
Semuanya serba putih hingga Adi berfikir mungkin dia jenis iblis berbeda, bisa dikatakan semacam iblis Albino.
Bagi Adi yang sudah melihat banyak iblis ada semacam kejanggalan terhadapnya, singkatnya..
"Kau tidak memiliki hawa membunuh?"
"Kami disebut iblis putih, kami bisa dibilang bawahan raja iblis kemalasan yang selalu mengasingkan diri dari makhluk seperti manusia."
"Mengasingkan diri bukan kata yang tepat untukmu."
"Pemimpin kami telah pergi entah kemana untuk menghindari perang, dan kami dipaksa untuk turut ambil bagian dalam peperangan ini jika tidak, kami semua akan dimusnahkan, aku kebetulan bergabung dengan nona Shion untuk melindungi warga iblis putih lainnya."
Dengan kata lain Adi bisa menyimpulkan hanya sebagian mereka saja yang turut dalam peperangan.
"Dewi apa yang dikatannya jujur?"
"Dia mengatakan hal sebenarnya, kurasa ada iblis yang memilih untuk tidak terlibat dengan manusia, apa Adi jadi ragu untuk menghabisinya?"
Adi memilih tidak menjawabnya dan langsung menerjang maju, Zirah Angin menangkis tebasan ganda tersebut lalu bergerak ke belakang Adi seolah dia menghilang sebelum akhirnya melancarkan serangan kuat dari samping menghantam perut Adi membuatnya terbatuk-batuk.
Sekarang Zirah Angin menutup matanya dan lebih fokus untuk bertarung melalui pendengarannya, dia kuat malah sangat kuat. Setiap orang harus beradaptasi tergantung siapa lawannya dan iblis ini jelas melakukannya dengan baik.
__ADS_1
"Adi?"
Berkat Mesna Adi bisa menahan tusukan tombak yang langsung menerjangnya dari depan, dia selama ini selalu fokus dengan tubuh musuhnya akan tetapi sekarang tombak itu telah bergerak sendiri atau lebih tepatnya Zirah Angin melemparnya dengan kekuatan penuh.
Tombak kembali bergerak melukai bagian sisi perut Adi dan juga sedikit menggores pelipisnya, tepat saat Adi berbalik Zirah Angin telah muncul di depannya, memukul wajahnya dengan keras.
Dia menghantam lantai sebelum bangkit kembali dalam posisi bersiaga.
"Akan aku akhirnya semuanya sekarang."
Tombak kembali ke tangan iblis putih, dari tombaknya mengeluarkan angin yang ganas yang menghancurkan seluruh area di sekelilingnya, Adi juga menghilangkan satu pedang dan fokus dengan satu yang dipegangnya dengan dua tangan.
Dia menjatuhkannya ke bawah bertepatan saat tombak tersebut dilemparkan, untuk beberapa saat saling berbenturan di udara sebelum akhirnya bilah yang dikirim Adi membelah tombak tersebut termasuk tubuh milik Zirah Angin hingga memuntahkan darah ke udara.
"A-aku kalah."
Adi melihat pedangnya yang hancur berserakan di lantai.
"Kau tidak membunuhnya Adi?"
"Aku belum tahu sebetulnya tentang iblis putih, setelah aku memastikan seperti apa mereka aku akan mengambil tindakan nantinya."
__ADS_1
"Begitu."
Adi hendak naik ke tangga kembali namun dihentikan oleh Zirah Angin.
"Jangan pikir kau bisa pergi begitu saja sebelum menghabisiku, cepat lakukan.. bagi kami tidak bisa menyelesaikan pekerjaan sama saja dengan mati."
"Hentikan saja, kau sudah terluka parah."
"Jangan remehkan aku."
Zirah angin berusaha bangkit, dia berdiri akan tetapi darah terus menetes darinya dan bahkan jika Adi tidak mengayunkan pedangnya dia memiliki kemungkinan kecil untuk bisa bertahan.
Melihat bahwa Adi tidak akan mengakhirinya, iblis tersebut mundur ke belakang, ke arah lubang yang sebelumnya dia ciptakan sendiri.
"Oi, kau... jangan bilang?"
Rambut putihnya yang panjang tersapu angin mengibarkannya ke samping, Adi hendak mengulurkan tangannya akan tetapi iblis tersebut lebih dulu melompat hingga akhirnya jatuh ke laut dan ombak menelannya hingga menghilang seutuhnya.
"Ada apa dengannya?"
"Dia terlihat putus asa," kata Mesna memberikan kesunyian diantara keduanya.
__ADS_1