
Tubuh Adi tersayat angin sebelum dia dihempaskan ke belakang. Mesna yang memperhatikan keseluruhan dari sistem tampak merenung memikirkan sesuatu.
"Dia sedikit tidak normal, mungkin dia juga sebenarnya keturunan pahlawan."
"Bisa iya atau tidak."
Berkat kekaisaran siapapun tidak bisa mengetahui jumlah pastinya, sebuah angin tornado menerbangkan Adi ke udara memaksanya untuk menciptakan lingkaran sihir sebagai pijakan.
Margaret di sisi lain tersenyum, ini pertama kalinya ia melihat lingkaran sihir bisa dijadikan seperti itu. Ia segera menoleh saat salah satu Drone mengincarnya sebagai target. Dengan satu kali ayunan kipasnya dia meledakannya dengan mudah.
"Gaya bertarung yang belum pernah aku lihat."
"Ini masih belum selesai."
Adi mengeluarkan bom ke tangannya yang dia lemparkan ke bawah kaki Margaret, dalam waktu singkat asap telah menyelubungi areanya.
"Kau pasti bercanda, asap bisa disapu bersih oleh angin."
Margaret melakukan seperti apa yang dia katakan, namun dia tidak memprediksi bahwa saat asap di terbangkan, Adi sudah siap di depannya untuk menebas.
"Celaka."
Adi memilih untuk meletakkan pedangnya di leher dan mengumumkan bahwa ia pemenangnya.
"Yang barusan apa? Jelas itu bukan sihir teleportasi."
"Aku menggunakan sihir pendorong, aku lemah dalam penggunaan sihir jadi aku lebih memilih untuk menciptakannya sendiri."
"Itu sedikit tidak masuk akal."
__ADS_1
Margaret menutupi setengah wajahnya dengan kipas. Suaminya segera menanyakan keadaannya sedangkan Daria melompat untuk memeluk Adi hingga dia jatuh ke tanah.
"Daria aku tidak bisa bernafas."
Dua buah melonnya sudah cukup menenggelamkan wajah Adi.
"Kamu berhasil Adi, tidak aku sangka seseorang bisa mengalahkan ibu."
"Aku hanya beruntung."
Ibunya mendesah pelan.
"Seperti perjanjian aku akan menjual botol-botol anggur ke wilayah khusus dengan harga normal dan juga Daria tidak perlu mengikuti perjodohan untuk mencari pasangannya."
"Terima kasih."
"Dan Daria?"
"Berjuanglah."
Hanya Adi sendiri yang tidak mengerti apa maksudnya. Adi diajak berkeliling untuk melihat perkebunan anggur di wilayah ini. Anggurnya sendiri tidak hijau atau ungu melainkan memiliki warna-warni. Karena disembunyikan dengan anggur biasa tidak ada yang menyadarinya.
Ketika dia membaringkan dirinya di tempat tidur ia menemukan seseorang telah mengetuk pintunya.
Tanpa harus dikatakan jelas sekali bahwa ia adalah Daria yang mengenakan pakaian tidur tipis.
"Maaf mengganggumu, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih dan juga memberikanmu hadiah."
Adi menerima sebuah kado cukup berat untuk dipegang dua tangan.
__ADS_1
"Ternyata hadiahnya normal juga."
"Memangnya apa yang kau pikirkan?"
"Aku kira kamu akan menawari tubuhmu atau sebagainya, tentu aku akan menolaknya."
"Aku seorang bangsawan tidak akan melakukan itu dan juga saat aku minta kamu menghamiliku aku tidak benar-benar, kau tahu?"
Adi tahu bahwa itu hanya bentuk dari frustasi yang dimiliki Daria, dibandingkan menikah dengan orang asing Daria hanya berfikir mungkin Adi akan lebih baik karena dia sudah mengenalnya lebih lama.
"Kalau begitu aku harus kembali ke kamarku, selamat malam."
"Selamat malam, semoga tidurmu nyenyak."
Daria sedikit menyembunyikan pipinya yang merona sebelum berlari menjauh, untuk Adi ia memilih untuk melihat isi dari hadiahnya yang merupakan kue yang terlihat enak.
Ia mengambil satu potongan dan merasakan bahwa itu terlalu manis untuknya.
Mesna keluar dari sistem seolah dimana ada makanan dia pasti akan muncul untuk mencobanya.
"Ini enak sekali, dan juga bentuknya hati.. Adi kamu tidak berfikir bahwa Daria menyukaimu? Ini kue buatan sendiri loh."
"Aku rasa tidak begitu, ini hanya ucapan terima kasihnya saja."
"Protagonis komedi romantis memang beda."
"Apa maksudmu?"
"Sesekali kamu harus membaca novel atau mungkin buku dewasa juga untuk mengerti."
__ADS_1
Mesna menatap Adi seperti seorang ibu yang mengkhawatirkan pertumbuhan anaknya, dan entah kenapa Adi sedikit kesal karenanya.