Tasbih Cinta Fatimah

Tasbih Cinta Fatimah
Acara Pernikahan Fatimah


__ADS_3

Hari yang sebenarnya tak pernah di tunggu oleh Fatimah kini tiba, pernikahan yang tak pernah di inginkan ataupun di harapkan kini tetap harus di jalani oleh Fatimah.


Gaun putih khas gaun pengantin kini sudah melekat dalam diri Fatimah, dia terlihat begitu anggun dan cantik, bahkan seribu kali lebih cantik dari biasanya, bagaimana tidak cantik? Arisan pengantin yang menempel di wajahnya semakin membuat Fatimah terlihat begitu berbeda.


Jika Fatimah tak merasakan hal yang spesial, maka jauh berbeda dengan Satya yang kini sedang bersiap untuk berangkat ke rumah Fatimah, jantungnya berdegub begitu kencang, meski pernikahan ini memiliki unsur dendam, tetap saja rasanya begitu mendebarkan, Fatimah yang pernah menjadi ratu dalam hidup Satya kini akan menjadi istrinya, benci dan cinta memang sangat tipis perbedaannya, keduanya memiliki jarak yang begitu dekat hingga Satya tak bisa membedakannya.


"Apa semuanya sudah siap?" tanya Mama Satya, meski pernikahan ini di dasari dengan dendam, tapi kedua orang tua Satya tidak pernah tahu itu, yang dia tahu hanya mengikuti keinginan Satya putera yang paling di sayang dalam keluarga nya.


"Sudah, Ma," Jawab Satya sambil menampakkan binar kebahagiaan yang terpancar jelas di wajahnya.


"Jika semua sudah siap ayo berangkat!" ajak Mama Satya.


Keduanya berjalan beriringan dengan langkah yang pasti.


"Wah gak nyangka gue, ternyata Loe punya gebetan juga, mana langsung nikah lagi, salut gue," puji Satria yang merupakan Adik kandung Satya.


"Diem Loe!" sahut Satya,


"Gue penasaran gadis seperti apa yang bisa bikin gunung es jarak Loe tiba-tiba mau menikah," Satria terus saja mengoceh tanpa memperdulikan reaksi Satya yang merasa jengah dengan adik kecilnya itu.


Satya tak menggubris ucapan Satria yang slalu saja menimbulkan perdebatan di antara keduanya, bagaimanapun hari ini adalah hari yang sudah dia tunggu-tunggu sejak lama, Fatimah yang dia anggap sombong itu akan menjadi istrinya.


Mobil iring-iringan pengantin sudah berangkat melewati jalan raya yang terlihat lengang, hari ini adalah hari minggu, di mana mungkin kebanyakan orang menghabiskan waktu bersama keluarga di rumah, atau pergi berlibur di tempat wisata.

__ADS_1


"Fatimah," suara Ibu Halimah terdengar begitu lembut menyapa telinga Fatimah yang saat ini sedang menatap langit cerah dari balik jendela, tapi langit cerah itu berbanding terbalik dengan suasana hati Fatimah yang sedang mendung.


"Iya, Ibu," sahut Fatimah.


"Apa kamu sudah siap?" tanya Ibu.


'Siap atau tidak aku akan tetap menikah dengan laki-laki yang bahkan tak pernah aku tahu seperti apa dia,' batin Fatimah, sejak awal Fatimah ingin sekali mengatakan hal itu, tapi mulutnya seolah tertutup rapat tak bisa di buka.


"Fatimah," sekali lagi Ibu Halimah memanggil sang putri yang hanya diam tak menyahuti ucapannya.


"Iya, Ibu," hanya dua kalimat itu yang mampu keluar dari mulut Fatimah yang sejak tadi tertutup rapat.


"Kenapa kamu melamun?" tanya Ibu, di wajahnya tersirat kekhawatiran yang tak mampu untuk terucapkan.


"Sebentar lagi calon suamimu akan datang, persiapkan dirimu! Ibu akan kembali ke sini jika Satya telah tiba," ucap Ibu Halimah yang langsung keluar dari kamar Fatimah setelah mengucapkannya.


