
Dibunuh atau membunuh, itulah ideologi dari dunia ini, semenjak Adi dikirim ke dunia ini dia sudah melihat hal-hal mengerikan yang terjadi di depan matanya.
Dia teringat bagaimana seseorang tewas di tengah kota hanya karena dia tidak memiliki uang untuk makan, seorang mati karena dirampok bahkan seorang budak yang ditelantarkan menjadi makanan hewan buas.
Hal-hal seperti itu hal lumrah, menangkap para bandit ini memerlukan waktu khususnya saat mereka harus dibawa ke kesatria, membiarkan mereka begitu saja kemungkinan mereka akan lebih banyak membunuh orang di masa depan. Maka dari itu Adi telah berjalan menuju sebuah gua yang menjadi persembunyian mereka.
Dua drone dengan masing-masing memiliki tangan bersenjata api terbang di dekat Adi sembari menembakan peluru yang berjumlah ribuan butir, tak hanya menjadi sebuah penyerang, drone tersebut juga bisa menciptakan sihir pelindung yang tahan akan serangan sihir.
Melihat bagaimana kedua mesin itu tak terkalahkan membuat seluruh bandit hanya pasrah dengan tubuh mereka dilubangi oleh proyektil peluru.
"Apa-apaan kau ini?"
"Dia monster, lari."
Ketika mereka sadari semuanya telah mati dan hanya menyisakan satu orang yang berdiri ketakutan yaitu pemimpinnya, Oscar.
"Aku tidak pernah percaya ini bagaimana kerajaan Erdan memiliki orang sepertimu.."
"Aku hanya petualang tingkat 8."
"Jangan konyol, bahkan kami masih ada karena kami membunuh banyak kesatria kuat, kekuatan kami sudah tidak dipertanyakan lagi."
Oscar melirik badannya yang telah mengeluarkan darah segar, dia roboh dan hanya kematian yang menunggunya.
Semua hal itu disaksikan Riho dari belakang, seberapa kuat Adi dan bagaimana dia baik-baik saja membunuh manusia. Jika seorang dengan peringkat bawah melakukan hal ini, itu sudah menjadi serangan mental pada siapapun. Tapi Adi berbeda dia seolah memang harus melakukan ini, entah untuk dirinya ataupun dunia.
Sosoknya melampaui seorang petualang.
"Sebenarnya Adi siapa?" gumaman kecil tersebut tidak pernah terdengar ataupun dijawab.
Mereka berdua hanya melanjutkan perjalanan dengan hanya dua orang saja, Riho kembali pada sikapnya yang biasa seolah tidak terjadi apapun.
Hanya ini cara yang terbaik agar keduanya tidak merasa canggung, Adi merasakan hal demikian dan memilih untuk tetap seperti apa adanya.
"Jadi apa para budak yang Adi beli akan didaftarkan sebagai petualang?"
"Jika mereka mau aku tidak keberatan, yah alasan kenapa aku memasukkan mereka ke asrama petualang hanya agar mereka bisa membela diri saja."
"Begitu, aku sedikit khawatir bahwa Adi akan berpetualang dengan mereka, kamu tahu pria dengan banyak petualangan wanita di sekitarnya terkadang di cap berbahaya."
Adi tersenyum masam membayangkan bagaimana ia akan ditakuti orang-orang di guild khususnya wanita.
__ADS_1
Sesampainya di kota sebelah seorang kesatria telah menunggu mereka, dia sedikit syok bahwa hanya satu kereta yang muncul, saat Riho menjelaskan bahwa kereta sisanya ada di sihir penyimpanan ia menarik nafas lega.
Sihir penyimpanan hanya bisa menyimpan barang karenanya mereka harus melepaskan kuda-kudanya.
Adi mengeluarkan mereka semua sekaligus dan orang-orang dari kesatria mulai membagikannya pada penduduk.
Melihat bagaimana kerusakan pada tempat ini, Adi bisa memprediksi seperti apa pertarungannya. Riho di sebelahnya menjelaskan dengan sedikit nada lega sekaligus prihatin.
"Tak hanya petualang, para kesatria juga terus bekerja keras di garis depan untuk melindungi kita. Tanpa mereka, kerajaan kita mungkin sudah lenyap sejak awal."
"Dari yang aku dengar apa kerajaan Erdan menolak tawaran kekaisaran Levarus?"
