
"kenapa kalian tidak menungguku?" suara Satria mengalihkan perhatian semua orang ada di tempat makan.
"Kenapa kamu lama sekali?" kali ini yang bertanya adalah Mama.
"Aku bertanya padamu Ma, kenapa Mama malah balik nanya," sahut Satria yang merasa sedikit kecewa dengan jawaban Mama Nia yang justru balik melempar pertanyaan padanya.
"Sudahlah, jangan mengeluh! lebih baik sekarang kamu ikut makan, bukankah kamu juga belum sarapan?" ujar Mama Nia.
"Mama memang yang paling tahu apa keinginanku," sahut Satria yang langsung duduk di kursi yang memang kosong dan sengaja di sediakan untuknya.
__ADS_1
"Apa semua ini Mama yang pesan?" Satria kembali bertanya saat melihat betapa banyak makanan di meja, dan rata-rata makanan yang ada di hadapannya adalah makanan yang di sukai oleh mereka.
"Siapa lagi yang bisa memahami apa yang kalian suka jika bukan Mama?" sahut Mama yang memang benar adanya.
Semua orang kini sibuk menghabiskan makanan yang sudah di pesan dan memang sudah di sediakan di sana, hingga hampir semua menu yang di beli habis di makan.
"Apa Papa masih lama datangnya?" Satria terus saja mengutarakan semua yang membuat dia penasaran, sedang Fatimah dan Satya hanya diam seribu bahasa dan sibuk dengan urusan masing-masing, Fatimah sibuk menghabiskan makanan sambil mengucap syukur dalam hati tanpa henti karena apa yang dia dapatkan hari ini, sedang Satya sibuk memeriksa setiap berkas yang di kirimkan oleh karyawannya.
"Ayo cepat! jangan sampai Papa menunggu kita!" seru Mama Nia dengan penuh semangat dia berucap.
__ADS_1
Seutas senyum terlihat menghiasi bibir Fatimah dia sangat mengerti dengan perasaan sang Mama yang mungkin sangat merindukan kehadiran Papa di sisinya, pikirannya melayang membayangkan jika dirinya yang ada di posisi Mama Nia, dia pasti akan merasakan hal yang sama yang saat ini dirasakan olehnya.
"Mama terlihat begitu bahagia saat ini, dan aku begitu senang melihatnya," ujar Fatimah sambil tersenyum ke arah sang Mama yang juga ikut tersenyum ke arahnya.
"Tentu saja, papa akan pulang hari ini dan mama merasa sangat bahagia, akhirnya kita bisa berkumpul kembali, sesuai dengan apa yang Mama harapkan," jawab Mama Nia yang cukup membuatku merasa senang dan bahagia karenanya.
"Lusa aku akan kembali ke apartemen Ma," sahut Satya yang merasa tidak mungkin terus berada di rumah sang Mama.
"Kenapa kamu terburu-buru kembali Satya, bukankah akan lebih baik jika kalian tinggal lebih lama di rumah, Mama akan merasa jauh lebih bahagia jika kalian tinggal lebih lama di sana," ucap Mama Nia dengan ekspresi wajah penuh harapan.
__ADS_1
"Aku ingin hidup mandiri, Ma," jawab Satya yang memang ingin tinggal di apartemen dan tidak ingin tinggal lebih lama di rumah sang Mama.
Tak ada lagi yang bersuara, Satya tidak ingin terus berdebat, dia lebih memilih untuk diam dan tak lagi memperdulikan ocehan mantra Mama Nia yang selalu panjang dan lebar setiap kali Satya mengutarakan keinginannya untuk tinggal terpisah dengannya, Mama Nia selalu merasa kesepian setiap kali Satya pergi, apa lagi sekarang ada Fatimah yang pasti jauh lebih menyenangkan jika mereka berkumpul di rumah Mama.