
"Apa? Fatimah dijemput super pribadi keluarganya dan sekarang tidak ada di rumah?" Satya mencoba memastikan apa yang baru saja dia dengar.
"Iya, Den," sahut Bik Mina memberi kebenaran atas apa yang telah dia katakan.
Tut ....
Sambungan telepon tiba-tiba dimatikan oleh Satya, dan Bik Mina yang sudah terbiasa dengan kebiasaan Satya hanya diam tanpa melakukan protes ataupun terkejut dengan apa yang baru saja dilakukan olehnya.
"Bagaimana respon Satya, Bik?" tanya Mama Nia yang merasa penasaran dengan responnya akan diberikan oleh anaknya ketika mendengar istri yang dicintai tidak ada di rumah dan menghilang tanpa jejak.
"Den Satya tidak menjawab apapun dia justru langsung mematikan sambungan telepon yang sedang berlangsung, nyonya," jawab Bik Mina jujur.
Mama Nia tak menguruskan atau menyahuti jawaban yang di berikan oleh Bik Mina, dia justru ikutan pergi tanpa mengatakan sepatah katapun kepada Bik Mina.
'ibu sama anak sama saja,' batin Bik Mina saat melihat sikap Mama Nia yang ikut-ikutan pergi tanpa kata.
Mama Nia memang merasa khawatir dengan apa yang terjadi dengan Fatimah, tapi setelah dia tahu jika Satya sudah mendengar kabar jika Fatimah menghilang dari rumah membuat hati Mama Nia sedikit merasa lega karena dia yakin jika putranya itu bisa menemukan di mana Fatimah berada.
Jika Mama Nia berjalan kembali masuk ke dalam kamar. Maka berbeda halnya dengan Satya yang kini langsung berdiri keluar dari kantor tanpa memberi kabar kepada siapapun sekalipun itu asisten pribadinya, tak ada yang dipikirkan lagi oleh Satya selain Fatimah yang kini ada di kepalanya, mengingat betapa jahat dan liciknya Bibik Husna membuat Satya meninggalkan semuanya demi memastikan jika Fatimah sang istri aman setelah Satya mendengar penuturan Bik Mina yang mengatakan jika Fatimah mendapat kunjungan dari sang sopir pribadi keluarganya, Satya yakin jika saat ini Fatimah berada di rumahnya..
__ADS_1
"Di mana Fatimah?" tanya Satya saat melihat Bik Husna duduk dan bersantai di teras rumah ditemani dua toples biskuit dan secangkir teh hangat yang terlihat ada di atas meja sedang menemani santainya.
"Di sini tidak ada Fatimah, lagi pula kamu baru saja datang dan langsung menanyakan keberadaan Fatimah padaku, dasar tidak punya sopan santun," sahut Bik Husna yang memang merasa jika Satya saat ini tidak menghargai dirinya karena ketika suami dari keponakannya itu datang tidak memberi salam atau apapun pertanyaan tentang kabar Bik Husna dia malah menanyakan keberadaan Fatimah yang memang tidak ada di rumah itu.
"Aku tidak pernah punya banyak waktu untuk orang sepertimu, aku tidak peduli sekalipun kamu Bibik dari istriku karena kamu tidak pantas menjadi seorang bibi tapi kamu lebih pantas menjadi seorang musuh yang selalu menyerang orang-orang di dekatmu," sahut Satya yang memang tidak menyukai Bik Husna, semua itu dia rasakan bukan tanpa alasan, Satya memang tidak menyukai bi Husna karena dia sudah mengetahui sifat buruk dari sang Bibik dan rencana buruk yang sudah disiapkan untuk Fatimah dan sang ibu.
"Jika kamu tidak bersikap sopan maka aku tidak akan pernah katakan di mana keponakanku itu sedang berada saat ini," ujar Bik Husna penuh percaya diri, dia sangat yakin jika Satya pasti akan jauh lebih sopan saat dia mengancamnya seperti sekarang.
