
Fatimah merasa begitu malu dengan apa yang baru saja terjadi, pipinya memerah seperti buah ceri yang siap untuk dipanen, tanpa banyak bicara lagi Fatimah memilih berlari menghindar dan masuk ke kamar mandi. Bersandar di balik pintu sambil memegang dadanya merasakan deguk jantung yang begitu cepat menjadi pilihan Fatimah saat ini dia tidak tahu harus bagaimana menjelaskan apa yang dia rasakan kepada Satya, mungkin benar Fatimah takut kehilangan Satya dan dia juga takut dibohongi oleh Satya, tapi tidak seharusnya dia mengatakan hal seperti itu kepada Satya apalagi jika dia mencurigai Satya yang mungkin saja tidak berbohong padanya.
"Sayang, aku mau berangkat kenapa kamu malah sembunyi di balik pintu kamar mandi?" Suara Satya kembali terdengar sambil mengetuk pintu kamar mandi membuat Fatimah semakin kebingungan.
"Sayang, kamu ngapain di dalam?" Sekali lagi Satya mencoba berbicara dengan Fatimah.
"Tunggu sebentar, Mas!" Sahut Fatimah yang kini mencoba menenangkan hati dan jantungnya yang tengah berdegup kencang agar dia terlihat terlalu gugup.
"Kenapa, Mas?" Tanya Fatimah berpura-pura seolah tidak terjadi apapun dan apa yang terjadi barusan telah dia lupakan.
"Bersiaplah!"bukannya menjawab pertanyaan Fatimah, Satya justru memberinya perintah yang semakin membuat Fatimah bingung.
"Bersiap ke mana?" Sahut Fatimah dengan sebuah pertanyaan yang kini muncul di benaknya.
"Ikutlah denganku!" Jelas Satya.
__ADS_1
"Ikut ke mana?" Fatimah kembali bertanya, dalam banyaknya saat ini terbesit sebuah pertanyaan yang tiba-tiba muncul dalam pikirannya.
"Jangan banyak bertanya! Lebih baik sekarang kamu bersiap-siap dan aku tunggu kamu di garasi!" Satya yang memang tidak memiliki banyak waktu untuk terus berbincang ataupun menjelaskan kepada Fatimah ke mana mereka akan pergi memilih untuk memberi perintah kepada Fatimah agar dia setelah bersiap dan menemuinya di garasi.
"Baiklah," jawab Fatimah yang langsung berjalan menuju ruang ganti di mana Satya telah menyiapkannya di dalam kamar itu.
Satya sangat mengerti dengan apa yang dirasakan oleh Fatimah, karena itulah dia memutuskan untuk mengajak Fatimah menemui klien yang tengah menunggunya di sebuah restoran di mana sang asisten telah berada di sana, pertemuan kali ini memang sangat penting tapi Fatimah juga hal yang penting yang tidak mungkin bisa ditinggalkan ataupun diabaikan begitu saja, karena itulah Satya memutuskan untuk mengajaknya pergi dan Satya berencana untuk meminta Fatimah duduk di tempat yang sedikit lebih jauh darinya dan melihat apa yang dikerjakan suaminya itu agar tak ada lagi rasa curiga ataupun cemburu yang mungkin saja ini bersarang di benak Fatimah.
"Ternyata memiliki pasangan hidup tak semudah yang aku bayangkan, meski rasanya sangat menyenangkan dan membahagiakan tapi tetap saja ada keribetan yang tak mungkin bisa aku abaikan begitu saja," gumam Satya menerawang ke depan mengingat apa yang baru saja terjadi, meski rasanya sangat ribet tapi Satya tetap bahagia karena memiliki istri secantik dan sebaik Fatimah, dia berharap hubungannya dengan Fatimah semakin dekat dan dia juga berharap kalau dia akan segera dikaruniai seorang bayi.
"Aku akan berusaha lebih keras lagi, agar Fatimah bisa memberikan harta kepadaku dengan penuh cinta dan sukarela, aku harus merencanakan sesuatu untuk nanti malam, Yang penting nanti malam harus bisa jalan-jalan ke gua itu," Satya terus aja berkumam mencoba memikirkan rencana yang akan dia lakukan nanti malam agar dia bisa mendapatkan seorang bayi dan memiliki keluarga yang sempurna.
