Tasbih Cinta Fatimah

Tasbih Cinta Fatimah
Dia istriku


__ADS_3

"Jangan menatapku seperti itu!" lirih Fatimah yang merasa risih dan malu saat di tatap oleh Satya sang suami.


"Kenapa? bukankah menatap istri di pagi hari bukanlah hal yang aneh?" sahut Satya tak menggubris ucapan Fatimah, dia terlihat tetap menatap wajah cantik Fatimah. Tanpa memperdulikan protes yang baru saja di layangkan Fatimah, sedang Fatimah langsung duduk kemudian berdiri, berjalan meninggalkan kamar menuju kamar mandi untuk bersiap menjalankan kewajibannya.


"Ternyata menikahi gadis manis seperti Fatimah cukup menyenangkan juga," lirih Fatimah sambil menatap langit-langit kamar mengingat apa yang baru saja terjadi.


Hari-hari Satya terasa jauh lebih manis dari biasanya, rasa benci dan dendam yang dulu sempat hinggap di dalam hatinya kini pergi entah kemana. Tak ada lagi rasa benci atau emosi, yang ada hanya cinta yang kini memenuhi ruang hatinya.


"Pagi, Bibik," sapa Fatimah sesaat setelah dia sampai di dapur.


"Pagi, Non," sahut Bik Murni.


"Bagaimana keadaan Nona sekarang?" sambung Bik Murni sambil menatap ke arah Fatimah yang tersenyum begitu manis ke arahnya.


"Aku merasa jauh lebih baik dari kemarin Bik," jg awan Fatimah.


Setelah kedatangan Mama, Papa mertua dan Satria, Fatimah merasa jauh lebih baik dari sebelumnya, apa lagi mereka memutuskan untuk menginap di rumah Satya membuat suasana rumah menjadi ramai.


"Syukurlah! Nona Fatimah yang sabar ya," ujar Bik Murni dengan ekspresi wajah penuh rasa empati yang jelas wajahnya, sedang Fatimah hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala menanggapi apa yang baru saja dikatakan oleh Bik Murni.


"Pagi semua!!" suara nyaring Mama Nia terdengar mengalihkan perhatian aku dan Bik murni, membuat siapapun yang ada di ruang tamu menoleh ke arahnya.


"Pagi, Ma," sahut Fatimah.

__ADS_1


"Pagi, Nyonya," kali ini Bik Murni yang menyahuti sapaan Mama Nia.


"Bagaimana keadaanmu sekarang, Sayang?" tanya Mama Nia penuh ketulusan dan kasih sayang yang terpancar jelas di wajahnya.


"Aku merasa jauh lebih baik Ma," jawab Fatimah senang karena dia mendapatkan seorang mertua yang begitu baik dan lembut, juga perhatian padanya.


"Syukurlah, jangan pernah merasa sendirian! karena Mama dan yang lain akan selalu ada untukmu," ujar Mama Nia sambil mengusap lembut punggung sang menantu mencoba mengalirkan semua rasa Sayang yang dia miliki.


"Mana mungkin aku merasa sendirian jika ada Mama di sini," Fatimah yang merasa jika menantunya itu sangat baik dan juga sayang padanya langsung memeluk tubuh sang Mama mertua mencoba membalas segala rasa sayang yang di miliki oleh Fatimah untuk mertuanya itu.


Keduanya terlihat berpelukan dan mencoba mengekspresikan rasa sayang yang ada di dalam hati keduanya.


"Apa aku boleh ikut berpelukan?" sekarang suara Satria yang mengalihkan seluruh orang yang ada di dapur.


Mulut Satria seolah terkunci rapat tak dapat di buka saat mendengar ucapan Mama Nia yang cukup menohok menusuk hati Satria, tanpa mengatakan sepatah katapun, Satria langsung melenggang pergi meninggalkan dapur dan kembali masuk ke dalam kamar.


"Kak Satria kenapa Ma?" tanya Fatimah saat melihat sikap Satria jauh berbeda dari biasanya.


