Tasbih Cinta Fatimah

Tasbih Cinta Fatimah
Aku Beruntung Memiliki Kalian


__ADS_3

Mendengar ucapan Satya cukup membuat Fatimah merasa sedikit terobati, bagaimanapun juga hidupnya harus tetap berjalan, sama seperti pesan yang sudah Ibunya berikan.


"Mas Satya mau aku ambilkan makan lagi? atau bagaimana?" tanya Fatimah saat melihat makanan yang ada di hadapannya hanya satu porsi.


"Aku ingin makan bersamamu, karena itulah aku hanya membawa satu porsi makanan untuk kita," jawab Satya.


Keduanya makan dengan penuh rasa syukur, meski tengah berkabung, tapi rezeki yang telah di berikan tak mungkin bisa di biarkan begitu saja.


Tok ... tok ... tok ....


"Nona Fatimah!" suara Asisten rumah tangga Fatimah terdengar memanggil.


"Iya, sebentar Bik," sahut Fatimah yang baru saja selesai membasuh tangan setelah makan.


"Iya, ada apa Bik?" sahut Fatimah setelah membuka pintu kamar.


"Ada keluarga Den Satya di depan," jawab sang asisten rumah tangga.


"Suruh mereka masuk dan tunggu sebentar di ruang keluarga! Bibik juga jangan lupa buatkan minum juga camilan untuk mereka!" pesan Fatimah kembali berjalan masuk ke dalam kamar.


"Mas," lirih Fatimah.


"Ada apa?" sahut Satya.

__ADS_1


"Ada Mama, Papa dan Kak Satria di bawah, mereka sedang menunggu kita di ruang tamu," jawab Fatimah.


Satya baru ingat pada Mama, Papa dan sang kakak, Satria, sejak tadi saat dia bahkan tak mereka yang seharusnya tahu sejak awal dan hadir di pemakaman Ibu mertuanya, tapi Satya yang kalut dan bingung sama sekali tak mengingat keluarganya karena itulah dia tidak memberitahu keluarganya jika Ibu mertuanya telah tiada.


'Dari mana mereka tahu kalau ibu sudah tiada,' batin Satya.


'Gawat aku bisa dimarahi habis-habisan sama Mama,' batin Satya kembali berucap saat dia mengingat kesalahan yang telah dia lakukan, seharusnya dia memberi kabar sejak awal, bukan malah membiarkan kedua orang tuanya tahu kabar duka itu dari orang lain.


"Mas Satya!" Suara Fatimah terdengar sedikit lebih keras dari biasanya mengejutkan Satya yang sejak tadi sibuk dengan pemikirannya sendiri.


"Eh iya, kenapa?" Sahut Satya gelagapan.


"Kenapa Mas Satya masih ada di sini?" tegur Fatimah yang baru keluar dari kamar mandi dan terlihat sedikit lebih segar dari sebelumnya.


"Kenapa harus menungguku, Mas? Harusnya Mas langsung ke sana jangan menungguku! Kasihan Mama dan Papa harus menunggu kita," suruh Fatimah yang merasa jika apa yang dilakukan oleh suaminya itu bukanlah hal yang benar.


"Sudah kepalang tanggung, cepatlah kita turun bersama!" Satya tidak ingin kalah dengan Fatimah, dia memilih memberi perintah kepada Fatimah daripada terus mendebatnya, sedang Fatimah hanya bisa menghela nafas mencoba memperbesar rasa sabar yang ada dalam hatinya mengingat apa yang baru saja dilakukan oleh Satya sang suami.


Fatimah dan Satya menurut tangga bersama sambil bergandengan tangan, lebih tepatnya Satya menggandeng tangan Fatimah mengajaknya turun ke bawah dan menemui keluarganya.


"Kenapa kamu tidak bilang pada Mama Satya? Dasar anak nakal! Seharusnya kamu bilang pada kami, apa yang sebenarnya terjadi? Bukan seperti ini, kami mendengar berita duka dari orang lain," protes sang Mama dengan nada suara jauh lebih tinggi dari biasanya, mama Nia memprotes putranya sambil berdecak pinggang mencoba memberitahukan jika saat ini dia benar-benar marah.


"Maaf Ma, suasananya sangat kalut dan aku tidak sempat memberitahu kalian karena aku terlalu sibuk untuk mengurus jenazah Ibu Fatimah, dan juga Fatimah yang terlihat begitu drop saat mendengar Ibunya benar-benar telah pergi," jelas Satya yang kini terlihat berusaha untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi kepada sang Mama.

__ADS_1


"Sudah jangan di ributkan lagi! Satya pasti punya alasan yang membuatnya tidak bisa memberi kabar pada kita," sela Papa Satya yang mengerti jika Mama Nia dan Satya di biarkan, keduanya pasti akan terus berdebat tanpa akhir, toh semuanya sudah selesai dan tak perlu di ributkan lagi karena Ibu Halimah tidak akan kembali lagi meski Satya dan Mama Nia terus berdebat.


"Maaf, Fatimah tidak sempat memberi kabar pada kalian," kali ini suara lirih terdengar dari bibir Fatimah.


"Kamu tidak perlu meminta maaf Fatimah! Seharusnya Mama dan Papa juga Kak Satria yang meminta maaf padamu, kami tidak berada di sisimu saat-saat terakhir ibumu," ujar Mama Nia yang tidak ingin melibatkan sang menantu dalam perdebatannya dengan Satya, meski Mama Nia merasa belum puas karena dia belum sepenuhnya menang dari Satya, tapi mama Nia berusaha sebisa mungkin untuk menghilangkan rasa egois yang ada dalam dirinya, karena saat ini Fatimah jauh lebih membutuhkan support dan perhatian darinya.


"Giliran ngomong sama Fatimah aja lembut seperti sutra," lirih Satya saat melihat reaksi Mama Nia yang tidak marah ataupun mendebat ke arahku.


Mama Nia hanya melirik sebentar ke arah Satya, kemudian kembali fokus menatap Fatimah yang kini berada di hadapannya, seolah tidak peduli dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Satya.


"Bersabarlah Fatimah! semua pasti akan indah pada waktunya, kamu harus terus ingat jika saat ini kamu tengah di uji, dan Mama yakin kamu kuat menghadapi ujian itu," ujar Mama Nia sambil merangkul pundaknya, mencoba memberi kekuatan untuk Fatimah agar dia tidak terus-terusan bersedih setelah kematian sang Ibu.


"Terima kasih sudah mendukungku Ma," ujar Fatimah yang kini balik memeluk dirinya.


"Mas Satya, terima kasih," ujar Satya, yang cukup membuat Fatimah mengerti jika Satya yang menemaninya sejak saat pertama kali dia kehilangan sang Ibu.


"Terima kasih untuk apa, Fatimah?" sahut Satya yang merasa jika rasa terima kasih yang di ucapkan oleh Fatimah sedikit aneh untuk di dengar.


"Terima kasih karena Mas sudah ada di sisiku sampai saat ini, terima kasih atas semua kata-kata penguat dan perhatian yang sudah Mas Satya berikan," jelas Fatimah yang membuat senyum lucu kini terbit di wajah Fatimah.


"Semua yang aku lakukan tidak ada apa-apanya, lagi pula aku melakukannya karena kamu istriku, dan menjadi kewajibanku untuk terus berada di sampingmu sampai saat ," ujar Satya.


"Aku beruntung memiliki kalian dalam hidupku," lirih Fatimah memperhatikan setiap hal yang baru saja terjadi dengan tatapan penuh rasa syukur.

__ADS_1


__ADS_2