"Kenapa Mas Satya senyum-senyum sendiri seperti itu?" Tanya Fatimah yang baru saja masuk ke dalam mobil dan melihat sang suami sedang tersenyum sendiri tanpa sebab karena sejak tadi Satya berada di dalam mobil sendirian.
"Astaga, sejak kapan kamu ada di sini, Sayang?" Sahut Satya dengan ekspresi terkejut melihat keberadaan Fatimah yang kini duduk anteng di sampingnya, entah sejak kapan Fatimah sudah duduk di sana? Satya tidak tahu karena dia sedang sibuk memikirkan apa yang akan dia lakukan nanti malam.
__ADS_1
"Aku baru saja masuk ke sini, Mas, dan aku terkejut melihatmu tersenyum sendiri tanpa sebab, apa Mas Satya baik-baik saja?" Jawab Fatimah yang kemudian kembali bertanya kepada Satya.
"Khem," Satya yang sebenarnya merasa malu atas apa yang baru saja terjadi mencoba mengalihkan rasa malu itu dengan berdahan dan tak menjawab pertanyaan Fatimah, dia memilih untuk melajukan mobilnya dan mulai berangkat menuju restoran yang sudah ditetapkan untuk pertemuannya bersama klien, dan di sepanjang perjalanan Satya hanya diam tanpa sepatah kata dia terus aja fokus menatap jalan tanpa berbicara atau bahkan menoleh ke arah Fatimah, sungguh rasanya sangat memalukan membayangkan sesuatu yang akan terjadi nanti malam sambil tersenyum dan dipergoki oleh istri tercinta, karena itulah Satya memilih diam hingga dia sampai di tempat tujuan.
"Turunlah!" Kata pertama yang keluar dari bibir Satya yang kini mengulurkan tangan setelah membuka pintu mobil untuk Fatimah yang justru terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Satya.
'Mas Satya benar-benar berubah, aku seolah tidak mengenalinya lagi, dia yang dulu begitu dingin hemat berbicara dan acuh tak acuh kepadaku kini berubah seratus delapan puluh derajat, ya Tuhan semoga saja perubahan Mas Satya ini benar-benar tulus dari dalam hatinya, dan sikapnya ini akan terus seperti ini hingga nanti ajal yang memisahkan kita,' kali ini batin Fatimah mencoba mengungkapkan harapannya dan berdoa agar apa yang diharapkan menjadi kenyataan.
"Ayo turun, Sayang!" Suara Satya mengejutkan Fatimah yang kini bergantian melamun.
"Terima kasih, Mas," ucap Fatimah sambil tersenyum manis ke arah Satya yang juga ikut tersenyum padanya, keduanya terlihat berbunga-bunga, ada benih-benih cinta yang mulai tumbuh dan berkembang dalam hati keduanya, yang membuat keduanya terlihat begitu romantis dan harmonis hingga siapapun akan iri ketika melihatnya.
"Aku akan berbicara serius dengan klienku di meja sebelah sana," terang satyasraya menunjuk ke arah meja yang berada tidak jauh dari tempat keduanya duduk saat ini.
"Dan aku akan memesankan beberapa makanan untukmu, karena itulah tunggu aku di sini dan jangan kemana-mana!" Sambung Satya memberi perintah kepada Fatimah dan kemudian berjalan pergi meninggalkan Fatimah menuju tempat duduk yang tadi dia tunjukkan di mana sang asisten sudah menunggunya bersama klien yang akan berbicara dengannya.
__ADS_1
'Huh, aku pikir tadi mau diajak makan romantis, tapi ternyata hanya disuruh nunggu dia yang lagi berbicara dengan kliennya, dasar Mas Satya seperti roller coaster, sudah dijunjung setinggi langit dihempaskan ke bumi begitu saja,' kali ini batin Fatimah mengeluh dengan apa yang sudah dilakukan oleh Satya, sungguh laki-laki yang tidak bisa ditebak apa maunya.