
Beberapa jam sebelumnya, kelompok Yuela yang terdiri dari Lidia dan Alex telah menerobos lantai 10 menara surga yang seluruh areanya di penuhi tulang berulang, ketika mereka melangkahkan kaki akan terdengar suara retakan di sana yang membuat semuanya terdengar kurang nyaman.
"Cih... tempat ini benar-benar buruk... berapa orang yang mati karena datang ke tempat ini?"
Alex dengan kasar mengambil kepala tengkorak yang dia hancurkan begitu saja.
"Mungkin sekitar puluhan ribu," balas Lidia di sampingnya. Sementara Yuela berdiri di depan keduanya dengan pedang di tangannya.
Yuela melirik ke arah kiri dan kanan, saat ia menyadari sesuatu telah datang padanya, dia mendongak ke atas dan melihat seekor laba-laba raksasa telah menatap ketiganya dengan air liur di mulutnya.
Laba-laba tersebut tidak terlihat biasa dimana di punggungnya menempel seorang pria setengah badan dengan empat tangan serta rambut panjang sepunggung.
Dia tidak memiliki mata namun laba-laba tersebut sudah punya banyak di kepalanya.
"Dia datang."
Lidia melompat ke udara bersamaan laba-laba yang menerjang jatuh pada ketiganya, menggunakan perisainya dia blok monster tersebut kemudian membantingnya ke samping menabrak tumpukan tulang berulang hingga tubuhnya menempel di dinding.
Laba-laba tersebut hendak bangkit namun Alex sudah berdiri di depannya untuk memberikan tendangan kuat, laba-laba tersebut meledak dahsyat, menyemburkan darah hijau ke segala arah.
Tanpa Yuela pun jelas mereka sudah mengalahkan bos lantai dengan mudah.
"Yang barusan cukup lumayan," kata Lidia santai yang segera dibantah Alex dengan kesal.
__ADS_1
"Apanya yang cukup? Monster ini tidak terlalu kuat, aku perlu lebih."
"Kurasa sesuatu yang lebih itu telah datang."
Keduanya mengikuti pandangan Yuela dan melihat segerombolan laba-laba yang lebih kecil mulai maju untuk menyerang, mereka lebih lemah dari sebelumnya hanya saja jumlah yang banyak tetap membuat mereka kerepotan.
Yuela mengayunkan pedangnya untuk membuka jalan yang bisa dilalui ketiganya ke lantai 11, di lantai ini mereka dikejutkan dengan sosok yang telah menunggu mereka, dia merupakan guru mereka di masa lalu, sekaligus seorang yang berpengaruh di kota suci, Flora.
"Kalian sudah semakin kuat."
Alex kebingungan.
"Bagaimana kau bisa ada di sini?"
"Anda membuat pertarungan kami terasa sia-sia."
"Tidak begitu, kalian bisa jadi semakin kuat bukan, setelah melewati banyak kesusahan."
Yuela menjatuhkan bahunya dan di saat yang sama Flora melanjutkan.
"Aku datang untuk meminta bantuan, kelompok Rinko sedang melawan raja iblis Nafsu, aku ingin salah satu dari kalian membantu di sana, tentu setelah selesai aku akan mengirim kembali ke tempat ini lagi."
Yuela kembali memastikan
__ADS_1
"Apa mereka dalam kesulitan?"
"Menurut masa depan yang kulihat ada iblis yang cukup kuat yang bisa mengalahkan bawahan Rinko."
"Kalau begitu aku saja."
Alex menawarkan dirinya yang mana membuat semua mata tertuju padanya heran.
"Apa yang kalian ingin katakan hah? Lantai ini tidak terlalu kuat dari yang aku pikirkan, akan lebih menyenangkan jika aku saat ini bertarung dengan jenderal iblis atau sebagainya."
"Aku mengerti."
Flora dan yang lainnya hanya heran Alex memiliki kepedulian terhadap orang lain terlepas dari sosok monster yang bersemayam di tubuhnya.
Dengan jawaban ingin bertarung dengan lawan lebih kuat, itu baru lebih masuk akal.
"Lalu kenapa tidak Anda saja yang menyelematkan mereka?" tanya Lidia merasakan hal sama seperti yang dirasakan Rinko.
"Itu karena aku harus tetap tersembunyi, semakin sedikit orang yang tahu bahwa aku bisa bertarung akan lebih bagus bukan."
"Anda bertingkah seperti tuan putri yang tersakiti saat siang hari dan malam hari adalah monster berdarah dingin," tambah Lidia dilebih-lebihkan.
"Tentu saja tidak, perumpamaanmu terlalu aneh, kalau begitu aku mengandalkanmu Alex."
__ADS_1
Flora mengirim Alex dengan sihir teleportasinya begitu saja.