Tasbih Cinta Fatimah

Tasbih Cinta Fatimah
Satrya Yang Sebenarnya


__ADS_3

'Apa karena alasan itu pula Fatimah menolakku waktu itu?' batin Satya yang kini mulai mengingat setiap kepingan masa lalu yang pernah terlewati.


"Mas Satya!" tegur Fatimah saat melihat Satya hanya diam menatap kosong ke arahnya.


"Iya," sahut Satya, berpura-pura tidak terjadi apapun, dia berusaha bersikap biasa saja meski saat ini hatinya begitu bimbang akan balas dendam yang pernah dia rencanakan, masih pantaskah gadis sebaik dan selembut Fatimah di sakiti? masih pantaskah Satya memperlakukan Fatimah seburuk itu? Satya benar-benar di ambang kebingungan.


"Kenapa Mas Satya melamun?" tanya Fatimah saat melihat Satya masih saja diam seribu bahasa.


"Tidak ada apa-apa," jawab Satya mencoba menyembunyikan apa yang sebenarnya terjadi.


"Benarkah?" sahut Fatimah seolah tidak percaya dengan apa yang sebenarnya terjadi.


"Terserah," Satya yang tidak ingin berdebat memilih untuk menjawab pertanyaan Fatimah dengan satu kata yang tidak mungkin bisa di tanyakan lagi.


Suasana kembali hening, tak ada yang memulai pembicaraan, keduanya terdiam hingga makanan yang mereka pesan datang.


"Apa kamu mau coba punyaku?" tawar Satya sambil mengulurkan sepotong hati sapi yang menjadi lauk untuk menunya saat ini.


Fatimah merasa kaget dengan sikap Satya, dia terdiam mematung memandang Satya yang terlihat menunggu gerakan Fatimah.

__ADS_1


"Kenapa? apa kamu tidak mau makan dari tanganku?" tanya Satya saat melihat Fatimah hanya diam tak bereaksi sedikitpun saat melihat Satya mengulurkan makanan ke hadapannya.


Fatimah tak menjawab ucapan Satya, dia langsung memakan sepotong hati sapi yang di sodorkan ke arahnya saat ini kemudian kembali menikmati makanan miliknya hingga tandas tak tersisa.


"Terima kasih untuk hari ini Mas Satya," ucap Fatimah saat keduanya sudah berada di dalam mobil untuk kembali pulang.


"Terima kasih juga karena sudah membuatkan makan siang untukku" sahut Satya yang saat ini merasa sangat kenyang karena telah menghabiskan dua porsi makanan dalam jangka waktu yang berdekatan.


"Besok Papa sudah kembali, dan aku akan menjemputnya di bandara bersama Mama, jadi, kamu harus ikut bersama denganku!" ujar Satya yang lebih terdengar seperti sebuah perintah yang tidak bisa di tolak oleh Fatimah.


"Baiklah, besok aku pasti akan ikut," jawab Fatimah pasrah.


Mobil kembali melaju hingga tak ada satupun yang berbicara lagi, semuanya diam tak berbicara hingga sampai di rumah Satya.


"Kalian sudah pulang?" tanya Mama Nia sesaat setelah melihat kedua putra-putrinya baru saja pulang dari bekerja.


"Sudah, Ma," jawab Fatimah dan Satya hampir bersamaan, keduanya terlihat begitu bahagia dan harmonis, dan Mama Nia merasa sangat bahagia melihatnya.


"Fatimah!" panggil Mama Nia saat melihat Fatimah berjalan mendekat ke arahnya.

__ADS_1


"Iya, ada apa, Ma?" sahut Fatimah setelah mendengar panggilan dari Fatimah.


"Apa Satya sudah bilang padamu tentang kepulangan Papa besok?" tanya Mama Nia saat melihat Fatimah baru masuk ke dalam ruang keluarga dan teihat hendak pergi menyusul Satya yang lebih dulu pergi.


"Sudah, Ma," jawab Fatimah singkat, dia tidak bisa banyak bicara dengan Mama mertuanya itu, bagaimanapun sang Mama mertuanya tetaplah orang tua, meski terkadang sikapnya malah cenderung seperti seorang teman.


