
Entah keberanian dari mana, Fatimah yang sebenarnya lemah lembut penuh dengan rasa takut kini merasa semakin bersemangat untuk bangkit dan merebut kembali apa yang seharusnya menjadi miliki Fatimah.
"Mas," lirih Fatimah sesaat setelah dia keluar dari kamar sang Ibu.
"Iya, kenapa?" sahut Satya berjalan ke arah Fatimah yang berdiri di hadapan Satya.
"Apa mereka sudah pergi?" tanya Fatimah sambil menoleh ke arah Satya dengan tatapan sendu.
"Sudah, duduklah dulu!" sahut Satya merasa tidak tega melihat Fatimah seperti saat ini.
Mendengar perintah Satya yang sedang duduk di ruang tamu membuat Fatimah sadar jika saat ini dia memiliki Satya yang pasti akan menjaga dan membantunya.
"Fatimah, Bik Husna hanya menjual rumah ini saja, tidak dengan prabotan yang ada di dalamnya, bagaimana kalau seluruh perabotan yang ada di rumah ini kita bawa dan kita letakkan di rumah yang akan kita tempati nanti," usul Satya.
Tadi dia sempat menanyakan masalah prabotan rumah yang memang tergolong mewah, akan semakin rugi jika Fatimah tidak membawanya pergi.
"Aku tidak punya maksud apa-apa, aku mengatakan rencana ini karena aku mengerti dengan apa yang kamu fikirkan, aku hanya tidak ingin kamu kehilangan seluruh kenangan dengan Ibumu, meski kita masih belum bisa merebut rumah ini, setidaknya kita bisa mempertahankan apa yang bisa kita pertahankan," ujar Satya yang cukup membuat Fatimah mengerti dengan apa yang baru saja terjadi juga maksud dari ucapan Satya.
"Kamu benar Mas, aku akan ikut apapun keputusanmu, karena aku yakin semua yang kamu lakukan merupakan yang terbaik untukku," sahut Fatimah yang terlihat masih terkejut dengan apa yang baru saja terjadi, dia tetap diam menatap lurus kedepan dengan tatapan kosong, dan Satya yang melihatnya langsung meraih kepala Fatimah kemudian meletakkannya di pundak, perlahan tapi pasti Satya meraih pinggang Fatimah mencoba memeluknya, memberi kehangatan dan cinta juga kasih sayang yang dia punya.
Bibir Satya terbungkam tak bisa berbicara apa gapapa, meski sebenarnya di dalam hati Satya ingin mengatakan banyak hal pada Fatimah saat ini, ingin rasanya dia berkata jika saat ini Satya ada di sampingnya dan Fatimah tidak perlu bersedih, tapi entah mengapa bibir Satya seolah bungkam tanpa kata.
"Nona, Tuan, kami sudah membereskan semua barang-barang, sama seperti yang Tuan perintahkan," suara Bibik mengalihkan pandangan Satya dan Fatimah yang sedang duduk di sofa ruang keluarga.
__ADS_1
"Fatimah, aku berencana memperkerjakan mereka di rumah baru kita nanti, apa kamu menyetujuinya?" tawar Satya yang merasa kasihan dengan para pekerja yang ada di rumah Ibu Halimah.
Mendengar tawaran Satya cukup membuat Fatimah merasa senang dan bahagia, Satya yang sejak awal bertemu selalu dingin dang acuh, kini mulai terlihat sedikit perhatian dan Fatimah merasa senang karenanya.
"Tentu saja, mereka sudah cukup lama menemani Ibu, dan aku pasti akan merasa senang jika kamu mau memperkerjakan mereka di rumah," jawab Fatimah yang langsung merasa lega dengan apa yang baru saja di tanyakan oleh Satya.
"Bik, kumpulkan semua pekerja yang bekerja di sini! aku ingin berbicara langsung pada mereka!" perintah Satria yang langsung di turuti oleh Bibik.
"Baik, Tuan," jawab sang Bibik tegas dan cepat.
"Mas memangnya kita punya rumah?" Tanya Fatimah yang tidak tahu jika Satya memang memiliki rumah yang masih di renovasi saat keduanya menikah, rencananya Satya akan memberitahukan Fatimah jika rumah yang akan mereka tempati nanti sudah selesai saat keduanya semakin dekat dan bisa menerima satu sama lain, Satya rencana memulai semuanya dari awal ketika keduanya sudah pindah di rumah baru itu, tapi rencana Satya tidak berjalan sesuai dengan keinginannya, karena itulah saja merubah niatnya untuk mengajak Fatimah pulang suatu saat nanti ke rumah barunya itu, melihat kondisi dan situasi saat ini membuat Satya berpikir keras dan memutuskan untuk mengajak Fatimah pindah sekarang juga, mengingat jika saat ini Fatimah sudah tidak memiliki rumah yang bisa dituju.
Asisten rumah tangga Ibu Halimah hanya membutuhkan waktu lima menit untuk mengumpulkan seluruh pekerja yang ada di rumah itu, dan ternyata ibu Halimah hanya memperkerjakan tida orang yang terlihat memiliki kejujuran meski setia baru mengenalnya.
