Tasbih Cinta Fatimah

Tasbih Cinta Fatimah
Berangkat Menjemput Papa Satya


__ADS_3

Hati Fatimah merasa begitu lega saat melihat Satya dan Mama yang duduk di ruang keluarga, sedang Satria sama sekali tak terlihat batang hidungnya, itu artinya dia masih belum selesai dan masih harus menunggu Satria.


"Maaf, aku telat," ujar Fatimah.


"Tidak apa-apa, ayo berangkat!" ajak Mama Nia yang cukup membuat Fatimah bingung, karena seharusnya Satria ikut bersama mereka, tapi kenapa dia malah tidak terlihat.


"Kamu cari apa lagi?" tanya Satya saat melihat sang istri celingukan mencari sesuatu yang entah apa.


"Kak Satria mana?" tanya Fatimah dengan ekspresi wajah bingung.


"Dia akan menyusul nanti, lagi pula ngapain cari Kak Satria? kamu ngerasa aneh pergi tanpa dia? atau kamu gak bisa pergi kalau gak ada dia?" pertanyaan Satya kini terdengar jauh lebih aneh dan membingungkan, karena Fatimah merasa jika apa yang dia cari memang seharusnya ikut bersama dengan mereka, karena bagaimana pun juga, Satria juga anggota keluarga ini, karena itulah seharusnya dia ikut bersama mereka saat ini.


"Pertanyaan Mas Satya jauh lebih membingungkan," sahut Fatimah sambil menggelengkan kepala merasa aneh dengan apa yang baru saja terjadi.


Fatimah tak lagi berbicara, dia memilih menyusul sang Mama yang berjalan lebih dulu menuju garasi di mana mobil yang akan mereka gunakan sudah siap.


"Pak Santo, biar aku yang menyetir," cicit Satya yang memang ingin menyetir mobil itu sendiri agar nanti dia bisa bebas mengobrol bersama sang Papa saat pulang nanti.


"Baik, Den," jawab Santo yang langsung berjalan mundur meninggalkan garasi.


"Hari ini kamu akan jadi sopir saat berangkat ke bandara, karena Fatimah harus duduk di jok tengah bersamaku!" suara Mama Nia tegas tak terbantahkan.


"Terserah Mama," sahut Satya yang terdengar tidak terlalu perduli dengan urusan duduk.

__ADS_1


"Bagus, kalau begitu ikut aku Fatimah!" Mama Nia yang memang sangat cocok dan sangat menyukai plus sangat sayang pada Fatimah langsung menarik tangannya dan mengajaknya duduk di sampingnya tanpa meminta persetujuan dari Fatimah, sedang Fatimah yang memang sangat penurut pada orang tua hanya bisa diam sambil mengikuti langkah sang Mama kemudian ikut duduk bersamanya di Jok tengah.


Sepanjang perjalanan Mama Nia banyak bercerita tentang kehidupannya dengan Papa Satya, cinta pada pandangan pertama yang tak pernah bisa di hilang ataupun terkikis oleh lamanya sang waktu.


"Dulu kami saling jatuh hati saat kami masih SMA, dan kau tahu Fatimah, Nenek juga Kakek Satya tidak pernah setuju dengan hubungan kami, semua itu karena Papa Satya bukan berasal dari orang kaya, dia hanya seorang yatim piatu yang tinggal di panti asuhan, tapi kekuatan cinta kita mampu membungkam Kakek dan Nenek Satya saat Papa Satya bisa sukses di usia dini," tutur Mama Nia yang kini tengah menceritakan sejarah keluarganya dan bagaimana perjuangan cinta keduanya.


"Benarkah, Ma?" kenapa kebanyakan orang menilai setiap sesuatu dari harta yang mereka miliki, padahal seharusnya mereka tahu ada hal yang lebih penting dari pada harta," ujar Fatimah yang memang selalu merasa aneh dengan orang yang selalu menjunjung tinggi harta yang mereka punya, padahal harta hanya sebuah titipan yang harus mereka jaga, lagi pula dalam harta yang kita miliki ada hak fakir miskin dan para yatama yang harus di berikan.


"Apa yang kamu katakan memang benar, tapi realitanya berkata lain Fatimah, kebanyakan orang memandang orang lain dari harta yang mereka miliki, dan kau tahu? semakin banyak harta yang di miliki orang itu, maka orang itu akan semakin di hormati dan di segani oleh orang lain," Mama Nia berusaha menunjukkan betapa kerasnya dunia yang tengah dijalani nya saat ini.


Mendengar perkataan sang mama membuat Fatimah bingung, selama ini Fatimah hanya mendengar kata-kata itu tanpa tahu kenyataannya di luar sana, selama ini Fatimah diajarkan jika harta bukanlah segalanya tanpa tahu jika di luar pesantren harta adalah hal yang paling penting dan hal yang paling bisa merubah sesuatu yang kelihatannya sangat sulit untuk dirubah, meskipun semua itu tidak selalu benar dan ada kehendak tuhan yang jauh lebih nyata, tapi sebagian besar orang yang dikenal oleh Mama Nia selalu saja bersikap berbeda karena harta yang dimilikinya.


