
Lidia segera mencekik leher Alex dengan sikutnya.
"Ya ampun, kau malu-malu, kita semua yatim piatu tidak apa kan jika kita menganggap diri kita keluarga, ngomong-ngomong aku adalah ibu kalian."
"Hah? Ibu macam apa yang selalu menyembunyikan dirinya di dalam topeng."
"Mau protes?"
Yuela tertawa melihat bagaimana mereka berdua bereaksi.
"Oi, kenapa kau tertawa?"
"Aku hanya merasa kalian terlihat sangat hangat."
"Bukan lagi hangat, aku terbakar," balas Lidia demikian. Jika dia tidak menyembunyikan wajahnya ekpresi yang dia miliki adalah senyuman lebar.
Suster sebelumnya akhirnya muncul untuk membimbing mereka makan malam, setelah selesai mereka tidur dan keesokan paginya di ruangan khusus pelatihan Flora bertanya soal motivasi ketiganya.
Itu hanya sebuah pengenalan yang sederhana.
"Namaku Lidia, keinginanku adalah untuk melindungi banyak orang dengan tanganku."
"Apa karena itu kamu membawa perisai yang lebih besar dari tubuhmu?"
__ADS_1
"Benar, perisai ini dibuat oleh ayahku.. ia seorang tukang besi di desaku."
"Begitu, selanjutnya."
Alex tampak ogah-ogahan meski begitu dia juga memperkenalkan dirinya.
"Aku ingin membalaskan dendam guruku, akan kubunuh semua raja iblis dengan tanganku sendiri."
"Kalau tidak salah kamu adalah murid Lumina kan?"
"Apa kau mengenal guruku?"
"Beberapa kali aku pernah bertemu dengannya, sungguh disayangkan bahwa ia telah meninggal, lalu yang terakhir."
Yuela berdiri dengan penuh tekad, keinginannya tidak jauh berbeda dengan yang lainnya.
"Aku mengerti, kalau begitu aku ingin melihat seberapa kuat kalian nantinya."
Flora sendiri dikenal sebagai seorang yang kuat yang setara dengan keberadaan Casandra di kerajaan elf, meski begitu kekuatannya tidak diperuntukkan untuk bertarung di garis depan melainkan hanya membimbing orang-orang yang nantinya akan membantu dunia ini.
Sebagai yang hidup sangat lama dia memastikan bahwa umat manusia tidak kehilangan harapan saat mereka dijatuhi keputusasaan dalam mengalahkan pasukan raja iblis.
Yuela mengambil pedang untuk digunakan sementara Lidia masih menggunakan perisai dan untuk Alex, dia merubah kedua tangannya menjadi tangan monster yang dihiasi oleh cakar panjang yang setara dengan pedang itu sendiri.
__ADS_1
Yuela sedikit terkejut namun jelas ini bukan waktunya untuk bertanya soal yang tidak perlu, satu hal yang harus dia lakukan hanyalah melukai sosok pengajar mereka.
"Aku memiliki skill holy saint, bahkan jika kalian membunuhku aku bisa hidup lagi, jadi jangan ragu untuk bertarung denganku dengan niat membunuh."
"Seperti yang kau katakan."
Alex muncul di udara tepat di atas kepala Flora, dia mengayunkan tangannya, akan tetapi Flora sendiri menahannya seolah itu tidak berarti apapun.
Dia mencengkeram tangan Alex dengan tangan lain sebelum memutar-mutarnya beberapa kali yang kemudian dia lemparkan ke arah dua temannya yang belum bergerak sedikitpun.
Lidia memprotes.
"Dasar bodoh, kita harus menyerangnya bersama-sama, apa kau kira bisa mengalahkannya seorang diri."
"Berisik, dia hanya loli kita pasti mengalahkannya."
"Itu tidak sopan mengatakan aku loli, lihat dadaku cukup mengembang."
Lidia dan Yuela berkata "Uwah" dengan wajah kagum. Mereka juga berfikir apa mereka akan bisa tumbuh seperti itu.
"Sekarang latihannya dimulai."
Lidia dan Yuela menerjang maju ke depan, ini pertama kalinya mereka bertarung namun sesuai yang diduga mereka sudah terlihat bisa beradaptasi dengan cepat.
__ADS_1
Yuela mengayunkan pedangnya, saat serangan tersebut ditahan oleh Flora maka Lidia sudah mengambil celah di sisi lain untuk menyerang.
Bagaimana perisai bisa menyerang? Jawabannya karena perisai itu bukan hanya perisai biasa, di pinggirnya kini dipenuhi duri-duri yang terbuat dari besi.