
Ibukota demi-human, Sentinal merupakan kota besar yang dikelilingi bangunan mewah, karena kesejahteraan di negara ini terjamin mereka tidak memiliki wilayah kumuh atau sebagainya, jika melihat ke tengah alun-alun kota terdapat patung raksasa dewi iris yang digambarkan sebagai wanita cantik yang didampingi seekor rubah ekor sembilan bernama Okami. Okami diceritakan makhluk yang membentuk negara ini saat pertama kalinya wilayah iblis melakukan invasi, itu mungkin sekitar 1000 tahun yang lalu.
Rinko membersihkan kaca matanya sebelum berpamitan pada kami. Selama perjalanan ini aku merasa Rinko benar-benar sosok pahlawan. Sungguh kesalahan bodoh jika ia diusir karena menjadi seorang wanita.
Elsa menarik nafas dalam-dalam sebelum melakukan peregangan. Aku tahu dia selalu pegal karena dua beban besar yang selalu di bawanya.
"Kita juga."
"Ya," kataku singkat.
Kami meninggalkan kereta kami di penginapan yang kami sewa, berhubung guild pedagang tutup sampai sore kami memilih untuk menghabiskan waktu di kedai. Kedai tersebut menyajikan olahan makanan baso tusuk yang dicampur dengan saos kacang.
Rasanya enak terlepas kami harus mengantri hanya untuk memesannya.
Terkadang saat kami mengunjungi kota manusia kami sedikit enggan, tapi sejauh mata memandang di sini semuanya adalah demi-human yang membuat kami merasa di rumah sendiri.
"Tolong birnya."
"Silahkan."
Elsa memesan hal itu selagi tertawa senang, tuan sendiri selalu membatasi minuman tersebut saat Elsa memesannya. Karena ketika mabuk ia sedikit tidak terkendali. Aku ingat ia menyerang tuan di kamarnya sembari telanjang dan berakhir Elsa yang harus diikat di luar rumah.
__ADS_1
Agar hal itu tidak terjadi aku juga segera membatasinya sampai tiga gelas.
"Misa, padahal aku ingin minum lagi.... berikan satu lagi."
"Sudah cukup untuk hari ini, orang mabuk selalu menimbulkan masalah pada orang lain dan sekitarnya."
Elsa cemberut namun jelas aku tidak mungkin lunak padanya, kalau ada Mebel ia akan marah dan akhirnya berkelahi dengan Elsa.
Aku membayar pesanan kami dan kembali ke penginapan tepat saat matahari terbenam, aku memandikan Elsa, mengganti pakaiannya sebelum membaringkan dirinya ke atas ranjang.
Meski sudah dibatasi tetap saja ia merepotkan.
"Tuan melarangku minum jika tidak bersama seseorang, jadi sudah lama sekali aku tidak seperti ini."
"Laksanakan."
Aku mendesah pelan selagi melihat wajah Elsa yang sudah terlelap, sebelum tidur aku menyempatkan waktu untuk membaca.
"Sekarang aku akan membaca lanjutan novel ini," kataku dalam hati.
Jika dibilang pagi itu tidak terlalu pagi dan jika dibilang siang itu juga tidak terlalu siang walau demikian, hari sedikit panas dari kemarin saat aku dan Elsa mengunjungi guild pedagang.
__ADS_1
Kami bertemu dengan seorang penanggung jawab di sini yaitu wanita dewasa dengan telinga kelinci bernama Usagi.
"Jadi kalian berdua ingin menyewa toko di ibukota?"
"Apa ada yang kosong?" tanya Elsa.
"Biar aku periksa dulu."
Usagi melihat-lihat dokumen di belakangnya dan menemukan beberapa rekomendasi untuk kami.
"Yang ada hanya ini, biaya sewanya cukup mahal mencapai 100 koin emas perbulan, tapi saya menjamin itu tempat yang strategis untuk berjualan."
Tempatnya sendiri berada di alun-alun kota yang paling banyak orang kunjungi, beberapa orang dilarang berjualan di sana jadi hanya satu toko yang diperbolehkan ada untuk menjaga keindahan kota.
Sementara yang lainnya berada di jalanan utama.
Elsa dan aku saling memandang sesaat sebelum akhirnya sepakat.
"Kami akan mengambil yang di alun-alun kota."
"Kalau begitu aku akan mengurus dokumennya dulu."
__ADS_1
Kami tidak harus melihatnya secara langsung hanya dengan sebuah foto kami yakin itu tempat yang bagus.