
Sudut pandang penduduk desa.
Saat desa kami diserang pasukan raja iblis, aku dan yang lainnya berhasil menaiki kapal uap untuk melarikan diri. Meski begitu, tidak terduga bahwa badai tiba-tiba saja terjadi.
Aku membantu semua orang agar tidak terlempar ke air lebih dulu sebelum berlari dan berkata ke arah orang yang mengendalikannya.
"Kenapa bisa ada badai?"
"Aku sepertinya salah mengambil jalan," balasnya memucat.
"Apa maksudmu?"
"Tidak salah lagi kita berada di kawasan segitiga bermuda, kawasan ini menolak kapal uap melintas, jika ada yang melewatinya maka hantu laut akan marah dengan membuat badai untuk menenggelamkan kita."
"Mustahil."
Karena emosi aku menarik kerahnya dan berteriak.
"Apa yang kau lakukan? Kau tahu sudah sangat sulit untuk bisa lolos dari pasukan raja iblis dan sekarang kami harus mengalami hal mengerikan ini, kau tahu seberapa banyak penduduk desaku yang tewas di sana."
"Apa boleh buat, wilayah ini sangat sulit untuk dijelajahi terlebih jika kau menggunakan perahu kau tidak akan bisa lolos dari mereka."
Aku melepaskan tanganku lalu menundukkan kepalaku, aku sudah menyeretnya ke dalam situasi seperti ini, bahkan aku tidak memiliki hak memprotesnya.
"Apapun itu, cepat keluarkan kami dari situasi seperti ini."
"Aku tahu."
Aku meninggalkan ruang kendali untuk kembali membantu orang-orang, bagian luar begitu berbahaya karenanya aku meminta semua orang untuk masuk.
"Kepala desa bagaimana ini?"
"Kita hanya berharap kapal kita keluar dari badai."
__ADS_1
Tepat saat aku mengatakannya salah satu orangku muncul dengan wajah panik.
"Pak kepala desa, orang-orang itu melarikan diri!"
"Apa?"
"Mereka tidak ada, mereka meninggalkan kita."
Aku tidak bisa membayangkan hal tersebut dan lalu berlari untuk memeriksa sembari mencegah diriku agar tidak tersapu gelombang air laut.
"Sampannya hilang, sial."
Aku memukul tiang kapal selagi mengutuk ketidakberdayaanku, kalau saja aku lebih tahu daerah ini aku bisa menentukan arah yang seharusnya kami pilih dan tidak bergantung pada mereka. Sekarang sudah terlambat.
Tak lama sesuatu menghantam kami hingga selanjutnya kapal kami karam begitu saja.
Semua orang mencoba untuk memegangi benda-benda mengapung di sekitar sayangnya beberapa harus hilang tertelan ombak.
"Pegang tanganku, jangan sampai lepas."
"Terima kasih."
Ketika kami putus asa tiba-tiba saja sebuah perahu entah darimana muncul untuk membantu kami, mereka dengan sigap melemparkan pelampung serta tali untuk menyeret kami naik. Salah satu bahkan melompat ke laut hanya untuk menyematkan kami, aku tidak begitu jelas karena hujan namun dia seorang pria dengan pakaian layaknya seorang petualang, memiliki rambut hitam serta membawa senjata aneh di pinggangnya.
Ia membantu beberapa anak, sungguh ia melakukannya dengan cepat seolah dia melompat di air dan jatuh menyelam kembali.
Salah satu pria bertanya padanya yang berpenampilan seperti kapten perompak.
"Bagaimana?"
"Beberapa orang tidak bisa diselamatkan, walau begitu aku menemukan beberapa yang bisa kita makamkan."
"Begitu."
__ADS_1
Kapten perompak memarahi kami sebelum membawa kami ke sebuah pulau tidak berpenghuni, mereka memutuskan untuk meninggalkan kami meski aku memprotes mereka mengatakan bahwa mereka akan berburu monster yang membuatku akhirnya mengurungkan diri, meski begitu pria yang sebelumnya aku lihat lebih memilih menjaga kami di sini.
Dia bahkan membuatkan kami makanan dan menjaga anak-anak tenang dengan menghiburnya dari kegelapan.
Orang ini, benar-benar baik.
Saat pagi hari aku terbangun lebih dulu dari semua orang dan menyadari bahwa pasukan raja iblis telah muncul dengan 10 perahu, aku membangunkan beberapa di sebelahku sebelum berlari ke arah pria yang telah menyelamatkan kami. Dia duduk di atas batu dengan wajah tertidur. Jelas sekali apa yang ia lakukan kemarin telah menguras tenaganya.
Ia membuka mata dan aku segera menjelaskan situasinya hingga ia meminta kami untuk berkumpul di satu tempat sementara dirinya menahan puluhan meriam yang ditembakan, dengan ledakan sebesar ini tidak ada dari kami yang terluka.
"Ibu aku takut."
"Jangan khawatir, kita akan selamat."
"Tapi mereka pasukan raja iblis."
Banyak dari kami merasakan hal sama termasuk aku, aku kehilangan istri dan anakku yang membuatku tidak bisa memaafkan mereka. Saat desa kami terbakar keluargaku tertimpa reruntuhan dan mati depan mataku.
Pria itu berkata dengan nada santai.
"Jangan khawatir, aku akan menyelamatkan kalian. Meski aku terlihat seperti ini aku orang yang kuat loh."
Aku secara spontan bertanya.
"Sebenarnya Anda siapa?"
"Siapa yah? Hmm.. aku seorang pahlawan."
Setelah mengatakan itu, pria tersebut berjalan ke bibir pantai, ia menggunakan sihir yang tidak masuk akal dengan menciptakan ombak terbuat dari api lalu menghancurkan seluruh pasukan raja iblis dengan mudahnya sampai tidak tersisa.
Apa ini yang namanya pahlawan? Sejak kekaisaran mengurung pahlawan untuk dirinya sendiri kami tidak pernah melihat orang-orang yang mendapatkan gelar tersebut.
Untuk pertama kalinya aku merasa mungkin dunia kami ini bisa diselamatkan dan semua orang tidak perlu merasakan ketakutan lagi.
__ADS_1