
Adi secara mengejutkan merasakan sesuatu yang aneh, dia meninggalkan Lucia di belakang dan berlari menuruni tangga.
"Tunggu, kau mau kemana?"
Vern juga merasakan hal sama dan segera berlari di sebelah Adi keluar akademi, mereka menerobos kerumunan orang-orang untuk sampai ke sebuah gang dan melihat bahwa sekitar lima penjaga telah menjadi mayat. Di dinding terdapat goresan cakar raksasa seolah dibuat oleh binatang buas.
Hanya sesaat saja Adi maupun Vern bisa merasakan energi mana yang mengerikan.
"Tuan, ini?"
"Pasti ulah Demonic yang kita bicarakan sebelumnya."
"Mengerikan."
Adi maupun Vern melompat ke atas bangunan untuk melihat apa mereka bisa menemukan petunjuk kecil di sana, Vern lebih dulu menemukannya.
"Ada seseorang berjubah yang berlari di sana."
"Kejar, jangan sampai membiarkannya lolos."
"Baik."
Keduanya mulai bergerak.
Adi melompat ke bawah sedangkan Vern mengejar dari atas, dengan penglihatan cepat Adi bisa menemukan arah kemana orang tersebut berbelok.
Ia masuk ke dalam gang kemudian muncul di jalanan utama untuk menyergapnya tanpa terdeteksi, ia menarik pistolnya namun ketika dia mengarahkannya ke depan, yang berdiri di sana adalah Vern yang mengangkat tangannya.
"Jangan tembak."
"Vern? Kemana orang tadi?"
"Tidak tahu, Vern yakin sudah mengejarnya. Dia seolah menghilang begitu saja."
"Apa mungkin sihir teleportasi, kemungkinan ia datang untuk melihat situasi atau sebagainya."
Firasat Adi semakin buruk, sebelum ada yang melihat, keduanya kembali ke akademi dan mulai merundingkan semuanya dengan Yorin.
"Sulit untuk kita tahu apa pelakunya ada di akademi atau tidak."
"Aku sempat sedikit menggali informasi, namun belum menemukan hal aneh."
"Walau begitu kita akan terus mencari tahu besok."
Adi mengambil jeda sesaat untuk melanjutkan.
"Kenapa kalian berada di tempat tidurku?"
"Aku sudah mengantuk, selamat malam."
"Aku juga."
"Kalian berdua."
Adi hanya bisa pasrah bahwa tempat tidurnya agak sempit sekarang, dia membuka jendela menunya untuk melihat Mesna yang cekikikan.
__ADS_1
"Apapun yang kamu pikirkan tidak akan pernah terjadi?"
"Sayang sekali kalau begitu."
Adi mulai menyisir barang belanjaan yang ditawarkan di sana, tidak ada alasan khusus kenapa dia melakukannya. Ia hanya ingin menghabiskan waktu sebelum dia benar-benar mengantuk.
Pagi berikutnya Adi mendapatkan semua laporan yang ditulis dari Vern.
"Ini adalah orang-orang yang cukup mencolok di sini, beberapa dianggap seorang yang cupu tapi belakangan ini mereka berubah menjadi sosok berbeda, orang yang lemah dengan olah raga tiba-tiba jadi mahir, orang yang sebelumnya selalu rank bawah menjadi di atas, masih banyak kejanggalan lainnya."
"Kerja bagus Vern, dari sini biar aku yang mengurusnya."
"Laksanakan."
"Ngomong-ngomong kenapa semua orang membangun panggung megah," atas pernyataan Adi, Vern berpose imut.
"Tentu saja untukku, saat mereka tahu aku bisa bernyanyi mereka melakukannya begitu saja."
Adi bisa melihat semua orang terlihat menikmatinya.
"Ini demi Vern kita, berjuang."
"Berjuang."
Bahkan para guru juga turut melakukannya.
Keimutan Vern harus disegel segera mungkin.
Di sela istirahat Lucia tanpa terduga telah berdiri di depan Adi yang menguap bosan.
Adi hanya berfikir sejak kapan dia harus pergi ke sana, lebih buruk bahwa hari ini udara cukup panas jika menghabiskan waktu di sana.
"Aku hanya sedang malas bergerak."
"Kau benar-benar?"
Vern yang sedang mengobrol dengan anak-anak populer mendekat karena penasaran.
"Adi siapa gadis ini?"
"Ia bilang dia tuan putri."
"Ada apa dengan nadamu, itu seolah aku putri palsu."
