
Sudut pandang Mebel.
Di luar dimensi tersebut Daria memperhatikan pertarungan Adi melawan Sonya dari celah yang terbuka, Mebel muncul di sampingnya membuatnya sedikit terkejut.
"Ugh, apa anggota Shadow Hunter selalu muncul secara tiba-tiba?"
"Kami dilatih untuk bergerak tanpa suara, jadi maaf soal itu."
Daria mengembungkan pipinya sementara Mebel melanjutkan.
"Meski tuan bukan dari dunia ini, ia paling bekerja keras dari siapapun untuk menggapai perdamaian, bersamanya aku yakin, tidak, bahkan semua orang bisa percaya bahwa kita bisa mengambil benua yang selama ini diambil oleh raja iblis."
Daria melirik kembali ke arah Adi yang masih bertarung dengan Sonya dan berharap bahwa dia tidak memaksakan diri, untuk Mebel sendiri dia hanya berbalik dan berjalan meninggalkannya ke luar desa dan bertemu anggota Shadow Hunter yang lainnya, sama sepertinya mereka juga mengenakan pakaian ketat yang memiliki kemampuan kamuflase jika digunakan dalam menyusup.
Tujuan mereka adalah mengambil alih menara surga, dan ketika Yuela pergi ke sana kelompoknya tidak perlu repot-repot bertarung.
Elsa mendesah pelan dan duduk di kap mobil sembari menopang dagunya.
"Waktu bersama tuan jadi berkurang lagi, aku ingin cepat menyelesaikan tugas ini."
"Itu tergantung bagaimana kita bergerak nantinya," balas Yorin sementara Kamui menyeringai.
"Aku sudah lama tidak merasakan sensasi membunuh iblis."
"Pastikan untuk menyisakan untuk kami juga," Elsa melompat ke udara untuk duduk di kursinya. Untuk Mebel duduk di kursi pengemudi bersama Misa di sebelahnya yang terus membersihkan senjata laras panjangnya.
__ADS_1
"Kita berangkat," kata Mebel demikian memacu kendaraan semaksimal mungkin.
Dari kejauhan mereka bisa melihat sebuah menara putih yang menjulang ke atas langit.
Vern memotong.
"Ada sesuatu yang mengejar kita."
"Misa?"
"Dimengerti."
Misa berdiri sembari mengarahkan senapannya ke arah seekor banteng raksasa yang mengejar mereka, Elsa bersandar acuh tak acuh sisanya juga tampak tidak peduli.
Selongsong terbang ke udara sementara pelurunya menembus kepala banteng tersebut, anehnya tembakan tersebut tidak menghentikannya.
"Misa?'
"Kulitnya sangat keras, kurasa perlu dari satu tembakan untuk membunuhnya."
Mebel membanting stir ke kiri saat banteng tersebut melompat ke arah mereka. Yorin merengis saat mendapati banteng yang lain telah menunggu mereka di depan yang merupakan hamparan padang rumput.
Mebel melewati mereka lalu menghentikan mobilnya sesaat sebelum memacu dengan kecepatan tinggi sembari menggunakan manuver tingkat tinggi.
Dua tembakan terdengar dari Misa dan itu menumbangkan satu banteng yang sebelumnya mereka temui pertama kali.
__ADS_1
Mebel melemparkan beberapa granat yang membuat pergerakan banteng tersebut terhenti sesaat. Mebel memutar mobilnya dan dia mengeluarkan sebuah rocket launcher dari tas penyimpanannya, tidak untuknya melainkan melemparkannya pada Elsa.
"Apa ini?"
"Kau yang menembak, sejak tadi kau hanya bersantai."
"Siapa yang bersantai, aku juga berjuang keras menahan gaya mengemudimu yang buruk."
"Hah?"
Yorin mendesah pelan jadi dia yang mengambilnya, dia tidak terlalu suka menggunakan tenaganya meski begitu ini kesempatan baginya untuk sesekali mencoba menembak.
Yorin menempatkan rocket launcher di bahunya, ketika dia menarik pelatuknya roket tersebut melesat lurus menghantam salah satunya hingga meledak jadi serpihan daging dan darah.
Banteng yang lain memilih untuk mundur karena hal itu. Yorin sendiri hanya mematung tanpa mengatakan apapun lagi.
"Yang barusan benar-benar hebat, Mebel bisa minta lagi."
"Mungkin lain kali," balas Mebel kembali menjalankan mobilnya.
Misa mengangguk menambahkan.
"Barusan tembakan yang bagus meski pemula."
"Ayolah, aku baru saja hendak bertarung tapi mereka malah melarikan diri, tolong jangan gunakan benda itu," hanya Kamui yang memprotes.
__ADS_1