Satya yang memang memiliki hobby menanam beberapa jenis bunga hias di taman belakang.


"Kamu masih sering bermain dengan bunga Satya," tanya sang Papa.


"Masih Pa," jawab Satya.


"Udah punya mainan hidup masih aja main bunga," celetuk Satria yang sejak tadi hanya menyimak percakapan Satya dan sang Papa.


"Hidup-hidupku kenapa malah kamu yang kepo?" sahut Satya kurang menyukai dengan apa yang terjadi dikatakan oleh Satria.


Suasana langsung hening seketika sesaat setelah setelah Satya membalas ucapan Satria dengan ucapan yang cukup menohok.

__ADS_1


"Kenapa suasananya hening sekali? Kalian ini sedang berkumpul atau sedang mengheningkan cipta?" kali ini Mama Nia yang berkomentar saat melihat suasana di ruang keluarga yang terlihat begitu hening dan senyap seperti di kuburan.


"Apa masakannya sudah matang, sayang?" Sahut Papa yang gini langsung meletakkan ponselnya di atas meja setelah melihat mamania datang dan meletakkan sesuatu di atas meja.


"Belum, aku ke sini hanya mengantarkan makanan dan cemilan untuk kalian, tapi kenapa kalian saling diam?" Mama Nia mulai bertanya dengan keadaan yang baru saja dia lihat karena mamanya tahu dengan pasti jika suasana hening saat mereka berkumpul pasti ada perdebatan yang baru saja selesai terjadi di antara ketiganya.


"Tidak ada apa-apa, kami cuma sibuk dengan urusan masing-masing, lebih baik selesaikan masakannya! Papa lapar," ujar Papa.


"Kalau begitu Mama pergi dulu. Nanti kalau sudah siap bakal Mama kasih tahu," sahut Mama Nia yang langsung berjalan meninggalkan para lelaki yang selama ini ada di sekitar mereka apapun yang dilakukan oleh seorang anak, yakinlah terkadang itu yang menurut mereka terbaik untuk orang tuanya.


Hari terus berganti, siang telah berlalu berganti malam yang sunyi dan gelap, mengajak setiap insan untuk tidur mengistirahatkan badan agar bisa semangat untuk melakukan aktifitas esok hari.


"Mas, apa yang kamu lakukan?" tanya Fatimah saat merasa aneh dengan apa yang di lakukan oleh Satya.


Satya tak menjawab pertanyaan Fatimah, dia seolah tuli dan terus menghirup dalam aroma tubuh Fatimah yang saat ini terasa begitu memabukkan, aroma yang pasti akan menjadi candu setelah Satya menikmatinya.


"Ma~" Fatimah tak lagi bisa meneruskan kata-kata saat Satya membungkamnya dengan bibirnya, Satya mulai bermain dan menyesap manisnya madu yang entah dari mana asalnya, awalnya hanya isapan biasa, tapi semakin lama semakin menuntut, Fatimah yang baru merasakan hal yang baru saja di lakukan oleh Satya hanya diam tanpa mampu membalas ataupun mengimbangi permainan Satya, semua terasa aneh dan mampu membuat Fatimah merasakan sensasi yang belum pernah di rasakan sebelumnya.


"Emmm," ujar Fatimah sambil melepaskan diri dari pagutan yang di berikan oleh Satya saat dia mulai mencoba menyentuh bagian lain dari diri Fatimah.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Satya sambil mengangkat satu alis merasa bingung dengan apa yang baru saja di lakukan oleh Satya.


"Maaf, aku reflek saat Mas menyentuhnya, ini pertama bagiku dan badanku tidak terbiasa," jujur Fatimah yang tidak ingin terjadi kesalah pahaman antara dirinya dan Satya.


Sedang Satya yang merasa jika apa yang dilakukan oleh Fatimah merupakan hal yang wajar dan pasti akan dilakukan oleh setiap gadis yang memang belum pernah melakukan kontak langsung dengan seorang laki-laki memilih untuk menunda sejenak niatnya untuk melakukan kewajiban yang seharusnya memang sudah dia lakukan sejak pertama kali dia melangsungkan akad nikah dan sah menjadi suami Fatimah.


"Harusnya aku yang meminta maaf Fatimah, mungkin aku terburu-buru tanpa berpikir ataupun mengingat jika kamu berasal dari pesantren, dan aku harusnya mengerti jika sebelum ini kamu pasti belum pernah melakukan kontak langsung dengan laki-laki," sahut Satya mencoba mengerti dengan keadaan Fatimah saat ini.


"Tidak, Mas Satya tidak seharusnya meminta maaf padaku, karena apa yang Mas Satya lakukan memang sudah menjadi kewajiban dan hak mas Satya, harusnya aku yang bisa menerima dan tidak menolak apalagi melakukan hal seperti yang tadi, maafkan aku," Fatimah merasa bersalah dengan apa yang baru saja dia lakukan, karena saat ini dia sadar jika tadi dia menolak suaminya, sesuatu yang memang diharamkan dan dilarang oleh agama.


"Mas Satya bisa melakukannya sekarang dan aku siap memberikan hak yang memang seharusnya menjadi milik Mas Satya," ujar Fatimah yang merasa jika saat ini memang sudah waktunya dia memberikan apa yang seharusnya diambil oleh Satya sejak awal.


"Sudahlah, aku tidak akan memaksa kamu untuk memberikan hak itu padaku saat ini, pelan-pelan saja! Aku akan melakukannya secara pelan sampai kamu bisa menerimanya atau bahkan kamu bisa menikmati apa yang aku berikan nanti," ujar Satya seraya tersenyum genit ke arah Fatimah dan mengeringkan mata mencoba menggoda istri polosnya itu, dan apa yang dilakukan Satya jauh berbanding terbalik dengan apa yang dilakukan Fatimah, saat ini Fatimah justru menunduk malu dengan wajah memerah seperti buah ceri yang baru matang.


"Sampai kapan kamu mau berdiri di situ Fatimah? kemarilah! biarkan aku memelukmu malam ini," seru Satya saat melihat Fatimah hanya berdiri dengan kepala yang menunduk.


"Eh," lirih Fatimah saat mendengar suara Satya menyapa telinga membuat Fatimah sadar jika Satya sudah beranjak dari hadapannya dan kini duduk di kasur empuk yang ada di sampingnya.


'Kapan dia perginya?' batin Fatimah merasa aneh dengan Satya yang tiba-tiba sudah duduk di kasur dan bersiap untuk tidur, dan Fatimah berjalanmendekat ke arah Satya sesuai dengan perintah yang baru saja dia dengar.

__ADS_1


"Aku menyayangimu Fatimah," lirih Satya sambil memeluk Fatimah yang kini telah lelap dalam pelukannya.


__ADS_2