"Bagaimana? Apa kamu mau ikut menjemput Papa?" tanya Mama Nia.


"Tentu saja, aku pasti akan ikut lagi pula sudah lama aku tidak pernah bertemu dengan papa, aku juga belum pernah berkenalan dan mengenal lebih dekat papanya Mas Satya, selama ini aku hanya bisa kenalan dengan Mama saja,"jujur Fatimah yang memang belum pernah berkenalan ataupun mengobrol sedikit lebih lama dengan papanya Satya, selama ini Fatimah hanya bertemu sekali saat di pesta pernikahan, setelah itu dia tidak pernah bertemu lagi dengan papanya Satya, terdengar aneh memang, tapi inilah yang terjadi Fatimah yang memang dijodohkan dengan Satya dan belum pernah mengenal Satya sebelumnya, apalagi keluarganya Satya karena itulah sangat wajar jika Fatimah tidak pernah mengobrol santai bersama sang Papa mertua.


"Kamu benar juga, kalau dipikir-pikir kamu memang belum pernah berkenalan ataupun bertemu secara langsung juga mengobrol santai bersama Papa dan Mama, begitu juga dengan papa dan mama yang memang belum pernah mengenalmu sebelumnya, Satya memang aneh, dia tidak pernah berbicara apapun, dan dia juga tidak pernah membawa gadis manapun setelah dia memiliki hubungan dengan Farah, tapi Satya tiba-tiba saja memberi kabar kepada Mama dan Papa jika dia akan menikah dengan gadis pilihannya, dan kau tahu, saat Papa juga mama menanyakan siapa gadis itu? Satya justru tersenyum dan mengatakan dengan penuh keyakinan jika gadis pilihannya kali ini bukanlah gadis sembarangan dan Satya juga bilang jika gadis yang akan dia nikahi adalah gadis yang baik dan juga tepat untuk hidupnya," Mama Nia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi sebelum pesta pernikahan ataupun kabar pernikahan Satya, ternyata bukan cuma Fatimah yang tidak mengenal keluarga Satya, bahkan mama dan papa Satya juga tidak pernah mengenal Fatimah dan tidak pernah punya kesempatan itu sebelum hari pernikahan.


"Terus bagaimana mama bisa setuju dengan rencana Mas Satya untuk menikah dengan gadis yang belum pernah mengenal atau bahkan bertemu dengan mama sebelumnya? " Tanya Fatimah yang kini berjalan mendekati ke arah mama dan mengurungkan niat yang tadi akan pergi ke kamar, kini Fatimah memilih duduk di samping sang mama dan mendengarkan apa saja yang terjadi sebelum pesta pernikahan.


"Satya itu adalah laki-laki yang memiliki pendirian dan juga tanggung jawab atas segala keputusan yang dia ambil, dia tidak pernah ingkar akan janji ataupun lalai dalam tanggung jawabnya juga Satya tidak pernah berbohong, dia selalu mengatakan apa yang menurutnya benar, selama ini Satya tidak pernah mengecewakan mama dan papa, karena alasan itulah mama dan papa percaya jika gadis yang dipilih saat ya bukanlah gadis sembarangan, mama dan papa yakin jika gadis yang akan dinikahi oleh Satya adalah gadis yang paling baik dan paling tepat untuk mendampinginya," Mama mania menjelaskan semua yang menurutnya benar, dan memang itulah yang sebenarnya terjadi.


Mendengar penjelasan Mama Nia membuat Fatimah berpikir jika penilaiannya terhadap Satya selama ini bukanlah penilaian yang baik rumah yakin jika Satya memang jodoh yang terbaik yang disiapkan Tuhan untuknya.


"Hey! kenapa melamun? apa ada kata-kata Mama yang kurang bisa kamu terima? atau kata-kataku ada yang menyakitimu?" tanya Mama Nia saat melihat Fatimah kembali diam tanpa kata dengan tangan yang menempel di pipi Fatimah yang terlihat berharap

__ADS_1


__ADS_2