Terlahir Kembali Di Dunia Lain Dengan Sistem Belanja Online

Terlahir Kembali Di Dunia Lain Dengan Sistem Belanja Online
Chapter 09 : Menjalankan Bisnis


__ADS_3

Pembukaan kedai pertama menjadi sesuatu yang meriah. Mebel dan Misa berada di dapur untuk memasak sementara Yorin, Kamui dan Elsa menjadi pelayan di depan. Mereka menghidangkan satu set hamburger dengan kentang sebagai menu utama.


Untuk Adi dia berada di luar berteriak-teriak sembari menyerahkan selembaran pada para pejalan kaki, berhubung semua gadis harus mengikuti pelatihan asrama kedai ini hanya akan buka dari sore hari sampai malam.


"Wah, Adi membuka kedai, hmm makanannya sangat baru."


"Tuan putri."


"Ya ampun jangan memanggilku tuan putri panggil saja Alicia."


Seperti yang diduga putri ini muncul bersama dua pengawalnya seperti biasa, di lihat dari penampilannya yang sedikit kotor jelas dia baru kembali dari dungeon tepatnya gua goblin seperti biasanya.


"Kalian mau mampir?"


"Aku mungkin butuh mandi."


"Kamu bisa menggunakan kamar mandi kami dan minta pakaian baru pada Elsa."


"Itu seperti aku mendapatkan pelayanan yang khusus."


Dia seorang putri bagi Adi tidak masalah untuk memberikannya, atau sejujurnya seharusnya seperti itu semua orang memperlakukannya.


"Aku ingin sendirian, bisakah kalian lebih dulu pergi."


"Itu tidak adil Putri, kami juga ingin memakan hamburger."


"Benar."


"Aku mengerti, tolong bungkus dulu untuk mereka."


Adi hanya bisa membalas dengan senyuman ragu, meski begitu dia menyerahkan kedua pesanan tersebut kepada pengawal yang dengan senang melangkahkan kakinya pulang.


Elsa membantu keperluan Alicia dan Adi bisa kembali melakukan tugasnya untuk memberikan selembaran.


"Silahkan, hari ini cuma setengah harga... besok harga normal."


Semakin malam kerumunan semakin banyak, Riho yang pulang dari tempat kerjanya singgah untuk membeli hamburger.


"Ara, resepsionis berdada besar, Anda mampir juga."


"Jangan memanggilku seperti itu, lagipula dadamu juga sebesar itu."


"Jadi mau pesan apa?"


"Aku ingin satu set hamburger dan minumannya... kurasa apa yang disebut soda lemon."


"Silahkan menunggu."


Elsa pergi dan kembali dengan pesanan Riho.


"Apa Adi tidak ada di sini?"


"Kurasa tuan sedang beristirahat, seharian ia hanya berteriak ke sana kemari, kemungkinan aktivitas malam kami terganggu juga."


"Aktivitas ma-malam?"


"Benar sekali, kami sering."


Sebelum Elsa melanjutkan perkataannya, kepalanya lebih dulu dipukul pelan sendok sayur.

__ADS_1


"Mebel?"


"Jangan mengatakan hal tidak-tidak pada pelanggan kita, silahkan nikmati makanan Anda."


"Kamu elf berambut perak?"


"Apa masalah?"


"Bukan, hanya saja elf... ah, seharusnya aku tidak mengatakan apapun lagi."


"Apapun itu sebentar lagi kami tutup, pastikan untuk menghabiskan makananmu."


Mebel pergi selagi menyeret Elsa.


Setelah kepergian Riho yang terlihat puas seluruh karyawan berkumpul di ruang tamu. Untuk Adi sendiri dia sudah tertidur di salah satu meja.


"Tujuan kita adalah untuk mengalahkan pasukan raja iblis, kita sudah berlatih bertarung tapi aku rasa ini masihlah belum cukup."


"Aku juga merasakan hal demikian, apa menurutmu hanya dengan berlima itu cukup... paling tidak kita harus memiliki jumlah orang sebanyak-banyaknya untuk ditempatkan di setiap kota dan negara."


Mebel dan Elsa merundingkan hal demikian dengan serius. Adapun Kamui duduk selagi memainkan kursinya.


"Itu mudah, kita hanya harus merekrut banyak gadis.. kalau bisa yang awalnya seperti kita, yang dijadikan budak. Jujur aku masih berfikir jika harusnya ada larangan penjualan budak ke depannya."


"A-aku juga setuju, walau budak diperlakukan baik tetap saja menjual kehidupan orang merupakan hal salah," balas Misa disambung Elsa.


"Itu kita bisa pikirkan kedepannya, tuan putri datang kemari dan sepertinya tuan cukup dekat dengannya, kita bisa merekrutnya untuk bergabung dengan kita suatu hari nanti."


"Ide bagus."


Yorin menyetujui rencana tersebut dengan anggukan sebelum menambahkan.


