
Semenjak desanya dihancurkan iblis, Yuela yang berumur 6 tahun telah dibawa ke kota suci, di sana terdapat sebuah panti asuhan yang ditunjukkan bagi anak-anak yang kehilangan orang tuanya tentu saja bukan hanya sekedar anak biasa, kota suci sendiri hanya menerima anak-anak yang memiliki kemampuan tertentu untuk dipekerjakan di sana.
Untuk anak-anak biasa mereka lebih dikirim ke cabang-cabang gereja di kota besar lainnya, Yuela baru sampai dan seorang suster yang bertugas menyambutnya dengan senyuman.
"Kamu pasti Yuela, silahkan ikut aku... Arc Priest sudah menunggu Anda."
Itu sebuah penyambutan khusus yang tidak banyak orang terima, ia dibawa ke dalam katedral megah lalu menunju ke arah dimana seorang itu menunggunya, Arc Priest sendiri mendapatkan gelar uskup agung dan paus juga bahkan siapapun akan merasa gugup saat bertemu dengannya.
Langkah Yuela berhenti di sebuah gerbang besar yang dibuat dari pelapis emas, ketika suster tersebut mengetuknya suara lain terdengar untuk membiarkannya masuk.
Di dalamnya adalah ruangan luas dengan dekorasi agak sedikit gelap, beberapa suster berdiri di kiri kanan seolah menyambut kedatangan mereka yang segera berlutut ke arah Arc Priest yang menyembunyikan dirinya di dalam kelabu.
"Aku sudah menunggumu loh Yuela Amnesta, kamu masih kecil tapi aku memiliki ramalan untukmu."
Kekuatan Arc Priest sendiri adalah melihat masa depan, entah seperti apa wajah yang dimilikinya yang jelas dari suaranya dia tampak seperti seorang gadis yang lembut.
"Kamu akan menjadi pemilik pedang suci dan akan menjadi seorang pahlawan, bagaimana menurutmu?"
__ADS_1
Yuela sendiri tampak terdiam, ketika dia mengingat bagaimana orang-orang yang dikenalnya mati di depan matanya perasaan marah terlintas darinya.
"Aku akan membunuh semua iblis dan menjaga semua orang diperbatasan, tolong ajari aku bertarung."
"Kamu memiliki tekad yang kuat seperti apa yang aku duga, untuk itu aku sendiri yang akan melatihmu."
Dari tirai tersebut sosok gadis berpakaian putih muncul, itu adalah jubah suci berukiran burung Phoenix yang pantas untuk gelarnya sendiri, dia memiliki rambut yang cukup berbeda yang kiri berwarna hitam dan kanan berwarna putih, ia juga memiliki warna mata yang masing-masing sesuai rambutnya, terlepas tinggi tubuhnya yang terbilang kecil aura penuh wibawanya tampak terlihat kuat.
Meski dia memiliki telinga runcing jelas itu bukan telinga elf melainkan lebih ke arah seorang vampir yang dikatakan sudah punah dari dunia ini.
"Pertama biar aku perkenalkan diriku, namaku Flora Arum D'Esta. mulai sekarang kamu akan jadi muridku bersama dua yang lainnya, ini sudah takdir yang ditunjukkan oleh Dewi Mesna."
Yuela penasaran dengan orang yang dikatakan oleh Flora, ketika dia bertanya-tanya orang seperti apa mereka ia telah menemukan dirinya telah sampai di kamar yang kini akan digunakannya selama latihan.
Salah suster sudah menjelaskan bahwa ia akan memberikan segala yang mereka butuhkan saat berada di sini, entah itu pakaian, makanan bahkan mereka juga mendapatkan uang selayaknya orang-orang yang bekerja.
"Aku akan kembali saat makan malam telah disajikan, jadi pastikan agar tidak berkeliaran kemana-mana."
__ADS_1
Yuela hanya mengangguk mengiyakan dan ketika memasuki kamar dia dikejutkan dengan dua orang yang menyambutnya, atau sejujurnya hanya satu orang gadis yang mengenakan helm yang melakukannya.
Sementara yang lain hanya duduk di tempat tidur tidak peduli.
"Selamat datang kami sudah menunggumu loh."
"Kenapa ada?"
"Abaikan saja tentang helm yang aku kenakan, namaku Lidia dan orang menyebalkan di sana itu namanya Alex."
"Apa katamu!"
Teriakan itu diabaikan begitu saja.
"Mulai sekarang kita keluarga kurasa."
"Lebih tepatnya rekan petualang atau sebagainya," potong Alex demikian.
__ADS_1