Terlahir Kembali Di Dunia Lain Dengan Sistem Belanja Online

Terlahir Kembali Di Dunia Lain Dengan Sistem Belanja Online
Chapter 27 : Undangan


__ADS_3

"Aku dengar elf pandai dalam membuat kerajinan, kedatangan kami kemari ingin mengundang kalian untuk tinggal di wilayah khusus."


Terhadap Adi yang mengutarakan keinginannya, Baba menggelengkan kepalanya.


"Dalam situasi seperti ini aku rasa itu mustahil, orang-orang di sini telah kehilangan sinar kehidupannya."


"Cuma jauh dari rumah apa yang membuat mereka begitu takut?" timpal Natasya.


"Beberapa dari mereka meninggalkan keluarga mereka di wilayah elf, jika bukan karena aku yang memaksa mereka untuk pergi mereka jelas akan tetap berada di sana, pemerintahan yang baru menangkap siapapun yang tidak setuju dengan perubahan yang terjadi dan mereka akan dieksekusi tiga hari dari sekarang."


"Sampai sejauh itu."


"Mereka benar-benar ingin menghancurkan tradisi yang sudah dijaga secara turun menurun, mereka semua sangat berlebihan."


"Apa ada alasan lain kenapa mereka sampai melakukan itu?"


"Menara surga," jawab singkat Baba.


Adi mengingat kembali momen saat dia pertama kali melihat menara putih yang menjulang tinggi seolah membelah langit.


"Di sana ada sebuah ruangan yang hanya bisa dilewati oleh pemilik tahta saja, mereka beranggapan bahwa di sana ada sebuah petunjuk untuk seseorang bisa mencapai menara surga, tentu karena ada banyak jebakan, sejauh ini tidak ada yang berani memasukinya."


Mebel berdiri untuk menambahkan.


"Mereka memiliki obsesi keabadian, tubuh yang tidak akan mati walau menerima luka apapun serta awet muda."


"Kenapa kamu bisa begitu tahu banyak?"


"Itu karena aku Merlina Belfasta."


Natasya bolak balik melirik antara Adi dan Mebel.


Mebel sendiri merupakan singkatan dari nama tersebut, untuk Baba jelas dia sedikit merasa curiga sejak awal.


"Tunggu sebentar, bukannya seharusnya kamu memiliki rambut perak?" protes Natasya.


"Dia memilikinya, aku menyarankan untuk mewarnai rambutnya."


Natasya memegangi kerah Adi selagi menggoyang-goyangkannya.


"Apa yang kau lakukan, warna perak adalah simbol reinkarnasi, kamu benar-benar."


"Aku bisa mengembalikannya oke, bahkan jika kamu ingin memiliki warna perak juga akan aku berikan."


"Serius?"


"Natasya."


Natasya memilih mundur saat Baba menegurnya, jelas sekali tidak sembarangan orang bisa mengecat dirinya dengan rambut perak.


"Aku hanya melakukannya untuk menyembunyikan diriku lagipula kini aku hanya seorang budak."


"Jadi begitu," ucap Baba selagi menyeruput tehnya dalam diam.


"Aku sebenarnya ingin mengabaikan masalah elf dan hidup dengan identitas baru, akan tetapi saat mendengar mereka mengambil tindakan jauh seperti ini, aku sama sekali tidak menerima, tak masalah jika pemimpin elf dipilih dengan cara berbeda, tapi mengesekusi sesama elf itu terlalu..."


Baba menyela.

__ADS_1


"Perubahan itu harusnya datang dari pewaris sesungguhnya, jika semuanya dimulai dengan cara tidak baik maka hasilnya akan tidak baik juga."


Singkatnya harus Mebel yang mengatakannya di depan semua orang agar gagasan itu bisa diterima tanpa ada konflik baru.


"Tuan Adi?"


"Aku mengerti, jika kamu ingin menyelamatkan wilayah elf maka kita bisa melakukannya."


"Maaf atas keegoisanku."


"Tak masalah, aku juga sedikit penasaran dengan wilayah elf seperti apa."


"Lalu jika kamu tidak berniat kembali apa yang harus dilakukan?" tanya Natasya yang mendapatkan jawaban spontan dari Adi.


"Kalian bisa menjadikan wilayah elf sebagai republik, pemimpinnya dipilih oleh banyak orang dan ia hanya bertugas dalam waktu tertentu."


"Sepertinya itu bisa dilakukan juga," Baba menyepakatinya dalam anggukan.


Untuk Natasya ia menggaruk kepalanya, semenjak ia diusir nyaris dia tidak peduli dengan kampung halamannya namun dalam hatinya ia berharap bahwa elf hidup damai juga di sana.