"Tidak perlu memberitahuku, aku pasti akan menemukan di mana Fatimah berada tanpa kamu beritahu," tegas Satya yang langsung berdiri meninggalkan Husna yang justru kini tengah menatap kepergian saat dia dengan senyum remeh yang tampak terlihat jelas di wajahnya
"Cari saja sendiri!" gumam Bik Husna yang terus saja menatap ke arah Satya dengan tatapan remeh, Bik Husna terlihat begitu lega saat melihat Satya kebingungan mencari istrinya.
"Jalan!" Perintah Satya sesaat setelah dia masuk ke dalam mobil tanpa menoleh ke arah Bik Husna, Satya meninggalkan rumah Ibu mertuanya.
"Menepilah dulu!" Satya tidak menjawab pertanyaan Pak Santo tapi dia memberi perintah agar Pak Santo berhenti di tepi jalan.
"Baik, Tuan," jawab sang sabar yang langsung menampilkan mobilnya di tepi jalan sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Satya.
Satya memang tidak mengharapkan sebuah petunjuk ataupun jawaban dari Bik Husna tentang di mana istrinya berada, tapi Satya masih memiliki satu mata-mata yang sengaja dia letakkan di keluarga Fatimah yaitu sopir pribadi keluarga Fatimah yang tadi pagi menjemputnya, Satya terlalu panik dan khawatir saat mendengar istrinya pergi dari rumah dan tidak ada di sana, hingga dia lupa jika sopir pribadi keluarga Fatimah yang tak lain Pak Yusuf adalah mata-mata yang sengaja dipekerjakan di rumah Fatimah, Bik Husna dulu pernah mencari seorang sopir pribadi dan Satya yang memang punya rencana untuk balas dendam pada Fatimah merekomendasikan Pak Yusuf agar dia menjadi sopir pribadi keluarga Fatimah karena itulah Satya bisa meminta informasi apapun pada Pak Yusuf dan dia pasti mendapatkan informasi seakurat mungkin.
__ADS_1
Tut ... Tut ....
Tak membutuhkan waktu lama nada sambung telepon Satya diangkat oleh pak Yusuf, sejak dulu pak Yusuf memang selalu cepat tanggap setiap kali Satya menghubunginya atau membutuhkan bantuan darinya.
"Ada apa, Tuan Satya?" sahut Pak Yusuf yang langsung menanyakan kenapa Satya tiba-tiba menelponnya.
Satya yang memang terkenal dingin dan jarang basa-basi membuat Pak Yusuf mengerti dan sangat memahami sikapnya, karena itulah Pak Yusuf langsung mempertanyakan maksud dari yang tiba-tiba Satya meneleponnya.
"Apa Fatimah masih bersamamu?" tanya Satya tanpa basa-basi.
"Tidak, Tuan," jawab Pak Yusuf.
"Bukankah tadi kamu yang menjemput Fatimah di rumah, kenapa sekarang dia bisa tidak bersamamu saat ini?" Sahut Satya.
"Maksud saya Nona Fatimah sedang berada di ruangan Ibu Halimah," Pak Yusuf kembali mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan di mana Fatimah berada.
"Ruangan Ibu Halimah, apa saat ini kamu berada di rumah sakit?" Satya mencoba menebak di mana Fatimah berada setelah mendengar jawaban dari Pak Yusuf.
"Iya, Tuan, Ibu Halimah drop semalam dan saat ini keadaannya kritis, beliau masih belum siuman," Satya kembali menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan alasan dirinya tiba-tiba menjemput Fatimah tadi pagi.
__ADS_1
"Kasih tahu aku di mana lokasimu! Sherlock sekarang!" Tanpa panjang lebar saat dia langsung menyuruh pak Yusuf untuk memberitahu di mana letak rumah sakit ibu Halimah dirawat dan memberitahukan di ruangan apa Ibu Halimah sedang di rawat.
"Jalan sekarang!" Satya kembali memberi perintah setelah dia tahu ke mana dia akan pergi dan di mana dia bisa menemukan Fatimah, itu juga dengan Pak Santo yang langsung melajukan mobilnya kembali berjalan di jalan raya menuju rumah sakit yang sudah diberitahukan oleh Satya.