
Dalam perjalanan, kereta kami dihentikan oleh sebuah pertarungan yang terjadi. Terlihat salah satu wanita sedang bertarung dengan puluhan pria melalui pedang yang sedikit unik.
Aku mengalihkan pandangan ke arah Elsa yang terlihat mengenalnya.
"Ara, tidak aku sangka kita malah menemuinya di tempat seperti ini."
Wanita yang kami maksud memiliki rambut hitam sebahu dengan kepangan menghiasinya, ia memiliki mata biru serta tubuh tinggi yang dibalut dengan celana jeans putih serta t-shirt dan jaket sepanjang lutut, alih-alih menggunakan enam pedang yang dibawanya ia hanya menggunakan satu pedang, walau demikian setiap kali ia menebas mereka semua dijatuhkan tanpa kesulitan.
"Siapa dia Elsa?" tanyaku penasaran.
"Ia orang yang tuan minta aku mencarinya, Hoshimiya Rinko."
"Maksudmu pahlawan yang dibuang dari kekaisaran."
"Benar."
Hoshimiya Rinko sendiri tidak terlalu mempedulikan kami, ketika dia menjatuhkan seluruh musuhnya ia baru menghampiri kami setelah menyarungkan kembali pedangnya.
Dia membungkuk yang membuatku terkejut.
"Maaf sudah mengganggu perjalanan kalian, mereka semua bandit yang mencoba merampokku, kurasa kalian bisa lewat sekarang."
Ia memiliki nada bicara layaknya seorang kesatria.
"Tidak, kami yang harusnya berterima kasih, jika mereka tidak dikalahkan mereka pasti akan menyerang kami," balas Elsa lebih merendah.
__ADS_1
Ia melirik ke arah kereta milik pahlawan ini yang ambruk karena rodanya yang hancur.
"Sepertinya kereta Anda telah rusak parah."
"Iya, mereka benar-benar merusaknya padahal aku harus pergi ke ibukota."
"Kalau tidak keberatan bagaimana kalau Anda ikut dengan kami, kebetulan kami juga akan pergi ke sana."
"Bolehkah? Aku sangat terbantu."
Kami menaikan barang bawaan Rinko lalu mengaitkan kudanya dengan kuda kami sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan.
"Nona Elsa dan Nona Misa, aku sangat beruntung.. aku lihat kalian cukup membawa banyak barang?"
"Kami berniat untuk membuka toko di ibukota, apa Anda tahu tentang wilayah khusus?"
Elsa tertawa menanggapinya, aku tidak terlalu pandai bicara karenanya aku lebih suka mendengarkan dan menyerahkan semuanya.
"Pemilik tanah di sana tidak terlalu buruk juga, loh."
"Begitu, terlepas dari rumor yang beredar dikatakan tempat itu semakin maju."
"Senang bahwa ada hal baik juga yang menyebar dari wilayah kami."
Rinko tersenyum kecil sebelum dia melirik ke arah senjata di tanganku.
__ADS_1
"Kamu? Bukannya ini Hecate? Darimana kamu mendapatkannya. Mungkinkah kamu memiliki peluru kaliber 50 juga."
"Maksudmu ini?"
Aku menunjukan apa yang dia maksud, dan ia terlihat lebih tertarik lagi.
"Bagaimana kamu mendapatkannya?"
"I-itu.."
Aku melirik ke arah Elsa untuk meminta bantuan. Bagi seorang yang berasal dari dunia sama seperti tuan kami, ia kemungkinan mengetahuinya.
Elsa memotong di waktu yang pas.
"Kami seorang pedagang, di kekaisaran ada yang menawarkan senjata tersebut dan kami membelinya."
Mendengar kekaisaran Rinko terlihat sedikit menunjukan ketidaksenangan namun dia secepat mungkin kembali ke wajahnya sebelumnya.
"Pasti dari pahlawan, aku benci orang-orang dari kekaisaran, mereka mengusirku karena aku seorang wanita."
"Mungkinkah Anda seorang pahlawan?" Elsa berpura-pura bodoh dengan menanyakan hal demikian sementara Rinko tidak membantah hal itu lalu melanjutkan.
"Kerajaan demi-human menerimaku terlepas dari aku yang seorang wanita, aku sangat berterima kasih pada mereka."
"Aku bisa mengerti."
__ADS_1
"Ngomong-ngomong para pahlawan sering menyebut demi-human sebagai beast skin, menurut kalian apa itu terdengar bagus?"
Aku dan Elsa lebih menyukai disebut demi-human, ngomong-ngomong pahlawan Rinko ternyata orang yang ramah.