
"Amin," sahut Fatimah dengan hati tulus penuh harap dia mengamini setiap do'a baik yang di ucapkan oleh sang Bibik dan Ibunda, meski jauh di dalam hatinya terselip rasa kecewa karena tak bisa bertemu dan mengetahui bagaimana calon suaminya, tapi Fatimah tetap berlapang dada mencoba menerima semuanya dengan penuh keikhlasan.
Seperti biasa Fatimah akan menemani sang Ibu denfan penuh ketelatenan dan kasih sayang, tanpa ada rasa jijik ataupun lelah?, Fatimah selalu berada di samping sang Ibu, Fatimah hanya pergi saat membeli makaj tau mengambil baju ganti.
"Nak, besok Ibu akan pulang." Tutur Ibu yang cukup membuat Fatimah merasa begitu bahagia, akhirnya sang Ibu bisa pulang, itu artinya dia bisa bersama dengan Sang Ibu menghabiskan waktu bersamanya di rumah.
"Bebarkah? apa itu artinya Ibu sudah sembuh?" sahut Fatimah dengan wajah penuh binar rasa bahagia dia berucap.
"Iya, Ibu sudah sembuh, dan akan semaskin sehat saat kau menikah nanti," sahut Ibu Halimah yang membuat kebahagiaan juga binar bahagia di mata Fatimah.
"Kamu kenapa, Nak? apa kamu tidak bahagia dengan perjodohan ini?" selidik Ibu Halimah yang melihat perubahan ekspresi Fatimah.
"Tidak Ibu, aku hanya merasa waktu berjalan begitu cepat, tanpa terasa pernikahan yang di rencanakan tinggal menunggu hari, aku merasa waktuku bersama Ibu begitu singkat, apa lagi empat hari ke depan aku sudah harus pergi dari rumah Ibu mengikuti suamiku," jujur Fatimah, tanpa terasa air mata mulai menetes membasahi pipi, menandakan jika sang empu sedang merasa sedih dan apa yang terjadi pada Fatimah juga di rasakan oleh Ibu Halimah, sebenarnya dia juga berat melepas putri kesayangannya itu saat ini, tapi setiap kali dia mengingat jika penyakit yang dia derita tak ada obatnya, dan umur yang dia punya tidam akam lama lagi, Ibu Halimah merasa jika ini adalah keputusan yang tepat, meski dia tahu jika umur sudah ada yang mengatur, tetap saja Ibu Halimah merasa khawatir akan vonis dokter.
Kemarin saat Fatimah pergi ke kantin, Dokter yang biasa mengecek keadaan Ibu Halimah datang, di temani Bik Husna, Ibu Fatimah meminta izin untuk pulang, meski pada awalnya terjadi perdebatan karena sang dokter melarang Ibu Halimah pergi, tapi pada akhirnya sanh dokter menyerah setelah Ibu Halimah mengatakan jika dia ingin berada di rumah saat-saat terakhir seperti ini, toh penyakitnya sudah parah dan teramat sulit untuk di sembuhkan, Ibu Halimah juga sengaja berbohong pada Fatimah tentang keadaannya, berharap Fatimah bisa mengerti dan tidak merasa sedih saat ini, biarlah Ibu Halimah pemdam sendiri rasa sakit itu, dia tidak ingin Fatimah tahu.
"Sudah jangan sedih! kamu masih bisa berkunjung setiap hari dan menemui Ibu di rumah, lagi pula jarak antara rumah kita dan rumah suamimu tidak terlalu jauh, kamu masih busa datang sendiri tanpa di temani suamimu itu," Ibu Halimah mencoba menenangkan hati puterinya yang dia tahu sedang tidak baik-baik saja.
Fatimah tak lagi menyahuti ucapan sang Ibu, dia langsung memeluknya erat, ada desir rasa senang bercampur sedih saat ini.
