Tasbih Cinta Fatimah

Tasbih Cinta Fatimah
Berkenalan Dengan Fariz


__ADS_3

"Khem," deheman seorang pria mengalihkan perhatian kedua gadis yang sedang adyik mengobrol.


"Astaga, aku lupa jika ada Abang," ujar Zia setelah menyadari kehadiran Fariz yang sejak tadi ada di belakang keduanya.


Fariz tersenyum semanis mungkin sambil menatap ke arah Fatimah yang juga ikut tersenyum ke arah Fariz.


'Aku bertemu gadis ini lagi, mungkin dia memang jodohku,' batin Fariz sambil terus menatap ke arah Fatimah yang kini memilih menunduk setelah mengingat statusnya saat ini.


'Sungguh tampan sekali Abang Neng Zia, seandainya perjodohan ini tidak ada, mungkin aku bisa menikah dengan dia,' batin Fatimah yang juga mengagumi Fariz, selain wajahnya yang tampan, Fatimah sedikit tahu tentang Fariz, dulu Zia sering sekali bercerita tentang Fariz dan Fatimah juga cukup sering mendapat perintah membersihkan kamar Fariz, wajah asli Fariz jauh lebih tampan dari fotonya, mungkin semua itu karena Fatimah tidak bisa menatap terlalu lama foto Fariz, dia hanya melirik sekilas sehingga terasa berbeda dengan aslinya.


"Jangan di pandang terus! haram hukumnya, dia sudah ada yang punya, Bang," bisik Zia sambil menyikut lengan Fariz.


"Hah? apa? kenapa kamu gak bilang?" seru Fariz yang cukup membuat Fatimah terkejut dan menoleh ke arahnya.


Fatimah menatap penuh rasa penasaran ke arah Zia dan Fariz yang kini berdiri lebih dekat dari sebelumnya.


"Kenapa? apa ada masalah?" tanya Fatimah.


"Tidak ada, Abang hanya terkejut saja," sahut Zia dengan ekspresi wajah tak enak hati karena sikap sang kakak.


"Oh ya, Bang kenalin ini Fatimah, sahabat sekaligus Kakak angkatku," ujar Zia mengenalkan Fatimah yang tersenyum kikuk karena Zia mengatakan jika dia adalah Kakak angkatnya.


"Hay Fatimah, aku Fariz abang Zia," sahut Fariz yang juga bersikap kikuk merasa nerves berada di hadapan Fatimah, meski dia tahu jika Fatimah sudah ada yang punya, rasanya sangat sulit untuk mengendalikan diri di hadapan gadis yang pernah bertemu dengannya di rumah sakit ternyata yang sering di ceritakan oleh Zia, saat ini Fariz merasa sangat menyesal karena dia telah mengacuhkan Zia yang sering sekali mengatakan niatnya untuk menjodohkan dirinya dengan Fatimah.


Fatimah hanya tersenyum menanggapi ucapan Fariz, sungguh saat ini Fatimah ingin kembali ke masa lalu dan menerima perjodohan yang di ajukan oleh Zia.

__ADS_1


"Astaghfirullah," gumam Fatimah sambil mengurut dada menyadari jika apa yang telah dia fikirkan bukanlah hal yang baik dan di larang untuknya yang sudah menikah, meski hubungan pernikahannya tidak baik tapi tetap saja dia menyandang status seorang istri dan Fatimah harus menjaga diri dan hati untuk suaminya.


"Are you okey, Fatimah?" tanya Zia saat melihat sahabatnya itu mengurut dada, dalam fikiran Zia pasti ada sesuatu yang terjadi.


"I'm okey, tenang saja," jawab Fatimah tersenyum ke arah Zia menandakan jika dirinya baik-baik saja.


"Ngomong-ngomong kamu mau cari buku apa?" tanya Zia.


"Aku ingin beli novel dan beberapa buku tentang hukum dalam pernikahan, kalau kamu mau beli buku apa?" Fatimah balik bertanya.


"Bagaimana kalau kita cari sama-sama?" usul Zia.


"Boleh," jawab Fatimah.