"Perkenalkan diri kalian!" titah Satya, dia memang tahu dengan mereka, seperti siapa mereka dan apa tugas mereka? Tapi hati tidak mengenal secara langsung atau secara resmi ketiga bekerja yang ada rumah Ibu Halimah itu.
"Dan saya Salman, tukang kebun yang ada di sini" sahut Pak Salman yang jual sosis di samping sama asisten rumah tangga yang berada di tengah.
"Dan saya Bik murni," kali ini saya asisten rumah tangga memperkenalkan diri kepada Satya dan Fatimah.
"Sebenarnya saya mengumpulkan kalian di sini karena ada sesuatu yang ingin saya sampaikan, rumah ini telah di jual tanpa sepengetahuan Fatimah yang seharusnya menjadi ahli waris dari Ibu Halimah, dan saya mengumpulkan kalian untuk menawarkan pekerjaan di tempat baru, yaitu di rumah kami, apa kalian setuju?" tanya Satya dengan ekspresi wajah serius yang kini terlihat di wajahnya.
Semua pekerja yang ada di rumah Fatimah terdiam mendengar penjelasan sekaligus pertanyaan Satya, ketiganya saling pandang merasa terkejut dengan apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
"Aku hanya menawari kalian pekerjaan sekali saja, jika kalian tidak bersedia, kalian bisa pergi dan aku akan membayar sisa gaji kalian beserta pesangonnya," Satya yang kurang suka menunggu kembali mengutarakan sebuah pertanyaan kepada ketiga pekerja yang berdiri di hadapan Satya saat ini.
"Tidak Tuan, aku ikut bersama kalian," spontan Bik Murni yang di ikuti Pak Yusuf dan Pak Salman, ketiganya langsung menyetujui tawaran Satya karena merasa jika bekerja dengan keluarga Fatimah terasa nyaman, selain ramah keluarga Fatimah juga baik, dan mereka percaya jika mereka akan merasakan itu juga jika bekerja dengan Fatimah.
"Baiklah, jika memang itu keputusan kalian masukkan semua barang-barang kalian ke mobil dan minta Pak Yusuf untuk menyupir mengikuti mobil saya dan Fatimah!" Titah Satya.
"Baik, Tuan," jawab ketigannya hampir berbarengan.
"Mas Satya mau membawa mereka ke apartemen?" Tanya Fatimah dengan ekspresi wajah polos dia terlihat begitu bingung dengan apa yang baru saja diperintahkan oleh Fatimah, pasalnya apartemen yang di tinggali Fatimah dan Satya tergolong tidak begitu luas meskipun jika dibandingkan dengan apartemen lain milik Satya jauh lebih besar tetapi tidak akan muat jika semua pekerja yang baru saja diperintahkan oleh Satya ikut bersama mereka dan tinggal di apartemen.
"Kita akan pulang ke rumah bukan ke apartemen," jawab Satya.
Fatimah kembali terdiam dengan ekspresi wajah semakin bingung mendengar jawaban dari Satya, ada begitu banyak pertanyaan yang tidak bisa diungkapkan dan Fatimah hanya bisa diam selain mengikuti langkah kaki Satya yang kini berjalan keluar dari rumah.
"Mas, tunggu!" Cegah Fatimah sambil memegang lengan saatnya dia mencoba menghentikan langkah kaki Satya, meski telah berusaha sekuat tenaga tapi tetap saja Fatimah tidak bisa menahan rasa penasaran yang terus saja mendesak di dalam dirinya.
"Kenapa? Apa ada masalah?" Sahut setia seraya melihat dekat ke arah Fatimah yang kini menatapnya dengan ekspresi wajah bingung.
"Rumah siapa yang Mas Satya maksud? Apa rumah mama?" Fatimah kembali bertanya meminta penjelasan sejelas-jelasnya kepada Satya yang memang tidak menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Rumah kita, jangan banyak bertanya dan lihat saja nanti kamu juga akan tahu, yang harus kamu tahu saat ini hanya satu pergi dan ikuti aku kita akan pergi ke rumah yang nantinya akan menjadi rumah kita berdua," jawab Satya berharap Fatimah bisa mengerti dengan apa yang baru saja dia jelaskan.
"Apa itu artinya kita tidak tinggal di apartemen lagi?" Fatimah kembali bertanya mencoba menuntaskan segala rasa penasaran dan kebingungan yang masih tersisa di dalam hatinya.
__ADS_1
"Tidak, semua barang-barangmu dan barangku sudah dipindahkan ke rumah, lagi pula apartemen itu juga akan aku sewakan, jadi jangan banyak bertanya lagi lebih baik sekarang kamu ikuti saja langkahku dan kita kembali pulang kemudian memikirkan apa yang harus kita lakukan setelah ini," ujar Satya merasa sedikit jengkel dengan pertanyaan-pertanyaan yang selalu keluar dari bibir Fatimah, sebuah pertanyaan yang sebenarnya sudah di jawab oleh Satya tapi Fatimah tidak juga mengerti dengan jawaban yang diberikan oleh Satya.
Dan sebagai seorang istri yang baik Fatimah tak lagi bertanya ataupun berbicara dia hanya mengikuti langkah Satya keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobil yang sama dengan Satya, di mana Satya Yang menyupir untuk mengikutinya pergi ke rumah yang tadi dimaksud oleh Satya.