Mebel kembali mencat rambutnya menjadi perak lalu berdiri dihadapan banyak orang dengan sebuah tekad, tekad untuk mengambil alih wilayahnya dan juga menjadikan wilayah elf pada seharusnya.


Perkataannya disambut baik oleh semua orang.


"Pemimpin memang beda," kata Natasya yang bersandar di dinding.


"Kurasa begitu, seharusnya dia kembali saja jadi pemimpin."


"Aku rasa Mebel lebih suka memilih tempatnya yang sekarang."


"Cuma perasanku saja."


Pagi berikutnya Adi, Natasya dan Mebel telah pergi ke wilayah elf. Wilayahnya sendiri mencakup empat kota besar dan diantaranya disebut kota pusat. Bagi Adi dia berfikir bahwa elf lebih suka tinggal di dalam hutan akan tetapi pemikiran itu dibantahkan sekaligus.


Di kota pertama dia bisa menemukan para elf dengan pakaian modern.


"Bayanganku tentang elf jadi berubah."


"Sudah sejak lama elf meninggalkan hidup sederhana, kami juga hidup seperti manusia."


Mebel melirik ke segala arah lalu bergerak mengikuti orang-orang di jalanan untuk membaur.


"Apa kita tidak bisa langsung pergi ke kota pusat?"


"Untuk masuk ke ibukota diperlukan cap khusus dari pemilik tanah setiap kota, jadi sulit untuk melewatkannya," balas Mebel demikian.


"Aku membenci hal-hal seperti ini."


Selama perjalanan ini peti mati Natasya telah disimpan ke dalam sihir penyimpanan milik Adi, walau Natasya tampak gelisah dia mencoba sekuat tenaga untuk menahannya.


"Apa petiku akan baik-baik saja?"


"Tentu saja, terlebih apa yang ada di dalamnya?"


"Tentu saja mayat."


"Mayat siapa?"

__ADS_1


"Aku tidak bisa mengatakannya."


Adi semakin penasaran sampai suara Mebel memotong.


"Di sana."


Ia menunjuk ke arah rumah besar yang keseluruhannya terselubung pagar tinggi.


"Kalau begitu mari bergerak."


Meminta baik-baik itu jelas sesuatu yang mustahil, semua orang kini hanya berfikir bagaimana cara terbaik untuk mendapatkan stempel.


Mereka menyelinap melewati pagar, bersembunyi di semak-semak saat beberapa pelayan melintas kemudian Mebel dengan pedangnya menodong salah satunya.


"Jangan berbalik, kami perlu stempel, bisakah kau memberikan itu."


"Sesuai yang dikatakan nyonya, nyonya sudah menunggu kedatangan Anda."


Natasya tidak bisa mengatakan apapun lagi.


"Apa? Bagaimana? Dia seolah tahu kita akan datang ke sini?"


"Jangan bilang."


Mereka dibawa ke sebuah ruangan luas di mana di sana duduk seorang wanita elf dengan pakaian gothic berenda, memiliki mata hitam sewarna dengan rambutnya yang bergaya twintail.


Tubuhnya tidak tinggi atau pendek namun masih memberikan keeleganan tertentu dari kharismanya.


"Lama sekali, aku sudah bosan loh menunggu di sini."


"Gu-guru bagaimana bisa?"


"Aku cuma berfikir mungkin kau akan berusaha datang kemari jadi aku mengumpulkan stempel jika suatu hari datang kemari."


Salah satu pelayan menunjukan empat stempel setiap kota.


"Bagaimana dengan bangsawannya?"


"Tentu saja aku membunuh mereka, ketika aku pergi tidak aku sangka orang-orang berusaha menjatuhkan muridku."


Adi tersenyum pahit.


"Apa itu artinya kita bisa melakukan semuanya dengan mudah?"


"Malah sebaliknya, guruku ini menyebalkan dia senang akan hiburan serta pertarungan, alasan itulah ketika aku menjadi pemimpin di wilayah ini aku tidak belajar cara bertarung selain pengetahuan umum dari guru."


"Benar sekali, karena itulah aku akan memberikan semua stempel ini jika kalian bisa mengalahkanku."


Mebel memilih mundur begitu juga Natasha.


"Heh, apa hanya pria di sana itu yang akan bertarung?"


"Maaf tuan."


"Entah kenapa, aku merasa takut dengannya," tambah Natasya.


Adi merasa bahwa tidak ada jalan lagi untuk tidak melawannya.

__ADS_1


__ADS_2