Terlahir Kembali Di Dunia Lain Dengan Sistem Belanja Online

Terlahir Kembali Di Dunia Lain Dengan Sistem Belanja Online
Chapter 21 : Kekuatan


__ADS_3

Sudut pandang pasukan raja iblis.


Sebuah pedang dua tangan membelah udara menebas apapun di depannya, ketika itu berhenti orang-orang yang dilewatinya terpotong-potong dengan rapih memuntahkan cairan mereka di tanah.


Seorang yang melakukannya adalah Gebi, seorang iblis laki-laki dengan penampilan rambut biru acak-acakan dengan celana panjang bertelanjang dada.


"Dibandingkan era tujuh sage, manusia sekarang benar-benar terlalu lemah."


"Jika kepalamu tidak ingin terlepas sebaiknya tetaplah berhati-hati," suara lain itu berasal dari seorang wanita dengan pakaian serba putih yang baru saja membunuh manusia dengan hanya tangannya saja.


Dia menarik jantung korban terakhir lalu meremukannya di tangan.


"Apa maksudmu tentang keberadaan pahlawan, Kizuna."


Kizuna sendiri memiliki rambut putih dengan kedua matanya selalu tertutup, walau demikian ia bisa mengetahui posisi siapapun dengan mudah. Berbeda dari kedua tanduk milik Gebi, Kizuna terlihat patah seolah itu dipotong oleh seseorang.


"Benar, sebanyak apapun pahlawan yang kita bunuh mereka akan terus berdatangan."


"Kalian terlalu takut, kita sudah menguasai setengah dunia ini. Bukannya ketika para raja iblis sepakat untuk bekerja sama maka tidak ada yang bisa melawan kita."


"Bodoh."


"Apa kau bilang?"


Kizuna tersenyum merendahkan.


"Ancaman kita sesungguhnya adalah kekaisaran Levarus, apa kau sadar kenapa mereka dianggap musuh kita yang terkuat?"


"Karena merekalah yang selalu memanggil pahlawan."


"Itu salah satunya, tapi sesungguhnya hampir setengah penduduknya adalah keturunan pahlawan, mereka menggunakan cara seperti itu untuk menciptakan pasukan kuat demi melawan kita, jika kita lengah kita akan benar-benar mati karenanya setiap ada orang yang berpeluang menjadi kuat kita harus segera menghabisinya."


"Sampai sekarang aku tidak suka rencana itu, kita terlihat seperti penakut."


Kizuna memilih mengabaikan komplain dari Gebi yang kembali menyarungkan pedangnya di punggungnya.


"Oi, kau mau pergi kemana?" tanya Gebi.


"Tugas kita masih belum selesai, nyonya Scarlet bahkan meminta kita untuk kembali secepatnya."


"Kau benar-benar suka bekerja."


Keduanya berjalan di hutan saat segerombolan orang menyerang mereka dari atas menggunakan senjata mereka, Gebi mengayunkan pedangnya dan hanya itu mereka semua terlempar ke segala arah.


"Para kroco tidak akan bisa mengalahkan kami, cepatlah kalian keluar."


Dari kejauhan sebuah panah melesat tertuju lurus pada Gebi, Gebi menangkapnya di depan wajahnya namun itu segera meledak setelahnya.

__ADS_1


"Panah sihir kah."


"Sekarang giliranmu."


Sebuah pedang menembus jantung Kizuna dari belakang, memaksanya memuntahkan darah.


"Kalian iblis tidak akan bisa berbuat apapun lagi sekarang."


Kizuna merasakan kehadiran tiga orang lainnya selain pria yang menusuknya dari belakang.


"Aura kalian berbeda, apa kalian keturunan pahlawan."


"Kami tidak perlu mengatakannya."


Pria itu menarik pedangnya hingga Kizuna tersungkur ke tanah, ketika dia berbalik sebuah tendangan menghantam wajah pria tersebut hingga dia terbang melesat pepohonan.


Tiga orang rekannya yang terdiri dari wanita pendeta, wanita pemanah dan juga pria beramor berat segera membantunya.


Gebi menggaruk-garuk belakang kepalanya selagi menendang pelan Kizuna yang terbaring di bawah kakinya.


"Berhentilah bercanda, jangan pura-pura kau tumbang hanya agar bisa berisitirahat, sialan."


Kizuna membuka matanya lalu kembali bangkit, hal itu sudah cukup membuat semua penyerang terkejut.


"Ketahuan kah."