__ADS_1
"Ada apa ini? kenapa kalian berpelukan tanpa mengajakku?" suara Bik Husna terdengar dari balik pintu, dia baru saja masuk setelah berpamitan pergi ke luar ruangan menuju kantin untuk mencari makan.
"Tidak ada apa-apa, Bik," sahut Fatimah yang langsung melepas pelukannya setelah melihat sang Bibik datang dan ikut bergabung dengannya.
"Oh, Bibik kira ada apa?" sahut Bik Husna yang kini berjalan mendekat ke arah Fatimah dan Ibunya.
"Oh ya, Mbak, besok kita jadi pulang?" tanya Bik Husna dengan ekspresi wajah penasaran.
"Iya, aku ingin di rumah saja, capek dan bosen ada di rumah sakit ini terus," jawab Ibu Halimah dengan senyum sumringah yang tampak jelas di wajahnya.
"Apa Mbak sudah yakin dengan keputusan Mbak?" Bik Husna kembali bertanya mengingat resiko yang sempat di jelaskan oleh Dokter yang menanganinya.
"Mbak benar juga, tapi swbagai manusia kita harus berusaha!" sahut Bik Husna.
"Sekarang aku sedang berusaha Husna, dan kau tahu dengan pasti hasil dari usahaku ini," ujar Ibu Halimah, apa yang di katakannya memang benar, meski Ibu Halimah sudah berobat dan berada di rumah sakit berhari-hari tak ada perubahan dan tak ada kemajuan semua tetap sama dan hasilnya juga sama.
"Kalian ngomongin apa sih? aku kok nggak ngerti," sela Fatimah yang sejak tadi hanya bisa diam mendengar percakapan kedua orang terpenting dalam hidupnya.
"Bukan apa-apa, lebih baik kamu bereskan barang yang akan kita bawa pulang besok!" sahut Ibu Halimah yang tak ingin menambahi beban fikiran Fatimah, sedang Fatimah yang memang pemurut hanya bisa mengikuti apa yang Ibunda dan Bibiknya katakan, dia mulai memberwskan semua barang yang akan dia bawa besok dan mulai menyiapkan diri untuk melaksanakan sholat yang sebentar lagi akan dia laksanakan.
__ADS_1
*******
"Kamu masih sama seperti dulu, paras wajahmu malah bertambah cantik, dan sebentar lagi aku pasti bisa memilikimu seutuhnya," lirih Satya sambil menatap lekat ke arah foto Fatimah yang dulu pernah dia miliki.
"Tapi kecantikanmu tak akan pernah bisa menghapus luka yang pernah kau torehkan, rasa sakit ini masih sama seperti dulu, saat kau menolakku," sambung Satya yang kini terlihat masih menatap lekat ke arah foto Fatimah.
Satya memang pernah mencintai Fatimah, rasa cinta yang begitu dalam, tapi rasa cinta itu kini sirna berubah menjadi benci, rasa benci yang berujung dendam, Satya ingin menjerat Fatimah dalam sebuah ikatan yang akan membuatnya tersiksa, bahkan siksaan itu akan dia rasakan seumur hidupnya.
"Tunggu tanggal mainnya Fatimah, kamu akan merasakan apa yang dulu pernah aku rasakan, kamu akan tahu bagaimana rasanya di tolak dan di acuhkan seperti diriku dahulu," Satya terus bergumam sambil mengingat kejadian di masa lalu, kejadian yang tak mampu dia lupakan hingga saat ini, kejadian yang mendorongnya menikahi Fatimah.
"Permisi, Tuan," suara asisten Satya terdengar mengejutkannya.
"Iya, ada apa?" sahut Satya.
"Ada tamu dari pihak Weding organizer ingin bertemu dengan Tuan," jawab sang asisten.
"Suruh dia masuk!" titah Satya yang langsung di turuti oleh sang asisten.
"Baik, Tuan," sahut asisten Satya.
__ADS_1