"Kita perlu nama untuk organisasi, mari pikiran apa yang cocok."


"Entah kenapa namanya Shadow Hunter, sebuah organisasi yang bertujuan mengalahkan raja iblis tanpa terikat kerajaan apapun."


"Mereka benar-benar mulai serius dengan ini, bukannya seharusnya kamu menghentikannya Adi, kamu hanya mempekerjakan mereka sebagai kaki tangan untuk mencari informasi jika demikian mereka benar-benar akan terlibat dalam pertarungan," ucap Mesna selagi memakan puding di dalam layar jendela yang ditampilkan di udara.


"Kurasa sudah terlambat, jika aku melakukannya mereka jelas akan marah.. kuharap mereka tidak melibatkan diri dalam hal berbahaya."


"Kamu terlihat seperti orang tua yang mengasuh anak-anaknya, manisnya... aku ingin tambah puding lagi."


Adi memasukan beberapa koin emas untuk memenuhi stok pudingnya.


Di hari libur Adi mengajak Misa untuk pergi ke hutan, dari yang dia dengar Misa tidak terlalu pandai bertarung di garis depan. Itu sedikit membebaninya, agar tidak menyalahkan dirinya Adi mencoba sebaik mungkin untuk memberikan pengarahan.


Dia memasukan beberapa koin emas untuk memilih sebuah senjata dari katalog belanja onlinenya, itu hanya sebuah senapan laras panjang dengan serangan tembak beberapa ratus meter.


"Tuan itu?"


"Aku ingin kamu bisa menggunakan ini."


"Apa mirip seperti apa yang tuan gunakan?"


"Yah itu sedikit mirip."


Adi menunjukkan sedikit demontrasi. Dia mencoba melakukannya dengan posisi duduk, memasukan peluru sebelum akhirnya menembak.


Misa secara refleks menutup telinganya karena seberapa nyaring tembakannya, dia ras kucing ia memiliki pendengaran yang lebih sensitif dari orang lain namun seiring waktu ia akan sedikit terbiasa, dia mungkin membutuhkan penutup telinga juga yang menyambung dengan earphone.

__ADS_1


Ia mengalihkan pandangan dan melihat bagaimana peluru itu telah menembus beberapa pohon.


"Hebat."


"Tidak perlu terburu-buru, pastikan kamu terbiasa dengannya."


"Dimengerti."


Setiap hari keduanya meluangkan waktu untuk berlatih disela-sela pelajaran asrama serta pekerjaan mereka di kedai. Di guild Adi terkapar dengan wajah pucat.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Riho khawatir.


"Aku kelelahan."


"Itu wajar karena selama ini kamu terlalu sibuk."


"Sepertinya begitu."


"Hari ini mau mampir ke rumahku, aku bisa memasakan beberapa makanan walaupun aku yakin tidak seenak yang kedaimu sajikan."


"Sepertinya aku akan menerimanya."


Berurusan dengan lima gadis memang melelahkan, jadi sesekali untuk meluangkan waktu seperti ini tidak masalah untuk Adi.


Riho mempersilahkan Adi untuk masuk ke rumahnya yang sederhana.


"Anggap rumah sendiri."


Sementara dia meletakan belanjaannya Riho telah mengaitkan apron di pinggangnya untuk memasak. Adi tertarik dengan sebuah foto yang menggantung di dinding yang menampilkan pria dengan seorang putri dan juga Riho di dalamnya.


"Mereka?"


"Keluargaku, saat penyerangan pasukan raja iblis suami dan putriku tidak selamat."


"Riho?"


"Itu sudah tidak masalah, aku tadinya sempat ingin mati juga tapi aku rasa aku akan membuat mereka sedih jika aku melakukannya, aku hanya berfikir mungkin suatu hari manusia bisa hidup tanpa iblis dan semua orang bisa hidup dengan damai."


Mesna yang diam-diam mendengarkan turut memberikan komentar.


(Tidak hanya Riho, di luar sana masih banyak orang yang memiliki nasib yang sama, kami para dewi tidak bisa langsung terlibat karenanya kami hanya bisa mengirim pahlawan yang bisa membantu)


"Kalau begitu apa ada sesuatu yang ingin kamu makan?"


"Bagaimana dengan bubur, sudah lama aku tidak memakannya."


"Bubur, bukannya itu terlalu sederhana."


"Tidak, aku cukup menyukainya."


"Kalau begitu aku akan membuatnya dengan spesial."


Ketika Adi sakit bubur hanya satu-satunya yang akrab dengannya, ketika dia memakannya ia sedikit menjatuhkan air mata


"Enak."


"Ini pertama kalinya aku melihat seseorang menangis karena bubur, tapi aku senang jika kamu menyukainya."


"Tolong tambah."

__ADS_1


"Baik."


Hari itu berjalan dengan damai.


__ADS_2