
Sarapan pagi penuh kehangatan begitu terasa di ruang makan saat ini, Satya terlihat begitu bahagia dengan kehadiran seluruh keluarga di sisinya.
"Jangan suka senyum sendiri Satya aku gak mau punya adek stres," celetuk Satria saat melihat Satya tersenyum tanpa sebab seperti irang gila sambil menatap satu persatu setiap anggota keluarga yang ada di dalam ruangan.
"Diam kau Kak! Kalau sirik jangan banyak ngomong bikin telinga pengang," sahut Satya dengan ekspresi wajah acuh tak acuh sambil terus menikmati hidangan yang ada di hadapannya.
"Bisa tidak jangan bertengkar? di saat suasana hangat seperti sekarang kalian masih bertengkar, mama capek dengernya," kali ini Mama Nia yang angkat bicara mencoba mengubah suasana yang tadinya sedikit tegang berubah mencair.
__ADS_1
Suasana langsung berubah menjadi hening, tak ada satupun yang bersuara hingga semua makanan yang ada di meja makan tandas tak tersisa.
"Apa ini juga masakan kalian?" tanya Papa Satya sesaat setelah dia menghabiskan satu porsi penuh makanan yang diambilkan oleh istrinya.
"Tentu saja, bagaimana rasanya, Pa?" Jawab Mama Nia dengan semangat yang terlihat menggebu.
"Hari ini Mama dan yang lain menginap lagi, kan?" Tanya Fatimah yang merasa senang karena rumah mewah milik Satya yang dia tempati saat ini terasa jauh lebih nyaman dan menyenangkan jika ada Mamanya ada yang lain di sana.
__ADS_1
"Setelah selesai makan kami akan segera pulang, Fatimah."jawab Mama Nia, meski sebenarnya dia masih ingin tinggal jauh lebih lama tetapi Mama Nia mencoba menahan segala keinginan yang ada di dalam hatinya, mengalah dengan keadaan dan situasi yang memang tidak memungkinkan dirinya untuk tetap tinggal jauh lebih lama di rumah Satya saat ini. "Ada beberapa pekerjaan yang harus kami kerjakan Fatimah jika kamu masih merasa kangen dengan Mama kamu bisa datang dan menginap kembali di rumah Mama, dan begitu pula dengan mama jika merasakan hal yang sama maka Mama akan datang sendiri ke sini dengan atau tidak bersama papa atau Kakakmu Satria,"jawab Mama Nia yang memang merasa betah dan senang berada di rumah saja yang baru, semua itu bukan karena rumah yang mewah ataupun halaman yang luas tapi mama Nia merasa mendapatkan sebuah ketenangan dan kasih sayang yang ada di dalamnya, semua itu jauh berbeda dengan apa yang terjadi di rumah Mama Nia setelah Fatimah pergi.
Mendengar jawaban Mama Nia membuat Fatimah terdiam seribu bahasa, dia memang menginginkan Mama Nia dan yamg lain tinggal lebih lama agar suasana rumah menjadi jauh lebih hidup, tapi di sisi lain fatimah tidak bisa egois karena saat ini Mama Nia pasti memiliki urusan yang juga jauh lebih penting dari sekedar menginap di rumah.
"Jangan cemberut! lain kali aku akan mengajakmu menginap di rumah Mama," sela Satya saat melihat Mama Nia yang kini terlihat tidak tega bercampur tak enak hati melihat ekspresi.
"Janji ya Mas," sahut Fatimah yang tidak ingin terlihat semakin menyedihkan.
__ADS_1
Dan benar saja, Fatimah langsung tersenyum lebar setelah melihat Satya mengangguk sebagai tanda jika dia setuju dengan apa yang baru saja di lakukan oleh Satya saat ini.