Tasbih Cinta Fatimah

Tasbih Cinta Fatimah
Kedatangan Farah part2


__ADS_3

Fatimah tak lagi bisa berbicara ataupun membalas perkataan Farah, apa yang dikatakan Farah cukup membuat Fatimah merasa jika dirinya memang orang asing yang sengaja dinikahi oleh Satya.


Fatimah yang sekarang jika dirinya memang orang asing yang sengaja masuk dalam kehidupan Satya langsung berjalan menjauh dari Farah untuk mengambil beberapa piring menata makanan yang dibawa oleh Farah dan membuatkan minum sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Farah.


"Apa masih ada yang kau inginkan?" tanya Fatimah.


"Tidak ada, sudah cukup Pergilah kembali ke dapur! sebentar lagi saya pasti akan datang, " jawab Farah yang kini duduk menyilang kaki seperti seorang nyonya yang tengah menunggu sang asisten rumah tangga mengambilkan minum untuknya.


Sedang Fatimah tak menjawab ucapan Parah, Dia hanya diam dan berjalan kembali masuk ke dalam dapur sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Farah, sungguh saat ini hatinya terasa begitu sakit mendapat perlakuan sebagai seorang pembantu di rumah suaminya sendiri, ada banyak tanya yang muncul dalam benak Fatimah, jika memang Satya memiliki kekasih Kenapa dia masih menikahi Fatimah? apa tujuan Satya menikahinya? Tapi apalah daya nasi sudah menjadi bubur Fatimah tak lagi bisa pergi begitu saja karena dia terlanjur menikah dan sah menjadi istri Satya saat ini.


Beberapa menit berlalu hingga suara pintu apartemen terbuka kembali, nampaklah Satya yang baru saja pulang bekerja terkejut melihat kehadiran Farah yang kini duduk manis di ruang tamu, pikirannya bukan tertuju pada Farah tapi kepada Fatimah yang berada di dalam apartemen itu sendirian Bagaimana Farah bisa masuk ke dalam apartemen? Apa Fatimah yang membukanya? atau ...


Satya baru ingat Jika dia belum mengganti password pintu masuk apartemennya dan PIN yang ada di Kartunya, dia baru ingat jika Pin dan password yang dia gunakan adalah tanggal lahir Farah, setiap berharap jika Farah masuk ke dalam apartemennya karena dibukakan pintu oleh Fatimah bukan seperti kebiasaannya yang masuk sendiri tanpa ada permisi.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya setia dengan nada bicara dingin penuh penekanan dan tatapan tajam yang diajukan pada Farah yang saat ini sedang duduk seperti seorang nyonya yang tengah menanti suaminya pulang.

__ADS_1


"Aku sedang menemui kekasihku dan membawakan makanan untuknya Apa aku salah? "Jawab Farah dengan nada bicara enteng dan tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Hubungan kita telah berakhir Farah, bukankah kau sudah tahu itu," jawab Satya.


" Sejak kapan hubungan kita telah berakhir? Apakah kamu pernah mengatakan bahwa hubungan kita telah berakhir tanda tanya atau aku pernah mengatakan Jika hubungan kita sudah berakhir? Satya, kita memang tidak pernah bertemu beberapa tahun ini, tapi kita tidak pernah sepakat untuk mengakhiri hubungan yang telah terjalin Karena itulah aku masih menganggapmu sebagai kekasihku, apa yang aku lakukan ini salah?" sahut Farah dengan penuh percaya diri dia berucap dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


Mendengar penjelasan Farah membuat Satya terdiam seribu bahasa, apa yang dikatakan oleh Farah memang benar adanya, selama ini keduanya tidak pernah mengatakan kata pisah atau sepakat untuk berpisah, hanya saja Farah Pergi Tanpa ada kata ataupun berpamitan pada saat dia pergi, tetapi Apapun Yang Terjadi sekarang saat dia sudah menikah dengan Fatimah, dan hubungan antara Satya dan Farah bukan hal yang bisa dibenarkan dan bukanlah hal yang bisa diteruskan ataupun didipertahankan.