"Suatu saat nanti, aku pasti akan menunjukkan padamu, jika apa yang aku katakan tadi memang benar," ujar Mama Nia yang sering sekali menemukan orang-orang di luar sana yang membedakan dirinya dengan orang lain karena harta dan kedudukan yang dia miliki.


"Jangan terlalu banyak berterima kasih Fatimah! Apa yang Mama lakukan memang sudah seharusnya dilakukan oleh seorang Mama kepada putrinya, Mama sangat bersyukur Satya mendapatkan istri seperti dirimu, mama merasa jika kamu bukan menantu melainkan seperti putriku sendiri, sopan santun, tutur bahasa yang lembut dan kasih sayang yang tidak kamu buat-buat, membuat mama merasa jika ku aku sudah seperti putriku sendiri," tutur Mama Nia sambil tersenyum melihat ke arah Fatimah.


"Aku juga merasa seperti bertemu Mama kandungku sendiri saat bertemu denganmu Ma," ujar Fatimah sambil memeluk sang Mama.


Keduanya terlihat saling memeluk dan apa yang di lakukan keduanya membuat senyum di bibir Satya muncul tanpa bisa di hentikan ataupun di hilangkan, seutas rasa syukur tumbuh di hati Satya karena dia menikah dengan gadis yang tepat, meskipun pernikahannya itu di awali dengan niat yang buruk, tapi pada akhirnya Satya sadar jika apa yang terjadi sudah menjadi takdir untuk hidupnya.


Mobil terus melaju dengan kecepatan seperti biasanya, tak ada yang berbicara lagi setelah adegan berpelukan yang dilakukan oleh Fatimah dan Mama Nia.


"Apa pesawat yang ditumpangi papa sudah mendarat di sini, Satya?" tanya Mama Nia.

__ADS_1


"Harusnya lima menit lagi pesawat yang ditumpangi papa mendarat di bandara ini," jawab Satya yang memang mengetahui jadwal keberangkatan dan kedatangan pesawat yang ditumpangi oleh papanya.


"Apa Satria juga sudah sampai di bandara ini?" Mama Nia kembali bertanya saat dia mengingat jika Satria tadi berpamitan akan berangkat sendiri dengan pak Santo setelah dia selesai bersiap, pasarnya tadi Satria bangun kesiangan, karena itulah dia mengatakan jika dia akan berangkat sendiri dengan pak Santo dan akan ikut dengan mama Nia saat mereka pulang nanti.


"Sepertinya Satria juga belum sampai, mungkin sebentar lagi dia akan sampai Ma," jawab Satya yang memang belum mendapat kabar dari Satria jika dia sudah sampai di bandara.


Satya mendapat kabar dari pihak bandara jika pesawat yang ditumpangi oleh papanya akan terlambat sepuluh menit dari jadwal yang sudah diberitahukan, karena di tempat Papa sempat terjadi cuaca buruk yang tidak memungkinkan pesawat bisa lepas landas.


"Lebih baik kita menunggu di sana." satya menunjuk ke arah di mana ada beberapa penjual makanan yang memang disediakan pihak bandara.


"Kamu benar Satya, kita memang belum sarapan karena itulah lebih baik kita makan dulu," sahut mama Nia yang memang merasa lapar dan ingin segera sarapan.


"Kamu mau makan apa, Fatimah?" Tanya Mama Nia saat melihat Fatimah hanya diam dan memperhatikan sekeliling.


"Aku, samakan saja dengan apa yang Mama pesan" jawab Fatimah yang memang tidak pernah masuk ke dalam bandara dan merasa bingung dengan apa yang harus dia pesan.


Mama Nia sangat mengerti dengan apa yang dirasakan oleh Fatimah, di wajahnya terlihat begitu jelas jika saat ini dia terlihat bingung dengan apa yang sudah terjadi.


"Apa ini pertama kalinya kamu masuk ke bandara?" Mama Nia tak mampu menahan rasa penasarannya saat melihat Fatimah terus saja terlihat bingung melihat sekitar.


"Iya, Ma, ini pertama kalinya aku masuk ke sini dan ternyata di sini ada tempat makannya juga," jawab Fatimah polos dan Mama Nia hanya tertawa kecil mendengar jawaban polos dari menantunya itu.


Sedang Satya yang sejak tadi terlihat fokus menatap ponselnya, kini beralih melihat wajah Fatimah yang masih saja bingung, di bibirnya muncul seutas senyum tipis nya bahkan tak mampu dilihat oleh orang lain, mungkin terdengar sangat kampungan tapi apa yang dikatakan oleh Fatimah membuat Satya sadar, jika dia telah mendapatkan sebuah mutiara langkah dan tercantik yang selama ini tersimpan di dalam kerang.

__ADS_1


__ADS_2