"Eh, aku baru sadar, suami kamu ke mana?" tanya Zia saat menyadari jika Fatimah terlihat sendirian tanpa di temani seorangpun.


"Baru juga sehari menikah sudah sibuk aja, harusnya dia libur," seru Zia.


"Zia, jangan bicara seperti itu! ada banyak hal yang kita tidak tahu, jika suaminya sibuk itu artinya dia memang sibuk, lagi pula suami Fatimah sibuk juga demi masa depan Fatimah juga," sela Fariz yang merasa jika adiknya itu berbicara di luar batas.


"Iya, maaf," ujar Zia dengan perasaan penuh rasa bersalah dia berucap.


"Sudah, tidak apa-apa, lebih baik sekarang kita mencari novel yang bagus," ajak Fatimah, rasanya akan lebih menyenangkan jika mereka langsung pergi mencari buku dari pada harus berdebat.


Fatimah dan Zia berjalan beriringan menyusuri setiap rak buku yang berisi novel-novel best

__ADS_1


seller, novel terkenal yang banyak di cari orang, sedang Fariz berjalan mengikuti langkah keduanya, dia seperti seorang body guard yang tengah bertugas menjaga dia gadis cantik yang tengah berburu buku.


"Neng, buku ini bagus, menurut Neng Zia bagaimana?" tanya Fatimah sambil menunjukkan satu novel yang baru saja dia temukan.


"Mana, coba lihat!" sahut Zia yang langsung mengambil alih novel itu dari tangan Fatimah.


"Kamu benar juga, ini bagus, aku beli yang ini saja," ujar Zia.


"Aku juga akan membeli buku yang sama denganmu," sahut Fatimah sambil mengambil satu novel dengan judul yang sama.


"Kalian ini sungguh kakak beradik yang cocok," sela Fariz yang semakin merasa menyesal karena tak menanggapi tawaran Zia dan memilih mementingkan hal lain, seandainya saja jika Fariz mengikuti kata Zia, mungkin saat ini Fatimah sudah menjadi miliknya dan Zia akan memiliki Kakak ipar bukan Kakak angkat seperti yang dia katakan tadi.


Jika ketiganya sedang asyik memilih buku yang akan di beli, maka berbeda dengan Satya yang merasa jengkel dengan apa yang dia lihat, Satya tidak menyukai senyum yang terlihat di wajah Fatimah, rasanya ingin sekali dia keluar dari mobil dan mendekati Fatimah, menariknya pergi menjauh dari laki-laki dan gadis sok akrab yang ada di sampingnya, membawa Fatimah pulang dan mengurungnya di dalam kamar jauh lebih menyenangkan dari pada membicarakan dia pergi dan bertemu dengan laki-laki lain, fikiran Satya melayang jauh hingga pada akhirnya Satya berfikir jika Fatimah pergi ke tokoh buku memang sudah di rencanakan dan dia memiliki janji dengan laki-laki itu.


"Aku harus menahan diri dan melihat lebih jauh apa yang akan mereka lakukan selanjutnya," lirih Satya sambil terus menatap ke layar laptop yang berisi gambar Fatimah di dalamnya, orang suruhan Satya berjalan mendekat dan merekam semua yang di lakukan oleh Fatimah lewat kamera kecil yang di letakkan di saku sisi kanan.


Fatimah terus berjalan mencari buku yang menurutnya menarik, begitu juga dengan Zia.


"Abang," Panggil Zia dengan nada manja yang selalu dia gunakan ketika dia menginginkan sesuatu dari Fariz sang abang yang memang tidak pelit.


"Iya, kenapa?" tanya Fariz.


Zia mengambil alih dua buku yang di bawa oleh Fatimah, kemudian memberikannya pada Fariz.


"Loh, kenapa di berikan ke Abang?" Fariz kembali bertanya saat dia merasa aneh dengan sikap Zia.

__ADS_1


"Bayarin," jawab Zia enteng, enam buku yang tadi sudah di pilih oleh Zia dan Fatimah kini berpindah tangan ke tangan Fariz.


"Biar aku yang membayarnya," suara seorang pria mengejutkan ketiga orang yang sedang berdiri di depan kasir dengan enam buku yang sudah mereka pilih.


__ADS_2