
"Jadi di sini tempatnya, kalau begitu aku akan langsung kembali Adi."
"Terima kasih sudah mengantar kami Brietta."
"Tidak masalah."
Adi merangkul Elsa di pelukannya sebelum dia melompat dari punggung Brietta dalam wujud naganya, sebelum menyentuh tanah sebuah lingkaran sihir telah menahannya sesaat sampai akhirnya menyentuh tanah.
"Penerbangan yang nyaman tuan."
"Kamu terlalu erat Elsa."
Elsa turun dan Adi bisa melihat sebuah pondok yang berdiri di pinggir tebing.
"Jika aku benar, mereka pasti sudah menunggu tuan."
Elsa memandu jalan di depan, suara derit kayu terdengar saat keduanya berjalan di lantai kayu. Ketika Elsa membuka pintu mereka bisa melihat seorang duduk di kursi dan tiga lainnya berdiri di belakang.
Adi maupun Rinko saling bertatap muka.
"Jadi begitu, orang Asia juga ternyata."
"Rasanya situasinya agak berat di sini," balas Adi santai.
Liza bertanya ke arah Rinko dengan sedikit ragu.
"Apa ada yang salah?"
"Bukan apa-apa, hanya saja di depan kita juga seorang pahlawan.. kemungkinan, ia bukan pahlawan yang dipanggil dari kekaisaran."
__ADS_1
"Itu bohong kan? Aku tidak menyangka pahlawan ada yang bisa muncul begitu saja."
"Heh, ini jauh lebih menarik... aku ingin mencoba seberapa kuat orang ini."
Markes menerjang ke depan, Elsa berdiri menghalangi namun Adi memintanya untuk mundur. Dia menendang wajah Markes sebelum pukulannya bisa mendarat, dia terbang menabrak kayu sebelum duduk dengan pasrah.
"Hanya satu pukulan, Rinko?" teriak Berfield hendak maju sementara Adi mengangkat bahunya ringan.
"Hentikan Berfield."
"Ayolah, bisakah kalian tidak mengujiku dengan cara seperti ini."
Rinko menjawab.
"Kau tahu aku sudah sering melihat bagaimana pahlawan lain hidup, mereka sama sekali tidak peduli pada siapapun asal kehidupan mereka bisa nyaman dan tentram, aku harus memastikan kau orang seperti apa."
"Aku bisa mengerti hal itu, jika kau membenci pahlawan lain kau hanya harus mengalahkan raja iblis agar pahlawan berhenti dikirim ke dunia ini."
"Kalian tunggulah di luar aku ingin berbicara dengannya hanya berdua," atas pernyataan Rinko, ketiganya mengangguk kecil. Markes bahkan harus dipapah untuk bisa keluar.
Elsa juga mengikuti ke belakang hingga hanya mereka berdua yang berada di tempat ini.
"Menurutmu apa dunia ini bisa diselamatkan?" Rinko memulai dengan pertanyaan.
"Ini sudah 1000 tahun lebih iblis mulai menginvasi, sudah seharusnya kita bisa menyelamatkannya."
"Aku suka akhir cerita seperti itu, namun di dunia ini terkadang protagonis bisa mati juga."
Adi meringis sedikit, yang dikatakan mungkin benar bahkan jika Adi lengah dia akan berakhir seperti itu. Dia diberikan Cheat namun bukan berarti dia bisa lolos dari kematian.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong Rinko dua pedang diantara milikmu, ada Izanagi dan Izanami bukan?"
"Kamu tahu?"
"Ketika aku memilih kekuatan cheat yang paling kuat katanya seseorang telah mengambilnya, dia adalah utusan dari Dewi Iris."
"Tepat sekali, Izanagi adalah pedang yang bisa memotong ruang dan waktu sementara Izanami pedang yang memotong kenyataan."
"Kenyataan?"
"Singkatnya jika seseorang mati secara tidak normal aku bisa menghidupkannya kembali."
Adi sedikit paham.
"Pantas saja kekuatan yang kamu pilih sangatlah kuat."
"Dewi Iris mencoba mengirimku sebagai pahlawan untuk merubah dunia ini sayangnya kekaisaran malah memperlakukanku seperti itu, hingga akhirnya Dewi Iris marah dan berhenti mengirim pahlawan wanita dan juga pahlawan kuat, bahkan bisa dibilang mereka semua pengecut."
"Ia sampai segitunya."
"Karena ia mempercayakan semuanya padaku."
Adi bisa merasakan kebencian kuat dari tatapan Rinko terhadap kekaisaran. Rinko balik bertanya.
"Lalu kekuatan seperti apa yang kau ambil?"
"Kekuatan paling belakang di daftar," kata Adi memastikan apa Rinko tahu tentang itu atau tidak.
Rinko membuka mulutnya.
__ADS_1
"Sistem Belanja Online-kah."