Terlahir Kembali Di Dunia Lain Dengan Sistem Belanja Online

Terlahir Kembali Di Dunia Lain Dengan Sistem Belanja Online
Chapter 15 : Keputusan Dari Seorang Putri


__ADS_3

Sudut pandang Alicia.


Itu adalah sebuah dungeon yang dikenal sebagai gua goblin, walau lantainya sendiri tidak terlalu banyak setiap areanya tetap terbilang luas.


Setelah Adi menyelesaikan keseluruhan dari tempat ini, banyak petualang pemula yang mencobanya pasalnya Adi bukan hanya menaklukannya melainkan juga membuat peta serta langkah-langkah apa saja yang di lakukan dalam menaklukannya. Hal ini sangat membantu khusunya mengurangi jumlah kematian bagi para petualang pemula.


Menjadi petualang merupakan pekerjaan yang menjanjikan. Namun, di dalamnya juga tersirat resiko yang besar pula, setiap tahunnya banyak orang yang mati karena pekerjaan ini bahkan ketika mereka tidak dihadapkan dengan pertarungan melawan iblis hasilnya tetap sama.


Hal itu juga yang dipikirkan Alicia saat dia mengayunkan pedangnya untuk membelah tulang tengkorak goblin yang muncul untuk menyergapnya, di sisi lain dua pengawalnya yang setia turut membantu melawan goblin di sekitarnya.


Alicia terduduk lemas dengan nafas terengah-engah, ia memiliki hidup nyaman di kerajaan akan tetapi ia malah memilih untuk bertarung semuanya demi kerajaan sekaligus demi dirinya sendiri.


Wilayah kekaisaran telah menawarinya kerja sama akan tetapi ia menolaknya, permintaan kekaisaran tidaklah masuk akal khususnya menjadikan dirinya sebagai selir. Alicia adalah gadis biasa yang menginginkan kisah romantisnya sendiri jika dia harus menjadi selir seseorang maka itu bukanlah pilihan yang diinginkan olehnya.


Untuk orang tuanya sendiri mereka tidak punya pilihan selain mendukung apapun keputusannya, bagi mereka Alicia putri mereka yang berharga bahkan jika harus mempertaruhkan negara mereka dalam kehancuran. Singkatnya Alicia diberkahi oleh keluarga baik.


"Tuan putri Anda tidak apa-apa?" kata pria A di susul pria B.


"Kita sudahi saja untuk saat ini."


"Benar."


Melihat bagaimana pengawalnya begitu keras kepala meyakinkannya maka tidak ada pilihan baginya untuk tidak menurut. Ketiganya kembali ke kota dan menemukan seorang pria yang dikenalnya sedang membagikan selembar pembukaan dari toko di belakangnya.


"Heh, Adi membuka kedainya sendiri?"


"Tuan putri."


"Tolong jangan terlalu formal, panggil saja aku Alicia."


Alicia memutuskan mencoba seperti apa makanan bernama hamburger tersebut, ia membelikan dua untuk dibungkus agar pengawalnya lebih dulu kembali.


Adi yang menawarkan kamar mandinya digunakan oleh Alicia menyerahkan Alicia untuk ditangani Elsa. Elsa sendiri tidak keberatan bahkan sekarang dia tanpa ragu memanjakan Alicia dengan memandikannya.


"Aku bisa melakukannya sendiri."


"Tidak baik untuk seorang putri mandi sendirian, biar aku yang merawat Anda. Ngomong-ngomong putri dada Anda juga cukup besar."


"Walaupun tidak sebesar punya Elsa."


"Yang terpenting bentuknya pria cenderung lebih menyukainya."


Alicia sedikit memerah, dia hanya berfikir Elsa lebih berpengalaman dengan hal-hal seperti itu. Bagi Alicia sendiri dia senang jika memiliki seseorang yang dapat ia ajak bicara seperti ini.


"Kalau begitu tuan putri aku akan membasuh rambut Anda."


"Iya."


Elsa tidak memiliki niat jahat apapun, dia hanya ingin melakukan pelayanan terbaik untuk gadis di depannya, jika di luar Alicia terlihat tegar namun sesungguhnya dia hanyalah gadis yang rapuh. Ia sedikit menangis saat melihat pantulan dirinya di cermin.

__ADS_1


Elsa sendiri menawarkan dirinya untuk mendengarkan cerita yang terjadi kenapa dia harus menjadi seorang petualang dan Alicia juga tidak keberatan untuk menceritakannya.


"Karena keputusan egoisku, aku membawa kerajaanku dalam bahaya."


Elsa membantahnya dengan tatapan layaknya seorang ibu.


