
Sama seperti layaknya seekor beruang, Mesna juga sudah menyiapkan dirinya untuk berhibernasi, dia mengumpulkan banyak makanan di kamarnya serta tempat tidur yang nyaman yang seharusnya itu merupakan tempat tidur Adi juga.
Adi yang baru masuk setelah minum teh bersama Casandra dan Daria hanya berdiri mematung di depan pintu.
"Kamu sudah kembali Adi, lihat yang aku lakukan.. dengan ini aku bisa tidur dengan nyenyak."
"Kamu tidak akan bisa berhibernasi jadi lupakan untuk meniru kehidupan beruang, dan juga di sini sangat gelap."
Adi membuka tirai hingga dia bisa melihat Mesna yang dibalut dengan lingerie tipis seperti biasanya.
"Adi nakal, kamu ingin melihatku lebih dulu sebelum menyetuhku.. ini memalukan."
Jujur saja, berbeda saat melihat wanita di desanya hal seperti itu tidak pernah terlintas di pikiran Adi, ada sebuah penghalang absolute yang ditempatkan di seluruh tubuh Mesna, bahkan ketika kamu melihat bagian bawah roknya akan ada cahaya ilahi di sana termasuk di bagian tertentu lainnya, dan ketika Adi mengulurkan tangannya di dadanya akan ada sebuah pelindung yang menahannya, jelas sekali itu tidak mungkin dilakukan.
"Kamu terlihat kecewa, aku bisa menghilangkan pelindung ilahiku, jangan khawatir aku juga tadinya seorang manusia sebelum aku diangkat sebagai dewi jadi itu tidak masalah."
Adi merasa sekarang masuk akal kenapa dewi ini jauh dari kata dewi sesungguhnya.
Dewi biasanya diangkat dari malaikat yang cenderung tidak memiliki nafsu akan tetapi dewi ini banyak nafsunya khususnya nafsu tidur yang melampaui batas.
"Sekarang masuk akal," kata Adi meletakan tangannya di dagu.
"Berhentilah menatapku dengan tatapan kasihan, aku tidak suka itu."
"Apapun itu, lupakan soal hidup sebagai beruang.. saat musim dingin aku akan membuat banyak permainan dari kerajinan dewi mungkin tidak akan melewatkannya begitu saja."
__ADS_1
"Apa? Permainan? Maksudmu saat seseorang bertaruh untuk mendapatkan banyak uang."
"Itu judi, judi dilarang," Adi menegaskannya.
Ia berpengalaman terhadap judi bagaimana dia melihat banyak orang yang hancur karenanya. Ia tidak akan menerapkan hal itu di wilayahnya.
"Lalu apa?"
"Besok ikut saja ke bengkel elf, akan aku tunjukkan."
"Laksanakan."
Untuk malam ini keduanya bisa tidur dengan nyaman sembari dikelilingi banyak makanan.
"Aku menyentuh puding."
"Apa? Pasang lagi pelindungmu, pasang!"
"Apa boleh buat, kamu ini pria kah?"
Adi memilih mengabaikan ejekan tersebut.
Hari berikutnya bersama Mesna ia mengunjungi bengkel elf yang telah ramai oleh para pengrajin amatiran, tidak ada batasan ras dan jenis kelamin semua orang yang suka bisa bergabung.
Salah satu elf menyambut Adi dengan sopan.
__ADS_1
"Apa yang membuat tuan datang di hari ini?"
"Mungkin ini akan sedikit menggangu, bisakah aku meminta beberapa orang yang ahli untuk bekerja terpisah, paling tidak sampai musim dingin tiba."
"Mungkin hanya lima orang tuan."
"Itu tidak masalah."
Dan begitulah Adi memulai rapatnya dengan lima gadis muda di ruangan tertutup di bengkel ini. Mesna duduk bersama mereka mendengarkan penjelasan yang dilontarkan oleh Adi.
"Jadi aku meminta kalian untuk membuat sebuah papan permainan, ini akan dibagi menjadi tiga yang disebut catur, monopoly dan juga ular tangga jika kalian selesai aku akan meminta kalian melakukan hal lain."
Salah satu mengangkat tangannya untuk bertanya.
"Jika catur bukan hal sulit dibuat karena kami bisa memahatnya dari kayu, tapi untuk dua lainnya itu cukup sulit bahwa kami harus menggambar."
Adi memikirkannya dan ia memunculkan sistem miliknya untuk memberikan contoh untuk mereka, yang ditatap penuh kagum oleh semua orang.
Adi sesungguhnya bisa membeli sebanyak yang ia inginkan akan tetapi akan sulit jika seseorang suatu hari bertanya dimana dia mendapatkannya, jika ada elf yang memproduksinya orang-orang akan yakin bahwa pengrajin di wilayah khusus begitu berbakat hingga tidak bisa dianggap remeh.
"Kami hanya harus menirunya saja."
"Benar, uang untuk monopoli bisa dirubah dengan uang koin, itu akan berbahaya jika kita memperkenalkan konsep uang kertas pada semua negara."
"Kami akan berhati-hati untuk itu."
__ADS_1
Nilai tukar uang kertas dan koin sangatlah berbeda, jika para pedagang tahu itu akan memperburuk keadaan pasar hingga terjadi kekacauan di setiap negara, yang lebih buruk bahwa uang kertas sangat mudah dipalsukan dibandingkan uang tembaga, perak ataupun emas.