"Itu benar, memang mereka akan membantu kita namun sebagai gantinya kita harus tunduk pada mereka, sebagai kerajaan yang berdiri sendiri dan netral jelas kita tidak bisa melakukannya, raja sudah berusaha untuk memberikan kesempatan berbeda sayangnya bagi kekaisaran itu tidak terlalu menguntungkan bagi mereka."
Bahkan di situasi seperti ini, masih ada negara yang menggunakannya sebagai kesempatan.
Sebagai negara dengan kekuatan militer tinggi kekaisaran adalah pilihan utama dalam mengalahkan raja iblis, mereka juga kerap sebagai pelopor yang memanggil pahlawan dari dunia lain.
Adi mengabaikan hal-hal yang terjadi saat ini dan memilih beristirahat untuk kembali keesokan paginya.
Sudut pandang Elsa.
Elsa bangun dengan keadaan segar saat matahari jatuh mengintip dari jendela, ia sesaat meregangkan tangannya sebelum keluar untuk melihat bahwa semua orang telah duduk di meja yang sama menikmati makanan sederhana yang disebut mie cup.
"Bukannya kalian terlalu pagi untuk mengenakan pakaian seperti itu."
"Aku rasa Elsa yang terlalu santai," balas Kamui sebelum mendorong sumpitnya ke dalam mulut yang berteriak enak.
Di sisi lain Mebel dan yang lainnya menikmati sarapan pagi mereka dengan tenang.
"Misa, apa terjadi sesuatu pada mereka?"
Misa yang tiba-tiba ditanya demikian sedikit terkejut namun masih bisa menjawab dengan normal.
"Mereka mengatakan bahwa ingin lebih giat belajar, untuk membuktikan bahwa tuan Adi tidak salah memilih."
Elsa menyinggungkan senyuman rubah,atau sesungguhnya dia memang rubah.
"Ara, manisnya... tapi aku yang pertama akan menghabiskan waktu malamku."
Mebel mengebrak meja.
__ADS_1
"Apa yang kau katakan, kami semua tidak mengincar hal seperti itu."
"Dasar elf Tsundere."
"Hah!"
"Kalian berhentilah bertengkar," kata Yorin memotong saat keduanya dengan kesal saling mendorong satu sama lain dengan aset yang mereka miliki.
Kamui hanya tertawa melihat hal tersebut.
"Biarkan saja, kurasa sesekali bertengkar cukup menyenangkan."
Setelah mereka sarapan mereka telah pergi ke asrama pelatihan, tidak hanya mereka semua orang juga tampak terlihat bergabung dengan kerumunan untuk mendengarkan apel pagi hari yang dipimpin oleh petualang senior berkepala plontos Edgar.
"Yo, para penerus petualang di masa depan.. kedepannya kalian akan mendapatkan pelatihan keras jadi bersiaplah."
Beberapa orang mengangkat tangannya.
"Ada apa?"
"Kami hanya bertanya kenapa para budak ikut bergabung pelatihan juga?"
Mereka menunjuk kelompok yang terpisah dari yang lainnya, Mebel menunjukkan wajah kesalnya sementara Elsa dia sembari menyilangkan tangannya.
"Ini bukan urusanmu, terserah kami melakukan apapun yang kami mau."
Edgar menepuk jidat.
"Kalian masih mengatakan hal itu, mereka itu siswa khusus dan juga bukan berarti budak dilarang jadi petualang juga, selagi tuannya mengizinkan itu bukan masalah."
"Anda mengakui bahwa Anda menerima suap dari pemilik mereka."
"Dasar bodoh, jika kau tahu siapa yang telah memintanya kau tidak akan mengatakan itu."
Seketika Edgar mengingat apa yang terjadi sebelumnya.
Edgar saat itu memiliki reaksi sama saat Adi pertama kalinya membawa budak, mengingat bahwa para budak kerap dijadikan sebagai perisai daging Edgar jelas menolaknya, namun Adi mengatakan bahwa dia tidak akan melakukan hal-hal seperti menumbalkan mereka untuk melangkah maju, untuk memberikan kepercayaan tersebut Adi menantang Edgar dalam pertarungan satu lawan satu. Dan hasilnya tentu saja bisa ditebak.
Edgar yang merupakan mantan petualang tingkat 3 bisa dikalahkan oleh petualang tingkat 8, merupakan sesuatu yang mustahil.
"Sudah lupakan apapun yang ingin kalian tanyakan, masuklah ke dalam kelas sekarang atau aku akan memberikan tugas sulit."
__ADS_1
"Baik."
Tugas sulit terkadang bisa dijadikan ancaman jika diperlukan.