"Tentu, aku serahkan para keturunan pahlawan tersebut, akan aku urus sisanya."


"Itu yang aku inginkan."


Puluhan panah telah menghujani mereka dari langit, panah-panah tersebut menciptakan ledakan yang cukup membuat material apapun melompat ke udara.


Dari asap yang mengepul ke udara Gebi melesat maju, si wanita pemanah bersiap menarik busurnya sayangnya gerakan Gebi sangat cepat, pedangnya memotong kedua tangannya, sebelum dia bisa berteriak ujung pedang Gebi sudah menusuk wajahnya yang menembus ke otaknya hingga meledakan cairan darah ke udara.


"Lusy!" teriak seluruh rekannya.


"Jangan khawatir, selanjutnya kalian juga akan bernasib sama.. sekarang hiburlah aku dengan darah kalian."


Wanita pendeta hanya bisa merangkak di tanah selagi melihat bagaimana rekannya telah dihabisi, pria yang menusuk Kizuna sebelumnya telah terpenggal sementara pria dengan armor sudah menjadi potongan daging tidak beraturan. Kini hanya tersisa dirinya.


"Tidak! Jangan mendekat, aku tidak mau mati, tidak!"


Kizuna yang selesai lebih dulu menghentikan langkah kaki Gebi.


"Kurasa itu sudah cukup."


"Hah, apa kau ingin menunjukkan belas kasih pada manusia."

__ADS_1


"Bodoh, hal seperti itu tidak kita miliki sebagai iblis... aku hanya ingin dia hidup untuk menceritakan pengalamannya pada yang lainnya, itu cukup efektif membuat manusia ketakutan."


"Heh, sepertinya apa yang kau katakan menarik juga namun dia bisa saja tidak mengatakannya bukan."


"Kau benar-benar bodoh, hanya berita bahwa dia yang masih selamat itu juga sudah cukup, manusia selalu takut akan hal itu bahkan dengan sesuatu yang mereka belum ketahui.. perbedaan kita dengan mereka bahwa iblis tidak memiliki ketakutan apapun, itulah kenapa kita selalu unggul."


"Jika kau bilang begitu maka apa boleh buat, kau beruntung."


Keduanya berjalan meninggalkan wanita tersebut yang terus meneteskan air mata, kakinya gemetaran hingga ia tidak bisa bergerak lagi.


"Jadi Kizuna, apa yang akan dibicarakan nyonya Scarlet?"


"Aku rasa itu soal target yang harus kita lenyapkan."


"Bukannya itu urusan raja iblis yang lain."


"Mereka semua sedang sibuk dengan kemunculan orang-orang yang mengaku sebagai Shadow Hunter, pekerjaan itu lebih diserahkan pada kita."


"Organisasi manusia kah aku tidak tahu kerajaan seperti apa yang membuatnya."


"Mereka bukan dari kerajaan, aku yakin mereka sebuah organisasi bebas yang diciptakan untuk melawan kita.. beberapa iblis kuat dan Demonic sudah banyak dihabisi oleh mereka."


"Jika aku bertemu dengan salah satunya itu akan sangat menyenangkan."


Mereka sampai di sebuah kastil megah yang menjulang tinggi, di ruangan singgasana mereka bisa melihat wanita berambut merah panjang duduk selagi menyilangkan kakinya.


Ia memiliki figur pemimpin dominan, walau terkesan cantik auranya dipenuhi oleh kengerian yang bisa dirasakan siapapun yang menatapnya.


Gebi maupun Kizuna berlutut.


"Maaf atas keterlambatan kami nyonya, aku dan Gebi memberikan hormat pada Anda."


"Aku memang sedikit bosan menunggu kalian jadi aku menghibur diri dengan membunuh banyak manusia."


Kizuna melirik ke arah samping dan di sana terdapat puluhan tengkorak yang hancur sedemikian rupa.


"Terserahlah, aku ingin kalian berdua pergi ke tempat manusia untuk membunuh ancaman kita di masa depan nanti."


"Maksud Anda murid dari pahlawan Rinko?"


"Soal itu, anak itu sudah dihapus dari daftar, dari yang kita selidiki dia hanya gadis lemah yang tidak bisa melakukan apapun."


"Itu berarti orang yang berhasil mengalahkan Demonic di ibukota Erdan bukan dia?"


"Benar, orang yang mengalahkannya bernama Adi.. walau dia petualang peringkat 8, dia kelihatannya menyembunyikan kekuatannya, temukan dia lalu habisi."


"Dimengerti."

__ADS_1


__ADS_2