
Yang mereka buru adalah kumpulan kelinci putih yang memiliki gigi layaknya gergaji, mereka memiliki kaki yang kuat dan bergerak dengan cepat, yang merepotkan mereka menyerang secara berkelompok.
Adi berlari sembari menembakan peluru dari revolvernya, beberapa kelinci tertembak dan beberapa lagi terus mengejarnya, di sisi lain Sonya hanya berdiri di tempatnya dengan tangan mengayunkan pedang miliknya, gerakannya begitu cepat hingga tidak bisa dilihat dengan mata.
Ia hanya mengincar kepala mereka untuk mempertahankan kulitnya dengan baik.
Setelah 30 menit semuanya telah selesai, Adi menghitung cepat dan menyadari paling tidak ada sekitar 200 kelinci di tempat ini dalam kondisi mati, ia memunculkan pisau untuk mengambil kulit dan dagingnya. Sonya juga mengambil pekerjaan yang sama. Melihat bagaimana dia menggerakkan pisau dengan lihai jelas sekali Sonya begitu terampil dalam banyak hal.
Setelah selesai Adi mengambil beberapa untuk dimasak olehnya, Sonya duduk di bawah pohon sembari melihat Adi yang dengan sumpitnya memasukan setiap daging kelinci yang dibuatnya menyerupai bola-bola kecil.
"Tuan Adi pandai memasak, saya merasa kagum saat melihat Anda melakukannya."
"Sesungguhnya aku lebih kagum denganmu yang begitu pandai bertarung."
"Saya merasa seorang gadis tidak akan senang jika mereka dipuji pandai bertarung."
Adi merasa mungkin itu perkataan yang tepat, itu terdengar seperti seorang pria yang memuji seorang wanita karena memiliki otot kuat.
Adi memikirkan cara lain untuk memujinya.
"Beberapa hari ini aku rasa Sonya cukup manis, yah awalnya kamu terlihat seperti pejuang saja tapi terkadang kamu juga terlihat seperti gadis pada umumnya."
__ADS_1
Hal itu dikatakan Adi karena pernah melihat Sonya terkadang bermain-main dengan seekor kucing liar, dan saat itu ia terlihat manis.
Wajah Sonya memerah, kehilangan kata-katanya dan hanya menundukkan kepalanya malu.
"Mari buat bayi."
"Tidak!"
Adi jelas tidak boleh lengah sedikipun, ia bertanya kenapa Sonya, kenapa begitu tertarik padanya dan jawabannya cukup membuat Adi terguncang.
"Aroma Anda terasa enak."
"Apa Anda baik-baik saja?"
"Tidak, aku hanya mengingat sesuatu yang tidak ingin aku ingat."
"Soal aroma?"
"Bukan apa-apa, bisa kamu jelaskan hal barusan."
"Saya bisa mencium aroma mana seseorang, mana Anda dipenuhi kehidupan."
__ADS_1
Perkataan tersebut jelas membuat Adi kebingungan, apa mana memiliki aroma? Ia memilih untuk mengabaikan hal tersebut dan hanya fokus pada masakannya. Setelah menumpuk bola-bola daging di atas mangkuk besar ia mulai menuangkan saos di atasnya. Memakannya dengan cara seperti ini membuat makanan terasa mewah.
"Mari kita coba, selamat makan."
"Enak, apa masakan di dunia lain selalu terasa seperti ini tuan?"
"Kurasa begitu, semakin perkembangan zaman, masakan juga mengalami hal sama.. di duniaku setiap orang terkadang berlomba-lomba untuk menemukan menu baru lalu membagikannya ke semua orang lewat media sosial."
"Media sosial?" Sonya memiringkan kepalanya tidak tahu namun Adi jelas memintanya untuk melupakan perkataan tersebut hingga Sonya kembali mengambil bola-bola tersebut.
Biasanya masakan seperti ini menggunakan daging unggas akan tetapi daging kelinci juga tidak kalah enak.
Adi dan Sonya kembali ke kota untuk menjual hewan buruan mereka, mereka menemukan sebuah toko di dalam kota yang dijaga seorang wanita cantik bergaun indah serta memiliki rambut panjang hijau lurus.
"Selamat datang, apa ada sesuatu yang bisa aku bantu?"
"Kami ingin menjual ini, apa bisa?"
"Biar aku lihat dulu."
Wanita itu mulai menilai semuanya.
__ADS_1