Sulit di percaya, saat ini nasib Fatimah tak jauh berbeda dengan Siti Nurbaya, yang harus menikah dengan orang yang bahkan belum dia temui sebelumnya.


"Ya Tuhan, jika ini memang takdirku, dan jika dia memang jodohku maka permudahlah segalanya dan jauhkan aku dari segala keburukan yang akan membuatku sengsara," gumam Fatimah.


Sepuluh menit berlalu, beberapa mobil terlihat terparkir di halaman rumah yang terletak tepat di depan kamar Fatimah, terlihat jelas deretan mobil mewah yang di ketahui Fatimah memiliki harga cukup fantastis terparkir di sana.


"Apa dia berasa dari keluarga kaya," Fatimah kembali bergumam, dia tak pernah bermimpi atau bahkan menginginkan mendapat suami yang kaya, baginya akan terasa lebih nikmat dan terkesan jika kekayaan yang di miliki dalam keluarga kecilnya nanti merupakan hasil dari usaha keduanya, karena menurut Fatimah kebanyakan orang kaya memiliki ke egoisan yang tinggi, karena mereka merasa semua kemewahan yang ada itu hasil jerih payahnya dan Fatimah tinggal menikmati nya saja.

__ADS_1


Fatimah menajamkan penglihatan mencari tahu yang mana calon suaminya.


"Ahhh, kenapa mereka semua memakai jas dengan warna yang sama?" Fatimah kembali bergumam saat melihat hampir semua tamu yang datang memakai jas hitam seperti seorang pengantin.


Mata Fatimah semakin melebar saat melihat seorang pria memakai jas cokelat senada dengan corak yang ada di bajunya, Fatimah memang memakai gaun putih dengan hiasan berwarna coklat mentah begitu juga dengan kerudung yang di pakai berwarna coklat mentah.


"Apa dia calon suami ku? " Fatimah kembali bergumam menatap sosok pria yang berjalan dengan tegapnya, dia terlihattampan memang, senyumnya juga terlihat mempesona, tapi Fatimah terlihat tidak asing dengan postur tubuh dan lekuk wajahnya, dia seperti pernah melihat pria itu, tapi sayang, Fatimah tak busa mengingatnya.


Satya berjalan keluar dari dalam mobil berjalan santai tapi terlihat gagah menuju rumah Fatimah, senyum tak pernah lepas dari wajahnya agar tak ada yang tahu dengan maksud balas dendam yang memang dia simpan dalam hati sejak lama, biarlah yang lain menganggap dirinya menikah karena rasa cinta yang tumbuh sejak pertama kali bertemu dengan Fatimah, biarlah mereka tak tahu jika sebelumnya Satya pernah berusaha menjadi kekasih Fatimah tapi dia mendapat penolakan keras.


"Selamat datang di rumah putri kami Satya," sambut Bik Husna yang emmang sejak pagi paling antusias dengan pernikahan Fatimah.


Dia terlihat seperti seorang Bibik yang begitu baik dan perhatian pada sang keponakan, padahal sebenarnya Bik Husna tidak sabar menunggu sisa uang yang di janjikan oleh Satya jika dia berhasil menikah dengan Fatimah, Bik Husna tak pernah bertanya alasan Satya melakukan semua itu, yanga dia tahu hanya satu, dia mendapat imbalan dari pernikahan Fatimah yang terjadi saat ini.


"Silahkan masuk!" sambung Bik Husna denhan senyum lebar yang tak pernah hilang dari wajahnya.


"Silahkan!" kali ini yang menyambut Ibu Halimah dengan senyum tulus yang juga tidak pernah hilang dari wajahnya.


"Terima Kasih, Bu," sahut Mama Satya setelah menyalaminya.


Suasana rumah terlihat semakin ramai setelah kehadiran Satya dan keluarganya, ada banyak barang yang di bawa oleh keluarga Satya dan semua barang yang ada di sana terlihat berharga mahal, dan semua tetangga juga saudara Fatimah berdecak kagum dengan hantaran pernikahan yang di bawa oleh keluarga Satya.


"Sungguh beruntungFatimah mendapat suami semapan Satya, doa terlihat berasal dari keluarga yang kaya," bisik-bisik para tetangga dan saudara Fatimah.

__ADS_1


__ADS_2