
Tak perlu waktu lama sebelum mereka bertiga dikepung oleh para pahlawan.
Rinko, Adi dan Elsa saling membelakangi.
"Tiga lawan 20 bukannya sudah waktunya kalian menyerah, untuk wanita kami akan mengampuni mereka namun sebagai gantinya akan kami gunakan sebaik mungkin dan pria aku mungkin akan menjadikannya pembantu," ucap salah satunya.
Adi berkata.
"Apa dari mereka ada orang yang kamu kenal Rinko?"
"Tidak, pahlawan yang dipindahkan bersamaku kemungkinan sudah mati... kaisar perlu keturunan terbaik, jadi saat mereka sudah melahirkan puluhan anak, para pahlawan akan dieksekusi dan menyebarkan berita seolah mereka kalah saat melawan raja iblis."
Mendengar pernyataan Rinko yang tidak terduga membuat para pahlawan berteriak.
"Jangan bercanda, kami diperlakukan dengan baik di sini, kami tidak mungkin dibunuh."
"Kalian begitu bodoh, apa menurut kalian kenapa kaisar memperlakukan kalian dengan baik jika dia tidak mendapatkan untung dari kalian? Baginya kalian hanya berharga untuk melindungi negerinya sendiri."
"Bukannya kami menghasilkan keturunan kuat untuk negeri ini, katanya keturunan pahlawan kerap memiliki fisik kuat dan mana tinggi, itu sudah cukup menguntungkan."
"Itu hanya sebagian saja, bagaimana pun kalian melihatnya kalian hanya dijadikan semacam hewan ternak."
Adi menarik revolver-nya untuk berjaga-jaga jika kemungkinan mereka akan secara serempak menyerang ketiganya. Sebuah suara muncul dari belakang mereka.
"Jangan dengarkan dia, dia adalah musuh bagi kekaisaran ini... kemungkinan dia bekerja sama dengan pasukan raja iblis untuk memusnahkan tempat tinggal kita."
__ADS_1
"Keus," panggil Rinko lalu menjelaskan tetang kemunculan pria rambut belah dua yang terlihat sekitar di awal 50an.
"Dia pelatih para pahlawan, meski tidak benar-benar dikirim ke medan perang, pahlawan masih menerima pelatihan seperti itu."
Adi merasa bahwa ini merepotkan.
"Jika demikian kita hanya perlu melewati mereka, Elsa, Rinko tutup mata kalian."
Adi melemparkan sebuah granat ke udara, ketika semua orang bertanya-tanya benda apa itu, granat tersebut meledak menelan semuanya dalam warna terang menyilaukan.
"Mataku."
Dengan sigap Adi menarik tangan kedua rekannya untuk meninggalkan kerumunan di belakangnya.
"Sial, jangan biarkan mereka sampai kepada yang mulia."
Elsa berhenti di depan gerbang istana.
"Biar aku yang mengatasi mereka, majulah."
Adi maupun Rinko mengangguk mengiyakan, mereka memilih mempercayai Elsa yang sudah melepaskan gaunnya menunjukkan dirinya yang diselimuti pakaian ketat, dalam waktu singkat dia langsung menghilang. Tepat saat mereka mendekat, mereka diterbangkan oleh sihir angin hingga terpental ke udara beberapa ratus meter.
Keus menutupi wajahnya.
"Dimana dia? Kalian semua berhati-hati."
__ADS_1
"Gwaaaaaah."
Dua orang pahlawan berteriak selagi memegangi tenggorakan mereka yang tertebas oleh pisau. Darah menetes ke tanah dan tidak ada cara untuk mencegah kematiannya.
Secara perlahan satu persatu dari mereka mulai jatuh.
"Apa-apaan ini?"
Beberapa menembakan sihir seperti orang gila selagi berteriak "Mati, mati." Seperti kebanyakan orang, siapapun yang berada di medan perang sesungguhnya selalu mendapatkan keunggulan.
Salah satu pahlawan menebaskan pedangnya saat dia berhasil mengetahui keberadaan Elsa sayangnya Elsa lebih dulu melompat untuk menghindar. Dia menjepit kepalanya lalu memutarnya sampai roboh.
"Kalian terlalu lemah, kalau begitu tinggal satu orang lagi."
Keus sedikit memucat saat melihat anak didiknya dibunuh dengan mudah, Elsa sendiri telah melewati banyak pelatihan serta medan perang sesungguhnya, tidak berlebih jika seluruh Shadow Hunter disebut sebagai mesin pembunuh.
Setelah meyakinkan dirinya lebih kuat Keus menerjang dengan pedang di tangannya, Elsa tidak menghindarinya melainkan membenturkannya dengan pisau miliknya menghasilkan percikan api ke udara bersamaan lengkingan memekikkan telinga.
"Tebasanku bisa di tahan!"
"Ayolah, bukan ini saja kekuatan dari pelatih pahlawan bukan, tunjukan aku semuanya, akan aku berikan keringanan dengan membuatku tidak terlihat lagi."
"Jangan meremehkan aku."
Elsa menendang perut Keus sekuat tenaga hingga dia menukik menembus bangunan.
__ADS_1
Keus sendiri mulai bangkit dari reruntuhan sembari meneguk potion penyembuh.