
Sudah dua bulan semenjak mereka memasuki dungeon tersegel dan sejauh itu jumlah material yang mereka kumpulkan sudah tidak terhitung jumlahnya, paling tidak Yuno sendiri bisa menjalankan negara beberapa bulan ke depan tanpa pemasukan apapun.
Di sisi lain Yue Ling semakin mahir dalam bertarung dia sendiri bisa menembakan panah sihir yang dibuat dari mana dan itu mengenai sepuluh monster di waktu bersamaan.
"Aku berhasil."
"Kamu sudah tumbuh," kata Sonya seolah menjadi seorang ibu yang melihat perkembangan putrinya.
Di sela istirahat Yuno mengambil waktu untuk berbicara dengan Adi secara pribadi di pinggir sungai yang mengalir dalam gua.
"Perbekalanku sudah habis, tidak aku sangka bahkan aku yang membawa makanan dari luar... kini hanya menyisakan apel yang kita ambil sebelumnya, apa menurutmu lantai terakhir ini masih jauh?"
"Entahlah, tapi melihat susunannya mungkin akan jauh lebih lama."
Adi sudah menghitung lantai yang mereka lewati dan mereka telah mencapai lantai 120 sejauh ini. Akan buruk jika Lumina sendiri menciptakan lantai ini sekitar 500 atau bahkan 1000 lantai, mungkin mereka perlu waktu beberapa tahun untuk melaluinya. Jika Adi terperangkap itu juga akan buruk untuk pertarungan raja iblis yang akan datang.
Adi menambahkan.
"Sebaiknya simpan saja apelnya, jika soal makanan aku memiliki banyak untuk dibagikan semua orang."
"Kau yakin?"
__ADS_1
"Tentu."
Adi tidak mengatakan bahwa dirinya bisa mengeluarkan makanan tanpa batas bahkan jika mereka bertahan puluhan tahun hal itu bukan sesuatu yang tidak mungkin.
"Sepertinya aku dan Aizen yang lebih beruntung bertemu denganmu."
Mari anggap bahwa keduanya sama-sama beruntung. Yuno kembali lebih dulu sementara Adi mencoba diam di sini lebih lama sembari melemparkan bebatuan ke dalam air. Kalau saja ada seseorang yang bisa dia tanyai itu akan lebih mudah dalam menjelajah tempat ini. Ketika dia memikirkannya, sesuatu muncul dari air setelah Adi tanpa sengaja mengenainya.
"Sakit sekali, kenapa kamu melemparkan batu ke sungai."
Yang keluar adalah seorang wanita dengan rambut oranye sangat panjang melebihi kakinya serta tidak mengenakan apapun untuk menutupi tubuhnya yang telanjang. Adi sendiri berusaha mengalihkan pandangannya walaupun wanita itu memiringkan kepalanya dengan reaksi tersebut.
"Tatap aku saat seseorang berbicara!" tuntutnya demikian.
Wanita itu mengalihkan pandangan pada dirinya sendiri dengan sedikit bingung, baginya konsep memalukan sangat asing untuknya, atau lebih tepatnya karena dia bukan manusia meskipun memiliki tubuh yang sama.
Adi tidak ingin berfikir lagi, dia memunculkan jendela menu sistem dan memilihkan sebuah gaun putih sederhana yang dia lempar padanya, dia tidak melupakan untuk memberikan sisanya juga.
"Ini pertama kalinya aku mengenakan hal seperti ini, bagaimana cara memakainya?"
"Kamu serius mengatakan itu."
__ADS_1
"Tolong ajari aku."
Adi merasa bahwa dia melakukan hal salah saat membantunya untuk mengenakan pakaian.
"Sudah selesai."
Wanita itu berputar selagi bergerak ke sana kemari, Adi bahkan harus membantunya untuk mengepang rambutnya agar tidak terinjak olehnya sendiri.
"Pertama siapa namamu?"
"Namaku? Hmm... aku pikir aku sering disebut No.11."
"Nama apa itu?"
"Entahlah? Yang jelas nona Lumina memberikan nama seperti itu padaku."
Adi teringat dengan perkataan Yuno khususnya soal homunculus.
"Mungkinkah kamu seorang homunculus."
"Itu dia, aku homunculus dan juga inti core dari dungeon ini."
__ADS_1
Adi terkejut, ini pertama kalinya dia melihat sebuah inti core berbentuk manusia. Namun, jika diingat inti core dibuat sebagai golem sebelumnya oleh kekaisaran jika itu dibuat seperti ini hal tersebut tidaklah mustahil.