Terlahir Kembali Di Dunia Lain Dengan Sistem Belanja Online

Terlahir Kembali Di Dunia Lain Dengan Sistem Belanja Online
Chapter 121 : Meninggalkan Kota Suci


__ADS_3

Dengan ringan Flora menghindarinya tanpa kesulitan, dia bahkan membungkuk ke depan saat tendangan Alex melintas tepat melewati atas kepalanya.


"Mustahil?" kata Alex dengan ekpresi terkejut.


"Ini pertama kalinya kalian bertarung secara berkelompok, lumayan."


Sebuah tekanan menghempaskan ketiganya hingga mereka tergerus di atas lantai, semenjak itu hari-hari mereka terus dihiasi pelatihan keras.


Lima tahun berikutnya Flora mengumumkan bahwa tidak ada lagi yang bisa diajarkan pada ketiganya, sejauh ini tidak ada yang mampu mengalahkannya akan tetapi dia malah menghentikan pelatihan.


Yuela yang kini lebih ke penampilan kesatria memberikan protesnya. Ia bahkan memotong rambutnya sebahu.


"Apa Anda menyerah untuk mengajari kami? Ini sudah lima tahun tapi kami tidak bisa mengalahkan Anda."


"Bukan begitu, seperti apa yang aku katakan tidak ada yang bisa aku ajarkan lagi pada kalian."


"Meski Anda mengatakan itu?"


Alex dan Lidia memiliki pemikiran yang sama namun mereka berdua lebih mempercayai Yuela untuk menanyakannya.


"Mari aku ganti pertanyaannya, apa yang membuat kalian tidak bisa mengalahkanku selama ini?"


Ketiganya diam merenung, alasan bahwa mereka lemah jelas bukan jawabannya, melihat itu, Flora melanjutkan.


"Singkatnya yang kalian butuhkan adalah pengalaman, semakin kalian bertemu banyak orang serta banyak melalui pertarungan kalian akan semakin bertambah kuat."


Apa yang dikatakan Flora tidaklah salah, namun bagi ketiganya itu berarti sudah waktunya mereka meninggalkan kota suci.

__ADS_1


Beberapa hari berikutnya Flora sendiri yang mengantar ketiganya pergi, sebelum menunju gerbang luar kota suci, mereka singgah dulu di alun-alun kota. Di sana terdapat sebuah pedang emas yang menancap dan tak ada siapapun yang mampu menariknya dari sana.


Flora sendiri sudah meramalkan bahwa pedang itu akan jadi milik Yuela, kini adalah semacam pembuktian. Beberapa orang turut memperhatikan Yuela yang berjalan mendekat ke arah pedang tersebut.


"Apa menurutmu dia akan mampu menariknya?" tanya Lidia.


"Jelas sekali, aku benci mengakuinya tapi dia adalah orang yang lebih kuat dari kita."


"Tidak biasanya kau mengakui kekuatan seseorang."


"Berisik."


Yuela menarik nafas dalam-dalam lalu meletakkan kedua tangannya di pegangan pedang, jika orang lain mereka akan terlihat sangat mati-matian untuk menariknya namun bagi Yuela ia dengan mudah melakukannya.


"Berhasil."


Yuela mengangkat pedangnya di atas kepala membuat semua orang bertepuk tangan meriah sembari memberikan berbagai komentar.


"Kau yakin dia akan lebih baik dari pahlawan kekaisaran."


"Tentu saja."


"Hey, apa kau dengar pahlawan dari kekaisaran di usir karena dia wanita."


"Kacau sekali."


"Dia sangat cantik."

__ADS_1


Hal-hal yang tidak penting juga turut terlontar di antara kerumunan meriah tersebut. Di luar kota ketiganya membungkuk rendah pada Flora.


"Terima kasih sudah merawat kami selama ini, jika ada yang ingin kami lakukan hanyalah menyelamatkan dunia ini dan menjadikan tempat yang bisa dihuni lagi oleh manusia."


"Aku sangat menantikan prestasi kalian di masa depan."


Lidia menyikut perut Alex.


"Katakan sesuatu kek."


"Tidak ada yang ingin aku katakan, pokoknya kami akan bekerja keras."


"Dia sangat pemalu, jika ada kesempatan kami akan sesekali mampir."


"Kalian selalu diterima kapanpun di sini."


"Oi, siapa yang kau katakan pemalu dasar ibu-ibu?"


"Hoh kau berani memanggilku begitu."


"Aku yakin wajahmu sangat tua di balik helm tersebut."


"Tidak sopan."


Lidia dan Alex saling bertukar pukulan serta tendangan sementara Yuela memberikan pernyataan untuk menutup perpisahan ini.


"Kalau begitu kami berangkat."

__ADS_1


"Iya, jaga diri kalian."


Yuela memukul kedua temannya sebelum akhirnya menyeret keduanya tanpa kesulitan. Petualangan mereka baru saja dimulai.


__ADS_2