Di saat yang sama Adi maupun Vern dapat sesuatu yang penting.
"Jangan bilang?"
"Ada apa, kenapa kalian terkejut?"
Adi terlihat frustasi karena baru menyadarinya, kemungkinan besar alasan kenapa Demonic menyelinap ke akademi karena putri di depan mereka.
"Benar juga, kamu tuan putri kah, aku baru mengingatnya."
"Kau membuatku terluka."
__ADS_1
"Jika kamu bisa membawa kami berkeliling istana mungkin kami akan terus mengingatnya."
Adi merasa bersalah harus memanfaatkan gadis kesepian dengan cara seperti ini, namun ini jalan satu-satunya untuk tahu siapa sebenarnya putri ini, bahkan sejauh ini Adi masih berfikir kenapa tahta lebih diberikan padanya dibandingkan pada Alicia? Awalnya Adi berfikir itu mungkin karena Alicia lebih memilih menjadi petualang namun di sisi lain apa ada alasan lain?
Lucia menaikan bahunya pasrah.
"Apa boleh buat, akan aku tunjukkan istana setelah sekolah ini usai, berterima kasihlah hoho."
Ini sesuai yang diinginkan Adi, tour istana bukan sesuatu yang buruk. Vern membaca situasi ini dan ia akan bersiap dengan topeng dan pakaian ketat yang menyembunyikan keberadaannya.
Seusai sekolah Lucia sedikit bingung berdiri di depan gerbang masuk.
"Kemana temanmu yang satunya lagi?"
"Dia ada sedikit urusan jadi tidak masalah jika hanya aku bukan yang ikut."
"Tak masalah sih, tapi apa benar-benar ada yang lebih berharga dari tour istana, tidak semua orang bisa mendapatkannya terlebih di antar oleh putri sendiri."
Adi hanya tersenyum masam sebagai balasan, pasalnya Vern ada di sebelahnya terus mengikuti dari belakang hingga mereka telah sampai di istana.
Para penjaga membungkuk saat mereka berpapasan dengan tuan putri, ketika ia menjelaskan situasinya Adi juga turut mendapatkan penghormatan sebagai tamu khusus.
"Mengingat kamu memiliki banyak penjaga, bukannya akan lebih bagus untuk mengambil beberapa seperti pengawal pribadi."
"Hal itu tidak diperlukan jika ada di ibukota ini, jika aku keluar baru aku akan mengambil beberapa untuk mengawasiku."
Dia benar-benar lengah, Adi melirik ke arah belakang dan Vern mengeluarkan pisau dari tangannya sebelum berjalan pergi.
Jelas sekali ada seseorang yang mengawasi mereka.
"Ada apa Adi?"
"Bukan apa-apa, jadi tempat seperti apa yang kita kunjungi pertama kali."
"Aku senang kamu menanyakannya, bagaimana dengan halaman istana... ayah, maksudku raja ia senang memelihara ikan kamu pasti akan menyukainya, kakak juga suka menghabiskan waktu di sana untuk minum teh."
Adi sedikit tidak percaya bahwa Alicia sebenarnya seorang gadis yang feminim.
"Aku tahu apa yang kau pikirkan, tapi kakak itu gadis yang lembut dan sangat feminim ayah dan ibu menangis saat ia bilang mau jadi petualang... kakakku terlalu keras pada dirinya, padahal kami tidak mempermasalahkan soalnya menolak lamaran pernikahan dari kekaisaran."
Selagi berjalan Lucia menjelaskan dengan detail tentang kakaknya, hampir semuanya hingga jika orangnya ada ia pasti akan merasa malu.
Di sisi lain Adi memiliki senjata yang bisa membuatnya untuk menggoda Alicia, paling tidak ia ingin melihat reaksi feminimnya.
Mesna menggelengkan kepalanya tanpa berkomentar apapun.
Sesampainya di taman mereka bisa melihat kolam luas yang semuanya dipenuhi ikan warna-warni yang cantik.
"Bagaimana, kamu kagum? Ikan-ikan ini merupakan ikan langka yang tidak ada di kerajaan lain."
Bagi dunia ini memang langka namun di dunia Adi ikan seperti ini sudah sering ditemui.
Mereka ikan koi meski begitu tetap saja merupakan pemandangan yang indah untuk disaksikan.
"Hati-hati jangan menyentuhnya, ayah bilang mereka akan menggigitmu?"
__ADS_1
Jelas sekali gadis ini mudah dibohongi.