Terlahir Kembali Di Dunia Lain Dengan Sistem Belanja Online

Terlahir Kembali Di Dunia Lain Dengan Sistem Belanja Online
Chapter 22 : Langkah Awal


__ADS_3

Sudut pandang Adi.


"Vern pasti akan merindukan Lucia."


Dalam perjalanan pulang Vern berkata demikian dengan wajah sedikit sedih selagi menatap kota yang semakin menjauh.


"Seharusnya dia akan baik-baik saja mulai sekarang."


"Tapi tuan, kini iblis mungkin sudah mengetahui keberadaan Anda jika begitu Anda akan mulai diincar."


Tepat saat Vern berkata demikian kereta keduanya meledak dahsyat, Adi terbang ke udara dan dalam sekejap sebuah pedang menembusnya dari belakang, sementara Vern terbaring di tanah dengan luka yang cukup parah.


"Apa-apaan ini Kizuna, bukannya dia seharusnya sangat kuat."


"Kurasa informasinya terlalu dilebih-lebihkan."


Kizuna sekali lagi memeriksa keadaan Adi dan Vern, dia mendesah pelan dan mengatakan bahwa keduanya telah mati.


"Benar-benar membosankan, jika begini aku sama sekali tidak puas."


"Mari kembali ke medan perang."


"Bagaimana soal laporannya?"


"Aku akan mengirim surat pada nyonya."


"Itu bagus."


Keduanya berjalan pergi, setelah beberapa menit sosok Vern yang sesungguhnya bersembunyi di bawah tanah keluar dengan penuh gaya.


"Yang barusan sangat berbahaya."


Vern melihat sekeliling, melihat mayat yang dia bawa sesaat sebelum mendekat ke arah Adi yang mulai bangkit.


"Sepertinya kita bisa menipu mereka berdua."


Inilah rencana Adi sejak awal, itu juga alasan kenapa ia lebih lama menetap di ibukota dibandingkan segera pergi.


Vern masih tidak percaya bagaimana tuannya bisa begitu mudah membodohi para penyerang. Jawabannya sederhana dia menghentikan jantungnya saat mereka memeriksanya.


Vern berteriak terkejut.


"Tidak mungkin manusia biasa bisa melakukannya, tuan kamu luar biasa."


"Yang lebih penting kita harus segera pergi dari sini."


"Baik."


Adi menyembuhkan lukanya sendiri sebelum berjalan menembus pepohonan, dengan ini seharusnya ia sudah lolos sebagai target mereka.


Sekembalinya ke kota Arbelon ia bisa menarik nafas lega, Melty dan Brietta menyambutnya di kediamannya sementara.


"Selamat datang kembali tuan."


"Syukurlah kau sudah datang dengan selamat Adi."


"Kalian berdua menungguku."


"Tentu saja, hey Brietta katakan sesuatu."


"Kami mungkin sedikit merindukanmu desu, khususnya dengan makanannya."

__ADS_1


Brietta akhir-akhir ini memang lebih menyukai masakan Adi.


"Vern terima kasih atas bantuannya."


"Ini bukan apa-apa, Vern menunggu perintah selanjutnya nanti."


Vern kembali menyembunyikan wajahnya dengan topeng sebelum menghilang menjadi sebuah udara.


"Aku punya beberapa informasi yang penting tapi kurasa akan aku ceritakan nanti malam saja, aku benar-benar perlu beristirahat sekarang."


"Seperti yang Anda inginkan."


Adi memilih membaringkan tubuhnya di kamarnya yang gelap gulita, ia tidak begitu jelas melihat bagaimana para penyerangnya, yang jelas ia bisa merasakan energi luar biasa dari keduanya.


Tanpa sadar ia menutup matanya dan bangun saat Melty mengetuk pintu kamarnya.


"Tuan, sudah waktunya makan malam."


"Aku akan menyusul sebentar lagi."


Adi terkejut karena lengannya telah menyentuh tubuh seseorang, ia berfikir mungkin itu Brietta yang menerobos masuk ke dalam kamarnya atau Elsa yang sudah kembali dari tugasnya.


Ketika lampu dinyalakan ia menatap seorang gadis yang tertidur itu dengan tatapan bermasalah, ia hanya mengenakan lingerie tipis dengan penampilan yang masih tetap sama ketika dalam bentuk Chibinya.


Ketika ia membuka matanya ia meregangkan tangannya selagi menguap lebar layaknya seekor kucing malas.


"Apa sudah pagi."


"Ini sudah malam."


"Ya ampun aku tidur cukup lama... apa aku melewatkan satu hari."


"Apa aku belum mengatakannya."


Adi mendesah pelan.