"Biasa, baper," jawab Mama acuh, seolah tak perduli dengan apa yang baru saja di lakukan oleh Fatimah.


"Apa tidak akan jadi masalah membiarkan Kak Satria marah seperti itu, Ma?" tanya Fatimah merasa tidak enak hati dengan apa yang baru saja di lakukan oleh dirinya dan sang Mama.


"Tidak, biarkan saja! nanti juga bakal sembuh sendiri bapernya," jawab Mama Nia sambil tersenyum manis ke arah Fatimah seolah tak akan terjadi apapun pada Satria.

__ADS_1


"Sudah, jangan bahas Satria lagi! Lebih baik sekarang kita memasak yang enak untuk sarapan pagi ini," sambung Mama Nia yang kini terlihat bersemangat seperti biasanya untuk mulai memasak dan menyiapkan menu yang akan di sajikan saat sarapan nanti.


Pagi yang cukup menyenangkan bagi Fatimah, rasa sepi dan sedih yang sempat dia rasakan kini sirnah, kehadiran Sang Mama mertua memang mampu membuat Fatimah merasa jauh lebih baik dari sebelumnya.


Cukup lama ketiganya memasak membuat hidangan untuk sarapan, hingga semua menu yang ingin di masak telah selesai.


"Wah ternyata menantuku jauh lebih hebat dari yang aku kira," seru Mama Nia saat Fatimah bisa mengolah bahan makanan seadanya yang tersedia di dapur rumah yang memang baru di tempati itu.


Fatimah dan Satya juga Bik Murni memang belum sempat berbelanja untuk mengisi dapur, mereka memasak bahan makanan seadanya yang sempat di beli oleh Bik Mina, asisten rumah tangga panggilan di rumah Satya yang datang untuk membersihkan rumah dan membuatkan makanan untuk para tukang yang tengah bekerja di rumah itu.


"Mama juga hebat, bisa cepat belajar semua yang aku beri tahu, sekarang Mama bisa memasak sendiri di dapur," puji Fatimah tak mau kalah dengan sang Mama mertua.


"Kamu itu menantu yang paling the best, dan Mama bersyukur punya menantu sepertimu," ujar Mama Nia.


"Istri aku itu Ma," sahut Satya yang baru saja sampai di dapur dan melihat tingkah abstrak dari Mama Nia.


"Ishhh yang punya dateng," celetuk Mama Nia.


"Sayang, kenapa kamu tidak membuatkan kopi untukku? sejak tadi aku menunggu kopi darimu," ujar Satya sok romantis, dan apa yang di katakan Satya cukup membuat Fatimah merasa senang bercampur malu, karena Satya memanggilnya Sayang di hadapan Mama Nia dan Bik Murni, sedang Mama Nia hanya tersenyum senang mendengar panggilan Satya yang kini berubah pada Fatimah.


"Maaf, Mas, aku lupa," jawab Fatimah yang langsung kelimpungan mencoba menyiapkan apa yang baru saja di minta oleh Satya, tapi sebelum langkah yang semakin menjauh, Mama Nia menghentikan langkahnya.


"Fatimah baru selesai saja selesai memasak denganku Satya, jadi lebih baik kamu bersiap-siap untuk sarapan bersama dari pada hanya meminum kopi di pagi hari," ujar Mama Nia yang merasa jika sarapan jauh lebih baik daripada meminum secangkir kopi sebelum makan, mengingat sarapan yang sudah disiapkan olehnya dan Fatimah telah tertata rapi di atas meja.

__ADS_1


Sedang Satya hanya bisa mengikuti apa yang Mamanya katakan tanpa bisa menjawab ataupun mendebatnya, bagi Satya apa yang dikatakan Mama Nia memang ada benarnya dan Satya terlihat enggan untuk membalas ucapan sang Mama, dia memilih pergi dari dapur sambil menggandeng tangan Fatimah untuk ikut bersamanya.


__ADS_2