
Dan begitulah bagaimana Adi memperkenalkan gadis di depannya pada semua rekannya. Bingung karena gadis tersebut tidak memiliki nama hingga diputuskan bahwa Siren tersebut bernama Melty, ia bisa mengubah ekornya menjadi kaki dan Adi memberikan pakaian berupa gaun terusan untuk dia kenakan.
"Aku rasa dia cukup manis untuk bekerja di toko."
"Aku pikir begitu."
Adi menyela.
"Jangan mencoba untuk menyerahkan tanggung jawab kalian padanya."
Yorin meringis.
"Terkadang tuan, intuisi Anda benar-benar menakutkan."
Hal menyangkut pekerjaan bisa dibahas belakangan, dengan cerahnya langit mereka bisa naik ke atas perahu untuk pergi ke wilayah naga, perlu waktu beberapa jam untuk sampai atau bahkan setengah hari. Dari kejauhan mereka bisa melihat siluet dari sebuah pulau luas dengan deretan sekitarnya adalah pepohonan.
Di tengah pulau ada gunung merapi yang masih aktif mengeluarkan asap hitam ke udara.
Tidak ada kapal yang mau mendaratkan diri sampai ke pulau ini, jadi mereka mengatakan akan menjemput mereka tiga hari ke depan, maka dengan itu kesepakatan telah dijalin.
Mereka semua menjejakkan kaki mereka di pasir putih. Melty melirik ke arah laut selagi menahan rambutnya agar tidak terbang tertiup angin.
"Aku tidak menyangka bahwa laut akan jauh lebih indah saat dilihat dari daratan."
Semua orang hanya tersenyum sebelum kembali berjalan, di dekat gunung api mereka bisa menemukan sebuah pemukiman yang diisi orang-orang yang memiliki tanduk di atas kepala mereka
Ketika melihat kelompok Adi mereka jelas menunjukkan ketidak senangan, Mebel menempatkan tangan di pedangnya bersiap jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, mengalahkan naga bukan sesuatu yang mudah walaupun mereka kuat mereka masih memiliki kesempatan jika bekerja sama.
Adi mengangkat tangannya seolah menunjukkan dirinya tidak datang untuk membuat masalah.
"Kami menyerah, kami hanya ingin bertemu dengan pemimpin kalian, apa ada di sini?"
Seorang gadis kecil yang mengenakan gaun merah serta rompi menarik pakaian Adi. Dia memiliki tanduk serta perawakan seperti boneka yang sempurna, rambutnya merah lurus panjang dengan mata seperti naga pada umumnya.
Dia terlihat menggemaskan yang membuat Adi tidak bisa menahan diri untuk meletakkan tangannya di kepalanya.
"Apa kamu sedang mencariku desu?"
"Bukan, aku perlu bertemu pemimpin naga, apa kamu tahu gadis kecil?"
Keheningan tiba-tiba terjadi di sekitar Adi, ia mencari tahu apa yang terjadi bahkan para gadis yang menjadi rekannya memucat.
"Kenapa dengan kalian?"
Elsa ragu-ragu untuk menjelaskan.
"Tuan yang Anda sentuh itu adalah pemimpin naga, beliau cukup terkenal di seluruh penjuru benua."
"Gadis kecil ini."
Gadis itu menggigit tangan Adi hingga dia berteriak selagi berlarian ke sana kemari.
"Sakit, sakit, lepaskan gigitanmu."
"Aku benci saat seseorang meletakan tangan mereka di kepalaku desu."
"Aku minta maaf."
Setelah perjuangan cukup lama Adi bisa lega bahwa tangannya tidak putus, siapa yang menduga bahwa raja naga adalah gadis loli.
"Aku puji keberanian kalian datang kemari, ikuti aku... kalian ingin membicarakan sesuatu bukan."
Mereka mengikuti gadis yang memperkenalkan dirinya sebagai Brietta tersebut menuju bangunan yang jauh dari semuanya. Tidak ada kursi di dalamnya dan semua orang duduk di lantai.
"Aku sedikit penasaran berapa umummu?" Kamui dengan tidak sopan bertanya demikian.
"Seribu tahun, kurasa... yah aku sudah berhenti menghitungnya karena sebagaimana aku sangat frustasi dengan tubuhku yang tidak tumbuh desu."
__ADS_1
"Maaf sudah bertanya."
"Jangan menghasihaniku sekaligus mengejekku di waktu yang sama."
Semua gadis meletakan tangan mereka untuk menopang dada mereka. Bersyukur bahwa mereka tidak memiliki kesulitan seperti Brietta.
Adi memilih mengabaikannya dan mulai dengan pertanyaan lebih detail.
"Aku pikir ras naga memiliki rumah yang jauh lebih sederhana dari kota pelabuhan."
"Bukan begitu juga desu, sesungguhnya kami baru saja diserang pasukan raja iblis."
Mendengar hal tak terduga tersebut membuat Adi sedikit terkejut, bukannya ras naga merupakan ras kuat yang sepenuhnya dijauhi oleh raja iblis.
Sekilas ia mendapatkan sebuah jawaban sederhana dibenaknya, jika manusia bisa bertambah kuat maka itu juga bukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan iblis juga, seolah membaca pikiran Adi, Brietta menambahkan.
"Mereka jauh lebih kuat dibandingkan di masa lalu, seharusnya kami juga turut memusnahkan mereka selagi bisa."
