Terlahir Kembali Di Dunia Lain Dengan Sistem Belanja Online

Terlahir Kembali Di Dunia Lain Dengan Sistem Belanja Online
Chapter 51 : Putaran


__ADS_3

Beberapa hari sebelumnya di kota Sentinal.


Setelah meninggalkan Elsa dan Misa, Rinko berjalan menuju istana dimana penguasa demi-human berada. Dia mendorong kacamatanya saat memasuki gerbang masuk, tampak seorang pria dari ras serigala telah menunggunya.


Ia memiliki rambut perak ekor kuda serta mengenakan armor berat yang ditambahkan dua pedang di pinggangnya.


"Kau sudah datang," suaranya cukup berat untuk didengar.


"Sampai tuan Luke menungguku di sini, aku sangat terhormat."


"Berhentilah bersikap formal, itu benar-benar menjengkelkan jika kau yang melakukannya."


"Kau benar-benar membenciku?"


"Saat bertarung kau seperti seorang yang berbeda, aku tidak akan tertipu dengan penampilanmu. Lebih dari itu... yang mulia sudah menunggumu."


Rinko mendesah pelan sebelum mengikuti Luke dari belakang, dia dibawa ke sebuah aula singgasana yang dihadapkan pada seorang pria bertubuh besar dari ras singa.


Ia besar bukan karena lemak melainkan dipenuhi otot-otot kekar dengan jenggot sampai perut.


"Salam untuk yang mulia Blizzard."


"Rinko, seperti janjimu saat kau datang kemari lagi, kau akan ikut dalam pertarungan, kuharap kamu tidak melupakannya."


"Tentu saja, sama seperti yang mulia, aku ingin memenggal kepala kaisar itu."


Entah Rinko ataupun Blizzard memiliki tujuan sama, keduanya membenci kekaisaran.


Rinko sediri karena diusir sedangkan Blizzard karena putrinya di ambil, putrinya merupakan satu-satunya harta berharga yang dimilikinya, tanpa bisa menolak akhirnya ia menyerahkan putrinya namun tanpa diketahui siapapun sejujurnya dia telah melarikan diri dari kekaisaran dan keberadaannya belum ditemukan sampai sekarang.


"Jadi kapan kamu siap?"


"Jika semua persiapan selesai, kami akan langsung menyerang."


"Itu yang ingin aku dengar, Luke berikan dia daftar orang-orang kuat di wilayah kita, ia sendiri yang memutuskan siapapun yang ikut dengannya."


"Sesuai yang mulia inginkan."


Rinko menerima sebuah kamar untuk ia gunakan beserta tumpukan kertas yang didalamnya berisi nama-nama orang serta kemampuannya secara spesifik.

__ADS_1


Ia tidak memerlukan pasukan besar, hanya beberapa yang terlatih dan semuanya sempurna.


Setelah memilah semalaman ia mengambil tiga orang yang menurutnya cocok, pria bertubuh besar dengan kapak sebagai senjata Markes.


Pria kecil dengan tubuh kurus, Berfield dan terakhir wanita pendeta Liza.


Ketiganya demi human, Markes seekor beruang, Berfield kucing sementara Liza rakun. Mereka terdaftar sebagai unik kesatria menengah.


"Sebelumnya terima kasih karena kalian mau menerima panggilanku, itu sangat membantu."


Berfield yang duduk selagi menopang kepalanya dengan kedua tangan membalas.


"Kami juga cukup membenci kekaisaran, jika ada tawaran seperti ini maka aku tidak akan menolaknya, bukan begitu Markes?"


"Haha benar kawan, kita harus menunjukkan seberapa kuat kita pada kekaisaran, mentang-mentang mereka selalu di atas mereka seenaknya pada kita."


"Kalian berdua terdengar bar-bar," potong Liza memainkan rambutnya.


"Jadi apa yang kita lakukan?"


"Dua hari lagi kita akan bergerak, aku berfikir akan merobohkan sisi luar kekaisaran lebih dulu saat penyerangan iblis terjadi."


Tepat saat mereka sepakat, keempatnya segera mundur dari kursi mereka, Semua orang yakin bahwa pertemuan ini sangat tertutup namun saat ini seorang wanita dengan pakaian ketat telah duduk di meja sembari tersenyum jahil.


"Ara, apa aku mengagetkan kalian?"


Markes hendak mengayunkan senjatanya namun itu segera terpental saat sebuah peluru menghantamkannya setelah menembus jendela.


"Apa yang barusan?"


"Kurasa itu cukup Misa, jangan membidik kepalanya."


Ini merupakan pertemuan kedua untuk Rinko.


"Elsa?"


"Walau kita sudah bertemu biar aku perkenalkan kembali, namaku Elsa meski aku terlihat seperti ini aku ahli dalam bertarung loh."


"Jadi kamu bukan pedagang," balas Rinko demikian.

__ADS_1


"Aku tidak bisa memberikan detailnya lebih jauh, tapi aku bekerja untuk seseorang dan sepertinya tuanku akan tertarik dengan pembahasan yang kalian bicarakan."


"Mungkin dia mata-mata kekaisaran Rinko, kita harus menangkapnya," ucap Liza khawatir.


"Menangkap? Apa kau yakin bisa melakukannya."


Seolah terprovokasi oleh Elsa, ketiganya menyergapnya dari segela arah. Tidak perlu waktu lama untuk menyadari apa yang telah terjadi, ketiganya telah jatuh ke lantai dengan mudah.


"Aku khawatir kalian bertiga tidak cukup kuat bahkan untuk menyerang kekaisaran."


Rinko tahu satu hal, di depannya bukan orang sembarangan.


"Mari dengarkan apa yang kamu inginkan? Aku yakin Elsa tidak berada di pihak kekaisaran."


"Senang bahwa ada yang bisa dengan mudah diajak bicara."


Elsa berdeham sekali sebelum duduk di kursi untuk menjelaskan.


"Aku ingin menanyakan apa tuan tertarik untuk bergabung dengan kalian, karenanya aku ingin penyerangan kalian diundur."


"Siapa kau? Berani untuk mengatakan itu."


Elsa mengambil sesuatu dari belahan dadanya yang mampu membuat teriakan Markes terhenti.


"Terlepas dari beliau ikut atau tidak, aku akan menyerahkan ini pada kalian."


"Bukannya itu?"


"Denah ibukota kekaisaran, sulit loh untuk mendapatkannya."


"....." x4


"Tujuan kalian hanya membunuh kaisar, bukannya itu pekerjaan yang tidak perlu melibatkan orang tidak bersalah, dengan informasiku kalian akan mudah melakukannya."


Rinko memikirkannya dalam-dalam lalu berkata setelah menghembuskan nafas lelah.


"Kami mengerti, mari ikuti permintaanmu."


Yang lainnnya juga tidak memiliki keluhan soal tersebut.

__ADS_1


__ADS_2