
Adi bertanya pada Casandra tentang keperluan seperti apa yang dimilikinya namun ia segera mengalihkan pandangannya ke tempat lain alih-alih segera menjawab pertanyaan tersebut, di sana ada Natasya yang masih membawa peti mati di belakang punggungnya.
Seingat Adi ia telah meminta izin untuk pergi dari wilayah khusus beberapa waktu ke depan, mungkin ia sudah menyelesaikan urusannya.
"Natasya, senang melihatmu baik-baik saja.. apa terjadi sesuatu?"
Casandra menjawabnya.
"Kurasa dia memiliki sesuatu yang perlu disampaikannya. Terutama sosok di dalam petinya."
"Itu benar, bisa kita berbicara di tempat yang sepi."
Adi memikirkan hal seperti apa yang membuatnya terlihat serius, jadi mereka memilih sebuah gudang di bawah tanah di kediaman Daria.
Peti mati itu terbuka dan Adi sedikit terkejut bagaimana penampilan yang keluar dari sana tidak memiliki wajah dan yang mencolok hanyalah rambut panjang putihnya yang terurai indah.
Casandra mengerenyitkan alisnya, tidak perlu waktu untuk orang tersebut memperkenalkan dirinya karena dia sudah mengetahuinya.
"Vensil raja iblis kemalasan."
"Sepertinya aku tidak harus memperkenalkan diriku kembali, yah... itulah namaku."
Adi kehilangan kata-katanya, bahkan sekarang dia ragu apa harus menyerang sosok di depannya atau tidak. Menyadari ekpresi tersebut Vensil menambahkan.
__ADS_1
"Jangan khawatir dibandingkan raja iblis lainnya aku yang paling jinak, dan juga aku sebenarnya memihak manusia jika harus aku katakan."
"Apa ini tipuan?"
Adi mendorong untuk Natasya menjelaskan.
"Sebenarnya Vensil adalah pemimpin dari iblis putih, iblis putih termasuk iblis yang senang menyembunyikan dirinya dari ras lainnya karena itulah jarang ada pernyataan yang menuduh mereka menyerang manusia namun, semenjak agresi raja iblis lainnya semakin tinggi mereka memaksa iblis putih untuk bertarung dengan ancaman mereka akan dihabisi jika tidak terlibat, karena itulah aku menjamin bahwa Vensil bisa dipercaya."
"Bagaimana menurutmu Adi?"
"Kurasa perkataannya jujur."
Adi mengingat pertemuannya dengan iblis putih di menara iblis, tidak ada keraguan bahwa yang dikatakannya memanglah benar akan tetapi di sisi lain dia juga mungkin akan membelok jika kesempatan itu ada.
"Aku hanya terlalu malas untuk melakukan sesuatu, jadi jika aku menunjukan gerak-gerik mencurigakan, kau bisa membunuhku loh."
Natasya bertukar pandang sesaat pada Vensil lalu dia mengangguk untuk menjelaskan.
"Kami memiliki informasi tentang rencana iblis selanjutnya."
"Jika soal penyerangan ke kota suci kami sudah mengetahuinya," potong Casandra akan tetapi bukan itu.
"Ada penyerangan selain itu, dalam dua hari ibukota kerajaan Erdan akan mengalami hal sama."
__ADS_1
"Berapa orang yang akan menyerang?"
"Paling tidak lebih sedikit dari iblis yang menyerang kota suci... jika harus dikatakan bahwa penyerangan itu dilakukan oleh tujuh Sage."
Casandra memiliki wajah pucat, dia adalah guru mereka karena itulah dia merasa bahwa hal seperti itu tidak mungkin terjadi? Terlebih mereka telah mati sejak lama.
Adi punya pemikiran yang masuk akal untuk semuanya.
"Necromancer, mereka dihidupkan dengan cara tertentu atau sebagainya?"
"Benar, lebih dari itu orang yang melakukannya adalah satu keluarga dengan Vensil."
Adi bisa menerka apa yang diinginkan oleh orang yang menjadi lawan bicaranya.
"Kalian berdua ingin aku menghentikannya dengan jaminan bahwa penyerangnya tidak dibunuh."
Giliran Vensil yang menjawab.
"Benar sekali, jujur saja melawan mereka hanya dengan kami berdua sangat merepotkan, saat kalian bertarung di sana kami berdua juga akan memulai rencana kami untuk menyelamatkan para iblis yang lain."
Adi diam memikirkannya beberapa saat, ia tidak melihat ada kerugian tentang hal itu jadi dia memilih untuk mempercayainya.
"Baiklah, tapi jika aku melihat hal-hal mencurigakan."
__ADS_1
"Yah, kau bisa membunuhku meskipun aku ragu kau bisa melakukannya."
Pembicaraan berjalan lancar membuat Natasya bisa menghela nafas lega.