
Setelah hidangan pembuka selesai disajikan, Adi telah menyibukkan dirinya di depan kompor portabel, dia memutuskan untuk membuat steak dengan caranya sendiri. Ia pertama mencuci bersih daging kualitas terbaiknya lalu mulai merendamnya ke dalam wadah yang berisi resep miliknya, perlu 30 menit untuk siap maka dia mengambil pekerjaan berbeda dalam membuat sup dan sate.
Panggangan telah dinyalakan dan Adi mulai menempatkan setiap tusuk sate yang di dalamnya juga ditambahkan sayuran. Setelah keduanya matang. Ia mulai menyajikan semuanya lebih dulu ke semua orang sebelum beralih untuk mengolah stik.
"Mari kita lihat saos seperti apa yang akan aku gunakan?"
Ia memunculkan katalog di depan wajahnya, memilih saat seseorang memeluknya dari belakang.
"Curang kalian sedang makan-makan tapi tidak ada siapapun yang membangunkanku."
Adi mendesah pelan dengan sosok yang berkata demikian, jika bukan Mesna lalu siapa lagi? Hanya ia satu-satunya yang bisa tidur seharian penuh.
"Jika mau makan, bekerjalah."
"Aku tidak mau bekerja, aku serahkan padamu."
Mesna dengan pakaian tidurnya akan bergerak namun kerah pakaiannya telah dihentikan Adi.
"Paling tidak, ganti pakaianmu dulu baru duduk dengan yang lainnnya."
"Merepotkan."
Dengan itu, Adi membiarkannya pergi begitu saja. Dia mulai menyusun satu persatu makanannya ke dalam piring yang diletakkan di gerobak dorong lalu menyajikannya di atas meja untuk semua orang.
"Silahkan."
__ADS_1
"Kelihatannya enak," kata Daria.
Mesna juga sudah duduk bersama lainnya sementara Adi dia segera kembali ke dapur untuk mengolah daging stik yang sudah ia rendam sebelumnya.
Teksturnya telah menjadi lembut dan siap digunakan, ia mulai mulai melarutkan margarin di atas wajan dengan api kecil lalu mulai memanggang dagingnya.
Sambil menunggu ia menyiapkan sayuran seperti buncis, wortel, brokoli termasuk menyediakan kentang goreng.
"Kurasa ini cukup."
Daging yang sudah matang ia sajikan di piring dengan potongan sayuran dan kentang, ia mengambil sebuah botol saos untuk steak yang telah dipilihnya. Di zaman modern semua orang tidak perlu repot membuat saos atau sebagainya, hanya dengan memesan semua kebutuhan tersaji dan tentu rasanya sangatlah enak.
Ia mulai menuangkan saos di atas daging maka terciptalah makanan mewah yang tidak perlu repot membuatnya.
Ia menyajikannya di atas meja kembali untuk semua orang.
"Sudah jelas kan, tidak ada yang bisa menyaingi tuan dalam hal memasak."
Yorin meringis.
"Hanya saat tuan memasak, Mebel bisa jujur."
Semua orang tertawa kecuali Mebel sendiri.
"Berisik."
__ADS_1
Untuk pekerjaan selanjutnya Adi membuat makanan penutup sederhana, ia membuat pancake dengan sirup maple di atasnya, ketika disajikan semua orang terlihat bahagia.
Ia mulai hidup dikelilingi banyak wanita, walau demikian itu bukan kondisi yang buruk untuknya.
Sudut pandang Rinko.
Setelah selesai mandi, aku kembali mengenakan kacamataku lalu berganti pakaian seperti sebelumnya, tidak lupa aku meletakan enam pedang di pinggangku.
Setelah memastikan rambutku rapih aku keluar kamar dan menemukan bahwa Liza telah menungguku di sana.
Ia seorang pendeta dengan kepribadian kuat, alih-alih selalu berada di belakang, ia terkadang menyerang ke depan. Itu membuktikan bahwa tongkat yang dibawanya juga berfungsi sebagai tombak.
"Pagi nona Rinko."
"Pagi untukmu juga Liza, apa kamu sudah menunggu lama di sini?"
Ia menggelengkan kepalanya.
"Aku baru saja tiba, yang lainnya kemungkinan sudah berada di luar kota."
Mereka datang lebih awal dari seharusnya.
Aku mengangguk mengiyakan sebelum berjalan bersamanya ke tempat yang dimaksud, kami akan bergerak secara tersembunyi karena itulah kami akan melakukan perjalanan dengan berjalan kaki.
Kami berdua menemukan Markes dan Berfield telah bersandar di pohon.
__ADS_1
"Mari bergerak," kataku demikian.
Sudah waktunya kami menggulingkan kekaisaran.