
Sesampainya di kota Signe, mereka telah disergap gerombolan berpakaian hitam di gang sepi.
Yuela bersiap menarik pedangnya akan tetapi mereka semua lebih dulu dijatuhkan di udara oleh beberapa orang berbeda, salah satunya adalah seorang gadis dengan enam pedang serta mengenakan pakaian militer bersama tiga orang bawahannya.
Mata keduanya saling tertuju.
"Orang ini?" kata Lidia dari balik helm yang menutupi wajahnya sementara Alex menyeringai.
"Pahlawan Rinko dan juga pembantunya."
"Oi, siapa yang kau bilang pembantunya? Kami rekan," teriak Liza membalas namun Alex lebih memilih membuang wajahnya sembari mendecapkan lidahnya.
"Apaan pria kasar itu?"
"Tapi dia kelihatan kuat," ucap Markes.
"Kau juga sama, mau bertarung."
Sebelah tangan Alex berubah menjadi tangan monster dengan cakar yang terlihat tajam, itu sudah membuat siapapun berkeringat dingin, tentu saja Lidia yang berada di sebelahnya memukulnya dengan keras hingga dia berjongkok selagi memegangi kepalanya.
"Jangan bertarung tanpa alasan jelas, maafkan aku tapi dia memang seperti ini."
"Kenapa kau meminta maaf?"
"Sudahlah, karena inilah kau dibenci kemanapun kita pergi."
__ADS_1
"Berisik, jangan bertingkah seolah kau ibuku."
Berfield juga secara naluriah meminta maaf untuk kekasaran temannya.
"Kau memiliki teman yang unik di sana."
"Kau juga Rinko."
Keduanya saling berjabat tangan dan masing-masing mengatakan tujuan mereka di sebuah kedai tidak jauh dari gerbang masuk.
"Jadi begitu, memang benar awalnya Demonic berkumpul di tempat ini tapi kami sudah mengalahkan mereka sebagian dan sebagian lagi telah mundur sementara waktu."
"Apa ada kemungkinan mereka akan datang menyerang lagi?"
Tak lama kemudian satu orang pria telah menerobos masuk ke dalam kedai dengan nafas terengah-engah, dia adalah pria yang diminta oleh Rinko untuk berjaga di luar.
"Mereka sudah datang nona Rinko, yang lebih buruk jumlahnya lebih banyak dari sebelumnya dan mereka membawa pemimpinya juga."
"Aku akan mengatasinya."
Iblis menjauhi peperangan saat musim dingin akan tetap untuk para Demonic mereka tidak punya alasan yang sama.
Yuela berdiri lalu melirik ke arah anggotanya yang duduk sedikit jauh bersama kelompok Rinko, mereka mengangguk mengiyakan sebelum akhirnya bersama-sama keluar kota, yang menyambut mereka adalah sebuah perahu raksasa yang terbang di langit sore hari.
Di bawahnya banyak orang-orang berpakaian hitam dengan tudung yang sama dan bergerak dengan berbagai senjata di tangannya.
__ADS_1
"Mereka mengerahkan semua kekuatannya di sini, bahkan pemimpin atas Demonic sang bajak laut Draken Hard juga datang," ucap Liza.
Nama itu telah dikenal oleh banyak orang, seiring popularitasnya yang naik pria dengan satu mata serta mengenakan pakaian mirip perompak tersebut jarang terlihat dimana-mana akan tetapi demi tujuan sekarang dia repot-repot muncul.
Yue Ling sudah jelas sangat berharga bagi mereka.
Rinko mendorong kacamatanya lalu menarik satu pedang sembari berkata ke arah pasukannya.
"Kalian sudah tahu apa yang harus kalian lakukan bukan, aku serahkan semua orang di bawah."
"Laksanakan," x3
Yuela memotong.
"Alex, Libia, kalian juga."
"Ini yang ingin aku inginkan."
"Siap."
Rinko dan Yuela berlari lebih dulu sementara sisanya berlari setelahnya, dengan keadaan Starpiest yang merupakan negara beriklim tropis maka tidak ada hambatan pada langkah mereka.
Beberapa bola meriam ditembakan pada mereka dan Rinko melompat untuk mengatasinya di udara. Ledakan menggema tanpa melukai siapapun. Di saat yang sama Yuela melompat lalu menggunakan bahu Rinko sebagai pijakan keduanya.
Hanya dengan cara tersebut dia berhasil naik ke atas kapal, selanjutnya dia menjatuhkan jangkar yang kemudian dinaiki oleh Rinko dengan berlari.
__ADS_1