
Mereka mengunjungi gua pertama kemudian kedua dan ketiga, walau begitu mereka tidak menemukan keberadaan putri. Untuk memastikan mereka juga memeriksa setiap tengkorak yang mereka temui.
Adi dan Elsa menunggu di luar gua lalu bertanya saat mereka sudah selesai.
"Bagaimana?"
"Di sini juga tidak ada."
Liza menambahkan.
"Hanya ada satu gua lagi, setelah kita ke sana kita akan menyisir kawasan luarnya."
"Sepertinya begitu," kata Rinko singkat.
Di gua selanjutnya mereka masuk sesuai urutan sebelumnya, Rinko dan Liza di depan, di belakangnya Berfield dan Markes, selanjutnya Adi yang terus dipeluk oleh Elsa.
"Aku tidak habis pikir apa wanita rubah selalu menempel seperti itu pada pria."
"Masalah untukmu pendeta, ah benar kalian harus terus menjaga kesucian kalian sampai kalian memutuskan untuk pensiun dari kuil paling tidak itu sekitar 40 tahunan, sungguh menyebalkan."
"Dasar rubah, tidak ada peraturan seperti itu."
__ADS_1
Bukan hanya Elsa yang lainnya juga terasa risih, Adi juga merasakan hal demikian. Tentu di sisi lain dia juga tidak keberatan sebagai pria.
Sesuatu telah bergerak dalam kegelapan, Rinko dan semua orang saling menjaga satu sama lain saat sebuah pedang meluncur pada mereka.
Rinko yang lebih dulu menangkisnya sementara orang yang melakukannya bersalto di udara sebelum mendarat di depan mereka.
Markes mendekatkan lentera di tangannya, dan melihat sosok wanita mengenakan hanfu sedang bersiaga dengan pedang sejajar dengan wajahnya. Ia memiliki mata hitam sesuai rambutnya yang indah sepanjang pinggul. Aura yang ditunjukannya penuh permusuhan.
"Kalian pasti dari kekaisaran bukan."
"Pakaian itu?" kata Adi seolah teringat dengan dunia lamanya, dari generasi ke generasi sudah banyak pahlawan yang dipindahkan kemari tidak aneh bahwa budaya yang mereka bawa kemari juga berkembang.
"Kemungkinan kamu salah orang, kami datang untuk mencari seseorang," lanjut Adi namun hal itu malah memperjelas kesalahpahaman.
Suara yang lain terdengar dari belakang gadis tersebut.
"Bukannya kamu Rinko?"
"Anda putri Riel."
"Jadi benar."
__ADS_1
Gadis yang dimaksud keluar dari kegelapan kemudian memeluk Rinko dengan suka cita bersamaan dengan air mata mengalir di wajahnya.
Riel sediri seorang demi-human singa seperti ayahnya, ia memiliki rambut pirang panjang bergelombang, mata terlihat dipenuhi rasa welas asih seolah seseorang akan bersedia mempertaruhkan nyawa demi melindunginya.
"Tak apa-apa Xin Qian, mereka teman."
"Begitukah, kurasa aku harus minta maaf untuk yang barusan."
Entah orang bernama Xin Qian atau Rinko sama-sama menyarungkan kembali pedang mereka, Adi meminta untuk menjelaskan apa yang terjadi di sini jadi ia menyarankan untuk berbicara di luar agar lebih terang.
Dengan sikap hormat Xin Qian kembali memperkenalkan dirinya.
"Namaku Xin Qian dari keluarga Li, aku hanya dalam perjalanan dan tanpa sengaja bertemu dengan nona Riel, sejak itu ia memintaku untuk melindunginya sampai seseorang datang menjemputnya."
"Aku yakin bahwa seseorang akan datang kemari," tambah Riel sedikit malu.
Keputusan putri memang tepat untuk menunggu, hanya saja akan jauh lebih baik jika dia bisa kembali sendiri ke kerajaan terlepas dari masalah perjodohan yang terjadi, ayahnya jelas akan mengusahakannya sebaik mungkin jika dia menolak keras.
"Rinko apa yang dimaksud keluarga Li?" tanya Markes.
"Itu semacam klan yang kita kenal, di sana seseorang akan tergabung dengan keluarga dimana mereka dibesarkan dan bersama-sama bekerja sama untuk memajukan pemerintahan. Dari yang aku dengar keluarga Li merupakan salah satu keluarga tingkat atas."
__ADS_1
"Kamu seperti terlihat sangat mengenal budaya kami, apa kamu pernah pergi ke negara kami?"
Rinko tersenyum ragu, pasalnya dia sudah tahu dari awal tanpa harus pergi ke sana.