"Kenakan kembali pakaianmu, kita akan makan malam."


Mesna mengangguk sebagai balasan. Tidak hanya Adi Melty dan Brietta juga menunjukkan wajah heran saat melihat Mesna yang entah darimana muncul selagi memakan masakan Melty dengan senang.


"Apa kau menyewa gadis ini untuk menghiburmu atau sebagainya."


"Harusnya tuan bisa mengundangku saja dibandingkan gadis asing ini."


Adi menjatuhkan kepalanya di meja, hampir membenturkannya dengan keras.


"Walau penampilannya seperti ini, dia ini dewi."


"Apa maksudmu dengan penampilannya begini? Tolong tambah."


Melty mengisi nasi untuk Mesna, ketika ia memperkenalkan dirinya keduanya lebih terkejut.


Eksistensi dewi Mesna sangatlah pesat, tidak ada yang tidak mengenalnya.


"Jika Adi seorang pahlawan tidak aneh jika kau mengenalnya, tapi sampai membawa dewi ke dunia ini, benar-benar tidak masuk akal."


"Walaupun aku dewi aku tidak bisa terlalu ikut campur dalam perselisihan di dunia ini, jadi aku hanya ada untuk makan dan jalan-jalan, Adi pudingku."


Dari awal eksistensi darinya juga tidak diketahui.


Melty dan Brietta memandang sinis.

__ADS_1


"Dasar beban." x2


"Kejamnya, kenapa semua orang di sini membully-ku, aku ini heroin utama loh... Adi juga setuju kan?"


Adi jelas tidak bisa menentukannya.


Heroin dipilih dari sosok yang paling cantik di antara semuanya sedangkan di dunia ini terlalu banyak orang cantiknya.


"Semoga beruntung."


"Kenapa kau malah mengatakan itu?"


Mengabaikan semua pembicaraan tidak penting, Adi mulai mengarahkan pembicaraan ke arah yang ingin dia bahas.


"Brietta kamu bilang kamu ikut demi mencari tempat untuk para naga?"


"Benar sekali desu, aku ingin membuat agar mereka bisa berinteraksi dengan manusia dan bekerja sama untuk mengalahkan iblis, namun sampai saat ini aku belum bisa menemukannya, kenapa kau menanyakan hal itu?"


Adi menyerahkan dokumen untuk kepemilikan wilayah khusus.


"Bukannya ini?" Melty menutup mulutnya karena terkejut.


"Heh, kau membuat pergerakan yang tidak terduga."


"Aku telah diangkat menjadi pemilik wilayah di sana, aku akan menyediakan tempat untuk para naga tinggal."


Brietta tersenyum.


"Lalu apa harga yang harus kami bayar?"


"Membantu pembangunan wilayah tersebut, kekaisaran mungkin akan tertarik jika wilayah tersebut semakin maju, namun jika mereka tahu ada ras naga yang hidup."


"Mereka akan lebih memilih untuk menjalin persahabatan dengan kita."


"Benar, kita tidak harus memiliki kekuatan di atas mereka... hanya setara itu sudah cukup, saat di sana aku hanya akan berpura-pura sebagai orang bodoh dan keseluruhan sistemnya akan terlihat seperti kamu yang mengendalikan."


"Sepertinya menarik."


Adi menyandarkan dirinya di kursi selagi menatap langit-langit.


"Ini memang sudah waktunya kita bergerak semakin maju."


Sebuah kereta kuda telah disediakan di luar kota, Riho turut mengemas barang bawaannya bersama Melty dan juga Brietta.


"Kamu yakin Riho, mau ikut juga?" sekali lagi Adi melontarkan pertanyaan kembali.


"Aku ingin mencari suasana baru, mungkin ini sudah waktunya aku meninggalkan Arbelon."


Adi tersenyum atas keputusan Riho, ketika Adi mengatakan ia akan pindah Riho menawarkan dirinya untuk ikut, beberapa petualang menangis tapi jelas Riho tidak terlalu memperdulikannya.


Alicia dan dua pengawalnya ikut sebagai penjaga.


"Serahkan pada kami, jika ada monster kami akan mengalahkan mereka."


Dua pengawalnya sedikit kebingungan, Adi merupakan petualang kuat terlepas dari peringkatnya namun ia malah memilih untuk mempekerjakan mereka rasanya sedikit aneh dan juga terasa tidak realistis.


Ketika dua pengawalnya sekali lagi melirik Alicia mereka segera mengetahuinya.


"Benar-benar licik."


"Aku setuju, putri Alicia memiliki nama baik di kerajaan demi-human, ia benar-benar ingin mengambil keuntungan tersebut."

__ADS_1


__ADS_2