"Mas Satya sudah pulang?" tanya Fatimah yang baru saja masuk ke ruang tamu dan melihat dua orang yang cukup menyakitkan hatinya sedang berdiri dan berbincang.


"Farah, aku mohon Pergilah dari sini!"


"kenapa aku harus pergi dari sini?" bukannya langsung pergi Farah malah mengajukan sebuah pertanyaan yang cukup membuat Fatimah semakin jengkel dibuatnya.


"Farah, bukankah kau sudah tahu bagaimana diriku? Jangan pernah membuatku mengulang kata-kataku! Pergilah sebelum kesabaranku habis! " ujar Satya yang tak ingin berdebat atau menjelaskan apapun pada Farah yang memang bukan siapa-siapa dan tak lagi berarti dalam hidupnya.

__ADS_1


Mendengar perintah yang tak lagi bisa dia bantah ataupun dia negosiasikan membuat Farah tak berkutik tanpa banyak bicara ataupun kembali mengajukan pertanyaan Farah langsung meraih tas yang ada di atas meja dan melenggang pergi begitu saja tanpa memperdulikan Fatimah yang kini mengerutkan dahi menatap bingung ke arah Satya dan Farah yang berada di hadapannya saat ini.


"Kenapa disuruh pergi? Bukankah dia Kekasihmu dan dia datang ke sini membawa makanan untukmu," seru Fatimah entah Sejak kapan dia mulai berani berkata di hadapan Satya, rasa sakit yang kini berada dalam hatinya cukup memberikan kekuatan untuk Fatimah mengatakan hal tersebut.


Tapi apalah daya harapan Fatimah tak sesuai dengan kenyataan, bukannya Setia menjelaskan sosok Farah yang baru saja datang ke apartemennya dia malah melenggang pergi masuk ke dalam kamar tanpa mengatakan sepatah kata pun pada Fatimah yang kini berdiri mematung menatap kepergiannya.


' selalu saja seenaknya sendiri, kapan dia akan berubah? Jika dia memang punya kekasih Kenapa dia menikahiku Kenapa dia tidak menikahi kekasihnya saja?' Batin Fatimah mulai mengoceh dan mengungkapkan segala pertanyaan yang mulai bermunculan dalam badak Fatimah dia tidak bisa langsung mengatakannya tapi batin dan hatinya terus saja mendorong logikanya untuk mengatakan semua yang ada di dalam hatinya pada saat dia saat ini, tapi rasa takut masih saja lebih besar dari segala rasa tanya ataupun rasa penasaran yang ada di dalam diri Fatimah, Karena itulah Fatimah memilih berjalan kembali ke dapur dan duduk di meja makan menunggu Satya daripada mengikuti langkah Satya masuk ke dalam kamar dan menanyakan semua pertanyaan yang baru saja muncul dalam benaknya dan diucapkan oleh batin yang tak memiliki suara.


Sepuluh menit berlalu muncullah Satya dari dalam kamar dengan baju yang berbeda ke mana mbaknya dia tadi sedang mengganti baju dan membersihkan diri semua itu terlihat dari penampilan Satya dan bau harum sabun yang menyeruak dalam ruangan.


" Jangan hanya diam! Ambilkan aku makanan!" Perintah Satya saat melihat Fatimah hanya dia mematung menata beberapa makanan yang tertata rapi di hadapannya.


Fatimah yang sibuk dengan pemikirannya sendiri terkejut mendengar perintah Satya yang entah sejak kapan duduk di samping Fatimah.


"Eh, kenapa?" tanya Fatimah yang memang tak mendengar ucapan Satya dengan jelas.

__ADS_1


"Ambilkan aku makan!" mendengar jawaban Fatimah yang tak mendengar perintah Satya, membuat dia terpaksa mengulangi perintahnya.


Fatimah yang mengerti dengan perintah Satya lanhsung mengambilkan makanan untuknya tanpa menjawab ataupun bertanya makanan apa yang di inginkan Satya, Fatima terlihat lebih banyak diam dari biasanya.


__ADS_2