
Menggunakan Adi sebagai pengalihan, Rinko telah melompat ke udara, sekujur tubuhnya mengeluarkan hawa dingin yang bergabung dengan terik matahari menghasilkan asap ke udara.
Dia memutar pedangnya dan hanya hitungan detik kedua pedangnya menancap baik di kepala sosok pelindung Kaisar. Perlahan pelindung itu membeku dan hancur membuat Adi bisa menerjang maju ke depan.
Kaisar berusaha melindungi dirinya dengan mengaktifkan sihir yang membuat tubuhnya menjadi besi baja, sayangnya gerakan Adi lebih cepat dan tak perlu di katakan lagi jantung Kaisar tertembus pedangnya hingga tetesan darah menetes membasahi tanah.
"Sudah berakhir."
Tepat saat Adi menarik pedangnya, tubuh kaisar telah roboh ke depan dengan wajah lebih dulu.
Adi mengulurkan tangan untuk membantu Rinko berdiri akan tetapi ia merasakan sesuatu yang janggal pada tubuhnya, di mana jantungnya berada kini telah ditarik ke depan dengan sebuah tangan memegangnya.
Mesna yang melihat dari dalam sistem terkejut hingga kehilangan kata-kata, begitu juga Rinko yang memiliki ekpresi sama.
"Bagaimana bisa, aku yakin telah menusuk jantungmu?"
"Sayang sekali tapi aku ini abadi."
Jantung Adi dihancurkan begitu saja saat tubuhnya tumbang ke tanah.
"Beraninya kau?!" teriak Rinko hendak bergerak namun kedua tangannya telah terbang ke udara, hanya dengan ayunan tangan Kaisar hal itu terjadi dengan cepat.
__ADS_1
"Sayang sekali cheat sesungguhnya yang aku ambil adalah ini."
Rinko memperhatikan tangan Kaisar dengan seksama dan ia segera menyadari sesuatu yang penting.
"Pedang milikmu tidak memiliki wujud."
"Tepat sekali."
Kepala Rinko terpenggal ke udara hingga terlempar beberapa meter jauhnya, sebelum kepala itu jatuh ke tanah, dunia kembali berhenti, retak kemudian pecah. Seolah mirip dengan adegan dari film, setiap kejadian kembali di putar kembali tepat saat Rinko menusuk pelindung milik Kaisar sementara Adi menusuk jantung musuhnya seperti sebelumnya.
"Sudah berakhir."
"Adi cepat mundur!" atas teriakan Rinko, dia secara spontan melompat mundur saat tubuh Kaisar kembali bergerak.
"Tadinya aku ingin membunuhmu diam-diam, sungguh tidak terduga bahkan kau mengetahuinya Rinko," kata Kaisar.
Adi melirik ke arah Rinko yang dengan kecewa menganggukkan kepalanya, ia menyadari bahwa ini kedua kalinya dia mati, alih-alih menggunakan Izanami, Rinko lebih memilih Izanagi yang lebih mudah disembunyikan agar musuhnya tidak mengetahuinya.
Kini jika Adi mati maka tidak ada kesempatan lagi, di sisi lain Rinko sudah kehilangan mana hingga dia perlu waktu untuk memulihkan diri.
"Mundurlah Rinko aku yang akan mengambil alih pertarungan ini."
__ADS_1
Mesna jelas tidak menyetujuinya, waktu memang berputar tapi tidak bagi Mesna, dia masih mengingat bagaimana Adi dibunuh dengan begitu kejam.
"Lupakan ini Adi, lawan kali ini sangatlah kuat, dia abadi.... lebih baik kita mundur saja untuk saat ini."
Adi merasa jika dia mundur maka tidak akan ada lagi kesempatan untuk menyerang lagi sampai sejauh ini. Dia berfikir sejenak untuk memutuskan langkah berikutnya.
"Tidak ada manusia seperti itu, aku hanya harus tahu trik yang digunakannya."
"Adi?"
"Mungkin dia hanya bisa hidup beberapa kali lagi, aku harus mencobanya."
Mesna menunjukan wajah kekhawatirannya, jika Adi mati dia akan kembali ke alam dewi dan jika hal itu terjadi, maka di akan bekerja lagi.
"Aku tidak mau bekerja."
"Apa kamu mengatakan sesuatu barusan?"
"Tidak, semoga beruntung."
Adi mencengkeram pedangnya sebelum ia menyelimutinya dengan sihir petir yang ditembakkan ke arah Kaisar, dengan wajah mengantuk dia hanya menepisnya ke samping.
__ADS_1
"Apa kau serius menggunakan sihir lemah seperti itu, baru sekarang aku bertemu dengan seorang pahlawan yang tidak bisa menggunakan sihir sesungguhnya... pertama, yang aku inginkan adalah melihat wajah seperti apa di balik topengmu itu."