
'Bik Husna,' batin Satya yang sangat mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Siapa yang mereka maksud?" lirih Fatimah yang sejak tadi mencoba mencari tahu siapa orang yang di bicarakan oleh tamunya itu.
"Biar aku periksa surat-suratnya," sela Satya yang langsung meraih beberapa kertas yang terbuat di atas meja.
"Apa surat-suratnya asli? Lalu bagaimana denganku dan bagaimana dengan rumah ini?" Tanya Fatimah yang terlihat mulai khawatir dengan apa yang sedang terjadi, tapi Fatimah tak bisa berbuat apa-apa selain ikut memperhatikan setiap detail isi dari kertas-kertas yang kini berada di tangan Satya.
"Semuanya asli dan kita harus segera pergi dari sini," jawab Satya.
Fatimah terdiam mematung menatap kosong ke arah depan mencoba menenangkan diri dengan apa yang baru saja dia dengar, baru seminggu ibunya meninggal masalah sudah datang, bagaimana ini? Apa yang harus di lakukan Fatimah sekarang?
"Tapi ini rumah Ibu, Mas," lirih Fatimah yang kini terlihat syok dengan apa yang baru saja dia dengar.
__ADS_1
"Siapa yang menjual rumah ini?" Fatimah kembali bertanya saat dia merasa tidak mengerti dan tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar dan dia lihat.
Satya yang merasa kasihan dan tidak tega dengan ekspresi wajah Fatimah saat ini memilih untuk memberitahunya agar Fatimah tidak terus bertanya dan rasa penasaran yang kini telah dia rasakan bisa menghilang.
"Apa ini orangnya?" Tanya Satya seraya menunjukkan sebuah foto yang terlihat jelas di ponselnya saat ini..
"Iya, dia orangnya, apa kalian mengenalnya?" jawab tamu tak di undang yang kini duduk di hadapan Satya dan Fatimah.
"Bik Husna," lirik Fatimah melihat foto sang Bibik nampak di sana.
"Iya, bukankah aku sudah pernah bilang padamu kalau Bibikmu itu bukanlah orang yang baik, dan kamu tidak pernah percaya padaku," ujar Satya yang memang sudah menduga jika dalang dari semua kejadian yang terjadi di rumah itu merupakan ulah dari Bik Husna.
"Aku masih tidak percaya jika Bibik tega melakukan hal seperti ini," lirih Fatimah yang saat ini kembali menatap kosong ke arah depan merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
__ADS_1
"Setiap orang pasti punya sisi jahat yang sebenarnya ada di dalam dirinya, tergantung bagaimana orang itu menyikapinya, apa dia akan membuang sisi jahat dan membiarkan sisi baik berkuasa, atau justru sebaliknya, kita tidak pernah bisa mengetahui sifat seseorang karena dalamnya hati tidak ada yang tahu," jelas Satya yang cukup menyadarkan Fatimah jika apa yang baru saja di ucapkannya adalah sebuah kebenaran yang tidak bisa di abaikan.
"Lebih baik sekarang kita beres ," ajak Satya yang merasa jika saat ini dia dan Fatimah memang harus pergi dari rumah Ibu Halimah yang kini telah menjadi rumah orang lain.
Fatimah yang merasa jika ajakan Satya benar memilih untuk berdiri dan pergi mengikuti langkah Satya yang lebih dulu berjalan keluar dari ruang tamu.
"Bik!" panggil Satya.
"Iya, Den, ada apa?" sahut Bibik yang sedang merapikan dapur.
"Bereskan semua barang-barang Bibik dan semua pekerja yang ada di sini! katakan pada Pak Yusuf untuk membawa mobil Ibu, pulanglah bersama kami!" titah Satya tanpa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepada Bibik.
"Baik, Tuan," sang Asisten yang merasa tidak memiliki hak untuk bertanya terlebih jauh tentang apa yang sebenarnya terjadi memilih untuk mengikuti perintah Satya tanpa banyak pertanyaan.
__ADS_1