
Kami telah mempersiapkan waktu sesingkat mungkin untuk masuk ke dalam wilayah iblis ini. Jika kami berhasil mengalahkan raja iblis nafsu maka iblis putih bisa bebas dan Rinko bisa mengambil pedangnya kembali
Semuanya demi tujuan masing-masing, dua iblis penjaga ditumbangkan melalui pukulan keras Markes yang menerjang maju, berkatnya kami bisa menerobos ke dalam kastil, memikirkan seberapa besar tempat ini memang membuat seseorang akan mengatakan mengagumkan. Dari dekorasi bahkan perabotan yang berada di dalamnya jelas merupakan produk mahal.
Rinko menghentikan kami yang mengikutinya dari belakang.
"Ada apa?" tanya Liza.
"Untuk sebuah kastil raja iblis semuanya terasa terlalu sepi."
"Kurasa kau benar, ini terlalu sepi."
Tepat saat kami melihat sekeliling sebuah tembok di dekat kami telah runtuh, dari sana seorang yang menggunakan tombak muncul untuk menyerang Rinko. Dengan tangan kosong Markes menghentikannya bahkan sebelum ujungnya mengenai sedikit pipi Rinko.
"Heh, seorang bisa menghentikan tombakku dengan mudah."
Seorang yang berkata tersebut merupakan seorang iblis pria dengan rambut ekor kuda.
"Tapi sayangnya aku masih punya trik yang lain."
Tangan Markes tersengat listrik yang membuat tangannya sedikit melepuh, tak ingin kalah Markes memilih untuk melemparkan pria iblis itu ke tempat lain sehingga dia melompat untuk bersatu kembali dengan temannya. Ada Empat dari mereka yang sama-sama mengenakan pakaian mewah dengan jubah melilit di leher mereka. Dua wanita dan dua pria yang sama-sama iblis.
__ADS_1
"Yang barusan lumayan untuk pemanasan, bukan begitu."
"Kau terlalu berlebihan Lan, kau tahu merusak dinding akan membuat pengeluaran menumpuk," seorang yang memarahinya adalah wanita dengan rambut hitam panjang, berkacamata serta membawa timbangan.
"Anggap saja mereka yang telah melakukannya."
"Sungguh."
Pria lain mengangguk mengiyakan, dia memiliki rambut pirang bergaya mangkuk yang sama-sama memiliki tubuh besar seperti Markes.
"Saat era Sage terbunuh, ini pertama kalinya seseorang datang kemari lagi, anggap saja kerusakan barusan merupakan sebuah sambutan."
"Sambutan apanya, Gale."
"Hahaha, mereka terlihat kuat... aku rasa kita akan mati sekarang."
"Diamlah Esper."
Si wanita pembawa timbangan mendesah pelan sebelum melanjutkan menatap keberadaan Vensil, aku secara reflek segera menutupi pandangannya dengan tubuhku.
"Raja iblis kemalasan, iblis yang melarikan diri karena tidak ingin bertarung... kurasa kami bisa membunuhmu di tempat ini."
__ADS_1
Rinko menarik pedangnya yang mana menjadi sebuah tanda untuk yang lainnya bersiaga.
"Perkataanmu seolah kami tidak apa-apanya bagi kalian."
"Itu wajar, manusia hanya makhluk lemah dihadapan iblis seperti kami, membunuh kalian tidak akan memberikan kepuasan apapun."
"Jadi begitu, dia Lan, Esper dan juga Gale, lalu siapa dirimu?"
"Itu mengagumkan bahwa kau bisa mengingat nama kami hanya dari obrolan kami, namaku Miera kami semua adalah jenderal yang bersumpah setia pada raja iblis nafsu."
Aku tersenyum masam atas atmosfir yang terjadi di tempat ini.
"Sepertinya ini akan merepotkan, kau punya rencana?" desakku demikian.
"Hanya satu yang kupikirkan, bertarunglah dan menang."
Berfield yang sejak lama diam mengawasi tiba-tiba dipanggil namanya oleh Rinko membuatnya sedikit tersentak.
"Ada apa?"
"Kau dan Markes urus pria tombak itu, Natasya kau lawan Esper tersebut dengan Liza sementara Vensil akan melawan orang bernama Gale sementara aku sisanya Miera, kalian mengerti?"
__ADS_1
"Dimengerti," tepat saat semua orang mengatakan hal tersebut mereka telah menerjang maju untuk mengalahkan musuh