
Sudut pandang Adi.
"Apa tidak masalah mereka pergi ke menara surga hanya berempat saja?"
"Jangan khawatir mereka sangat kuat."
"Meski kau mengatakan itu."
Di bawah pohon rindang Adi dan Daria sedang beristirahat sembari menikmati roti lapis di tangannya. Daria sendiri sebelumnya bertemu dengan Mebel dan hanya menyampaikan kepergiannya pada Adi saat ini.
"Lalu bagaimana keadaan wilayah khusus?"
"Semua orang sudah mulai bekerja, beberapa sudah kembali membangun ladang baru juga, tahun depan saat musim dingin tiba kita akan jauh lebih baik dari sekarang."
Jika demikian Adi berfikir tidak perlu lagi menjual rempah-rempah ke guild pedagang pusat serta memakai ramuan yang Yorin berikan untuk menumbuhkan apapun dengan cepat.
Yang diinginkan olehnya sekarang hanyalah semua orang bisa hidup damai di tempat ini secara perlahan.
Adi kembali mengayunkan pedang di ruangan tersebut sekuat tenaga nyaris tidak terlihat, Sonya pun memblokirnya cukup lama sebelum akhirnya pedang besarnya terbang ke atas dan menancap di sisi jauh darinya.
Adi meletakkan ujung pedangnya di leher sementara Sonya menutup mata mengakui kekalahannya.
"Selamat tuan, kini Anda mengalahkan saya sangat telak, Anda bisa memiliki tubuh saya sepenuhnya."
"Sonya?" katanya bingung.
Adi melirik ke arah Casandra yang sudah menghabiskan tehnya.
"Apa itu sudah cukup?"
__ADS_1
"Kerja bagus, kini aku bisa memberikan mata ini padamu."
Secara harfiah hanya kekuatannya saja.
Selama beberapa hari Adi harus melakukan aktivitasnya dengan perban menutup matanya. Dia terkadang tidak tahu tempat apa yang dia kunjungi namun beruntung sesekali entah Daria, Melty atau Brietta membawanya keluar hanya untuk merasakan hangatnya matahari serta hembusan angin sejuk menerpa wajahnya.
"Kurasa ini sudah waktunya untuk melepas perbannya."
Di ruangan kerja yang dipenuhi dokumen, Casandra melepaskan perban di mata Adi, di saksikan Daria, Melty, Sonya dan Brietta. Adi bisa melihat pandangannya yang kabur telah semakin jelas, dia mengambil cermin dan melihat bahwa sebelah matanya berwarna hitam dengan pupil berwarna merah terang.
"Bukannya seharusnya berwarna emas."
"Mata yang kuberikan sedikit berbeda, kekuatannya agak unik."
Adi tidak bisa menebak kekuatan apa itu.
"Cobalah untuk membayangkan matamu yang sebelumnya."
"Aku tidak merasakan apapun."
"Yah, tidak harus ada perubahan saat seseorang bertambah kuat."
Adi terkejut dengan perkataan yang dilontarkan Casandra, dia terkadang bisa berkata sesuatu yang bijak juga.
Daria mendesah pelan.
"Kami hanya bisa menjaga tempat ini saat kau pergi, pulanglah dengan selamat."
"Tentu saja."
__ADS_1
"Aku ingin merawat tuan Adi lagi, apa boleh mata Anda di tutup lagi nanti."
"Kurasa jangan."
Melty lebih bersemangat saat bisa merawat Adi sebanyak yang dia inginkan, dia bahkan menyuapi Adi dan memandikannya, mengingatnya hanya akan membuat keduanya malu.
Adi memiliki janji pada Melty jadi dia harus kembali untuk melaksanakannya.
Brietta berubah menjadi seekor naga lalu mengantar Adi di punggungnya, sesampainya di tempat tujuan Adi mengucapkan terima kasih sebelum dia melompat ke bawah.
"Kamu bisa makan persediaan musim dingin yang masih tersisa Brietta."
"Yattaaa."
Itu adalah sebuah kota diperbatasan yang hanya telah menjadi rerutuhan, semua orang telah diungsikan saat perang terjadi menjadikannya sebagai kota mati. Menara iblis sendiri tepat sekitar 2 km dari sini.
Adi menemukan dua orang lainnya yang telah menunggu kedatangannya, tidak seperti dirinya mereka sudah datang sehari sebelumnya.
Yang duduk bersila di air mancur dengan pedang emas di pinggangnya adalah Yuela Amnesta, sementara di sampingnya yang berdiri dengan enam pedang, Hoshimiya Rinko.
Rinko berkata.
"Kami sudah menunggumu."
"Maaf terlambat, aku perlu berlatih."
"Aku melihat, kelihatannya kamu sudah semakin kuat, benarkan Yuela?"
"Benar sekali, tatapan yang bagus."
__ADS_1
Adi mengeluarkan sebuah mobil dari sihir penyimpannya dan mereka pergi menuju menara iblis bersama. Hanya Yuela yang kagum bagaimana benda tersebut bisa membawanya berjalan.