
Tomat yang ditanam di wilayah khusus memiliki ukuran dua kali lipat dari biasanya serta memiliki warna merah terang kaya akan air di dalamnya. Adi sempat bertanya apa ramuan Yorin memiliki efek samping tertentu dan sebagai tanggapan, itu hanya akan mengambil waktu hidup tanaman lebih singkat. Jika melihatnya dengan tatapan bisnis cara seperti ini begitu menguntungkan namun jika dilihat dari perspektif seorang petani yang menyukai pekerjaannya rasanya seperti mereka menyiksa tanaman untuk cepat berbuah dan mati.
Adi berfikir akan melarang penggunaan ramuan itu saat musim dingin berakhir lagipula mereka sudah memiliki dana serta toko yang beroperasi untuk tetap memastikan uang berjalan di sekitar wilayah ini.
Adi mengambil gunting untuk memetik buah tomat dengan cara elegan, seharusnya dengan tangan juga bisa dilakukan, hanya saja terkadang beberapa orang dari luar mampir ke ladang untuk melihat, dengan menunjukan cara mereka memanen seperti ini cukup membuat seseorang tidak akan mengeluh soal harganya yang mahal.
Tiga koin perunggu untuk satu tomat besar ini, dua koin lebih tinggi dari sepotong roti tentunya.
Vern di depan Adi masih bersemangat dengan keranjang miliknya, di sisi lain Claudia mengawasi untuk berjaga-jaga agar Vern tidak melakukan kesalahan, memetik tomat bukan sesuatu yang sulit hanya saja jika dilakukan sambil bernyanyi, akan buruk jika tomatnya jatuh dan penyok.
"Aku penasaran dengan rasanya, apa aku bisa memakannya satu?"
Entah itu Adi atau Claudia keduanya mengangguk mengiyakan, salah satu tomat dimasukan ke dalam mulut Vern dan ia mulai terlihat menunjukan wajah asam.
"Tomat ini belum matang."
"Itu sudah matang, begitulah rasa tomat jika dimakan mentah," balas Claudia.
__ADS_1
"Benarkah... selama ini aku hanya makan yang sudah dimasak," balas jujur Vern sebelum kembali bekerja dan bertanya pada Adi.
"Tuan, apa yang akan kamu lakukan dengan semua tomat ini? Bukannya jika sebanyak ini akan membusuk jika tidak diolah tepat waktu."
"Aku sudah meminta Yorin untuk membuat beberapa mesin produksi, tomat-tomat ini akan dijadikan saus tomat."
"Saus tomat?"
Claudia juga sedikit penasaran dengan nama tersebut, namun Adi jelas tidak ingin menjelaskan lebih rinci.
"Aku menantikannya," kata Vern bersemangat disusul Claudia.
"Benar... setiap hal yang dibuat tuan sangat luar biasa, sabun dan sampo yang beberapa waktu yang lalu juga sangat nyaman untuk digunakan, rambutku jadi terasa lebih halus dan lembut."
"Aku juga setuju, sabun yang Anda buat juga sangat harum, aku terkadang sangat betah untuk menghabiskan waktu yang lama di kamar mandi."
"Aku senang jika kalian menyukainya."
__ADS_1
Meski berjalan pelan Adi berharap bisa memajukan wilayah ini ke depannya hingga merubah konsep bahwa hanya bangsawan saja yang bisa hidup dengan nyaman.
Terkadang penduduk biasa menganggap mandi sangatlah mewah padahal seharusnya setiap orang bisa menikmatinya dengan murah. Tampil bersih seharusnya hak yang dimiliki semua orang.
"Untuk sekarang mari selesaikan ini."
"Aku akan bekerja dengan keras."
"Sama."
Setelah selesai Adi kembali ke mansion dengan wajah kelelahan, tadinya ini merupakan tempat tinggal Daria namun kini digunakan oleh Adi juga sebagai tempat tinggal sekaligus kantor untuk menjalankan wilayah khusus.
Duduk di pekarangan rumah adalah Casandra yang ditemani oleh beberapa pelayannya yang masing-masing merupakan elf sama sepertinya. Casandra sesekali suka mampir hanya untuk minum teh bersama dengan Daria.
Daria muncul dengan beberapa cemilan.
"Terima kasih atas kerja kerasnya hari ini, bagaimana kalau Adi ikut dengan kami juga di sini?" atas penawaran Daria, Adi menerimanya.
__ADS_1