"Tidak juga, apa salahnya jika seorang gadis memikirkan soal romantisnya sendiri.. semua orang berhak memutuskan siapa yang mereka ingin nikahi dan hidup bersamanya, sejujurnya para bangsawan terlalu peduli memperhatikan gelar mereka hanya untuk memajukan keluarga mereka dalam sebuah pernikahan dini, aku tidak terlalu menyukainya."


"Tapi kerajaan."


"Untuk apa menikah jika tuan putri sendiri tidak mengharapkannya, lagipula kerajaan akan baik-baik saja meski Anda memilih jalan seperti ini."


Alicia terlihat penasaran dengan perkataan Elsa yang dipenuhi kepercayaan diri tersebut. Ia dengan ragu bertanya.


"Alasannya?"


"Tidak hanya kekaisaran, kita juga memiliki pahlawan sendiri, ia bahkan lebih kuat dari mereka."


Elsa enggan untuk menyebut siapa yang dimaksud, sebagai gantinya ia memberikan pakaian baru yang cocok untuk dikenakan Alicia sebelum membawanya untuk duduk di kursi pelanggan.


Yorin yang bertugas membawa makanan pesanannya, muncul dan menaruhnya di dekatnya.


"Silahkan menikmati tuan putri."


"Aku akan senang jika kalian memanggilku Alicia saja."


Elsa dan Yorin saling memandang sebelum mengangguk menyetujuinya, yang terlihat sekarang hanyalah pemandangan seorang gadis yang terlihat bahagia hanya dengan sebuah hamburger.


Brietta berjalan-jalan si sekitar jalanan pasar dengan ditemani oleh Misa yang terlihat kebingungan dikelilingi pria.


"Boleh kami lewat?"


"Kamu telihat manis, apa tidak sebaiknya main dengan kakak."


"Lihat bos ada loli juga, dia juga tampak manis."


Mereka sedikit terlambat menyadari bahwa gadis itu memiliki tanduk di atas kepalanya.


"Apa lihat-lihat, mau aku bunuh kah."


Wajah mereka memucat sebelum akhirnya berlarian panik. Misa menarik nafas lega.


"Terima kasih Brietta aku sangat terbantu."


"Aku hanya berniat menyelamatkan mereka, jika tidak mereka akan mati."


"Mati?"


Keduanya mengalihkan pandangan ke arah tempat lain dimana Kamui tampak terlihat kesal sebelum beralih ke wajah sedia kala untuk mendekat.

__ADS_1


"Kamu lupa membawa daftar belanjaannya Misa."


"Maafkan aku, aku ceroboh."


"Tidak masalah, lain kali hati-hati.. kalau begitu dadah."


Kamui berjalan pergi, bagi Misa sendiri ini pertama kalinya dia berbelanja.


"Apa-apaan dengan gadis itu? Aku merasakan hawa membunuh sesaat dan kemudian lenyap begitu saja."


Misa hanya tertawa masam atas pernyataan Brietta sebelum berjalan kembali selagi memegangi tangannya.


"Oi, aku bukan gadis kecil."


"Tak apa, berpegangan tangan di tempat ramai sudah biasa bukan."


Brietta tidak bisa menyangkalnya dan hanya mengikuti gadis di sampingnya kemana pun dia pergi, dia kebanyakan membeli bahan untuk digunakan di kedai termasuk makanan mereka sendiri.


"Aku pesan ini, ini dan ini."


"Yos, semuanya empat koin perak."


"Terima kasih."


"Datang lagi yah."


Brietta membawa belanjaan tersebut seolah tidak masalah dengan beratnya.


"Maaf membuatmu harus membawanya untukku."


"Ini masih belum apa-apa, tapi sungguh aku kesal."


"Kesal kenapa?"


"Kenapa wanita di kota ini terlihat cantik-cantik dan juga tinggi-tinggi."


"Benarkah, aku tidak memperhatikan."


Brietta mengembungkan pipinya.


Ia memiliki kondisi berbeda dengan para naga lainnya, ketika menjadi naga Brietta lebih besar dibandingkan naga lainnya namun berbanding terbalik saat dia menjadi manusia. Dia hanya menjadi loli yang menarik banyak lolicon ke dekatnya.


"Hey adik kecil, kamu mau permen? Guakh."


Seorang yang baru menawarkan hal itu telah dipukul terbang ke langit oleh tinju Brietta, Misa yang melihatnya berdoa untuk kehidupannya selanjutnya.


"Apa yang kau lakukan? Ayo pergi aku lebih nyaman di kedai."


"Baik."

__ADS_1


Keduanya berjalan bersama untuk melintasi orang-orang yang berlalu lalang di depannya.


__ADS_2