Brietta memukul lantai membuang rasa penyesalannya yang tidak mungkin bisa dia rubah kembali, di sisi lain jika para naga tidak mengalami hal seperti ini kelompok Adi jelas akan diusir sejak awal.
"Jadi apa yang kalian inginkan?"
"Aku hanya mendengar tentang kolam penyembuhan yang bisa mengobati setiap luka serta bekasnya di tubuh, jika tidak keberatan bisakah kami menggunakan kolam tersebut."
"Kalian bisa menggunakannya selama yang kalian mau, ada di dalam gunung merapi... akan aku antar."
"Apa tidak merepotkan?"
"Tidak masalah, atau sesungguhnya aku ingin meminta satu permintaan sebagai gantinya desu."
Adi memikirkan apa itu saat Brietta membuka mulutnya.
"Kami selalu berusaha menjauhi konflik manusia dan iblis, karena itulah aku rasa sudah waktunya untuk kami para naga keluar dari persembunyian, khususnya untuk membalas dendam terhadap ras iblis, kalau boleh aku ingin ikut dengan kalian untuk bisa mengerti bagaimana kehidupan manusia itu, sekaligus menemukan wilayah yang baru untuk kami."
Elsa tersenyum dengan tawa aneh.
"Kenapa dia?"
"Abaikan saja."
Adi tidak keberatan untuk melakukannya lagipula semakin banyak dia mengumpulkan orang maka akan semakin mudah nantinya. Sesuai kesepakatan mereka dibawa untuk melalui jalan-jalan magma yang panas serta dipenuhi api.
"Aku sama sekali tidak menduga bahwa kolam penyembuhan ada di tempat seperti ini."
"Semua orang salah paham akan sesuatu, kolam penyembuhan sebenarnya bukan sesuatu yang muncul secara tiba-tiba."
"Maksudnya?"
"Kolam penyembuhan dibuat olehku."
Masih ada tanda tanya di atas kepala mereka, mereka menemukan diri mereka di sebuah kolam raksasa yang diisi oleh air hangat.
Brietta mengigit tangannya untuk menjatuhkan tetesan darahnya di air, walau hanya setetes, darah itu telah merubah kolam menjadi semerah darah.
Para gadis menunjukan kegelisahannya.
"Inilah kolam penyembuh yang bisa mengobati luka apapun, masuklah."
"Apa ini aman?"
"Omong kosong, tentu saja aman desu."
Semua orang saling memandang satu sama lain, Elsa jelas tidak akan melakukannya sendirian sebagai percobaan Adi memilih untuk terjun ke kolam dengan hanya celana boxernya.
Dia berteriak yang membuat semua orang kaget.
"Apa yang terjadi?"
__ADS_1
"Tidak apa-apa, rasanya nyaman di sini... rasanya tenagaku pulih kembali."
"Kita juga."
Mereka semua melepaskan pakaiannya mereka.
"Tunggu kalian, jangan dilepas semuanya."
Tidak ada yang mendengar keluhan Adi hingga Adi sendiri yang kebingungan bagaimana dia bereaksi. Namun dia merasa senang saat melihat bekas luka di tubuh Elsa mulai menghilang seutuhnya.
"Manisnya, wajah tuan memerah."
Mereka jelas menggodanya.
Adi memilih untuk lebih dulu keluar dari kolam sehingga menemukan Brietta duduk di atas batu di luar gunung merapi.
"Kamu sudah selesai desu."
"Iya, di dalam sana cukup membuatku tegang."
"Aneh melihat kau tidak menyentuh mereka meskipun mereka budak."
"Kamu menyadarinya."
"Sejak awal desu."
Adi duduk di sebelahnya, ia memunculkan jendela dari sistem belanjanya untuk mengeluarkan dua botol susu segar.
Ia menggunakan sihir es untuk membuatnya dingin lalu memberikannya satu pada Brietta.
"Apa ini desu?"
"Minumlah, ini cukup pas diminum saat udara cukup panas."
Suara Mesna memotong.
(Adi mengincar loli! Ah, aku sebaiknya menghubungi polisi.. tentu aku tidak akan melaporkannya jika memberiku puding)
(Siapa yang mengincar loli dan kenapa dewi menerima suap juga)
Brietta meminum gelasnya dan tertawa selagi meletakan tangannya di pinggang.
"Benar-benar enak."
"Syukurlah jika kamu menyukainya."
"Ngomong-ngomong Adi, aku boleh menanyakan sesuatu?"
"Silahkan."
"Kenapa kamu membeli budak elf berambut perak, aku rasa kamu akan tertimpa masalah ke depannya."
"Apa maksudnya?" Adi hanya meminta penjelasan lebih lanjut.
Jika itu pengetahuan umum tentang dunia ini, maka dia jelas tidak akan tahu.
"Elf berambut perak adalah simbol dari keluarga bangsawan elf di wilayah barat, untuk menjadi seorang budak lalu mengambilnya, itu seperti kamu yang menculiknya desu, alasan itu sudah cukup untuk elf menyerang manusia."
"Kamu yakin?"
"Tidak salah lagi."
Tak lama Mebel yang dimaksud muncul dari belakang mereka.
"Mebel?"
"Lambat laun tuan akan tahu ini, jadi biarkan aku sendiri yang menjelaskannya."
__ADS_1