
Lian hanya bisa terdiam terkejut saat melihat rohnya hanya dihabisi dengan satu sihir saja melalui wanita tanpa wajah. Sebelum dia mencerna semuanya sosok Natasya sudah melesat padanya untuk memberikan pukulan maupun tendangan yang satu persatu dia hindari.
"Makhluk apa sebenarnya rekanmu itu?"
"Jika ditanya begitu aku juga tidak tahu, yang jelas dia sesuatu yang mengerikan."
Satu pukulan berhasil mengenai perut Lian membuatnya terbang ke atas langit, Natasya mengikuti dengan lompatan mendahului, dengan satu tendangan darinya Lian menukik jatuh sembari memuntahkan darah.
Jika harus dikatakan satu pukulan Natasya berikutnya bisa langsung membunuhnya namun ia memilih untuk tidak melakukannya, pukulannya hanya mendarat beberapa sentimeter dari wajahnya.
"Sudah selesai, kau kalah."
"Kenapa kau tidak menghabisiku?" tanya Lian.
"Karena itu bukan apa yang kami inginkan, kau tidak menyadarinya namun ada kemungkinan kau sudah di cuci otak oleh pemimpin elf yang baru."
"Jangan konyol, tidak mungkin jika.."
"Lalu sejak kapan kalian mau menerima pemimpin elf yang tidak memiliki rambut perak."
"Sejak.."
__ADS_1
Jelas sekali Lian tidak bisa mengingatnya, seharusnya tradisi tersebut dijaga sejak lama.
"Kau diam saja di sini, dan pikirkan semuanya dengan baik."
Vensil yang duduk di atas petinya memiringkan kepalanya.
"Sudah mau pergi lagi."
"Begitulah."
"Kalau begitu aku bisa tidur lagi, tolong letakan kembali penutupnya."
"Siapa bilang harus membantingnya seperti itu."
Vensil masuk ke dalam peti dan kembali ke posisinya untuk tidur, jika raja iblis ini benar-benar berniat bertarung ia mampu menghancurkan wilayah elf dengan mudahnya.
Dalam hati Natasya, ia bersyukur bahwa kepribadiannya seperti ini.
Sudut pandang Adi.
Claude bergerak dengan melompat dari atap bangunan ke bangunan lainnya saat beberapa misil mengejarnya. Setiap misil menabrak sesuatu, itu menghasilkan ledakan yang membuat apapun berubah menjadi kawah kecil.
__ADS_1
Untuk Claude yang pertama kali melihat serangan seperti itu merasakan takjub sekaligus ngeri.
Di hadapan api yang membumbung tinggi Adi berdiri gagah dengan pedang di tangannya, dia memerankan karakter penjahat over power dengan baik. Menyadari bahwa serangan Adi terhenti Claude yang seluruh tubuhnya tetap terselimuti petir berputar di balik bangunan, dia menekuk lututnya yang kemudian melesat bagaikan roket.
Adi yang tidak sempat menghindarinya terkena tebasan yang membuatnya terhempas menabrak beberapa bangunan dengan posisi menyedihkan. Sementara dia menempel di dinding dengan kepala di bawah dan kaki di atas Claude telah mendekat, pedang di tangannya bersinar dan secara otomatis menyebarkan aliran listrik ke segala arah.
"Sudah berakhir, dengan posisi seperti itu kau tidak akan bisa meloloskan diri, tamat riwayatmu... sebelum itu, aku perlu melihat orang seperti apa yang ada di balik topeng itu."
"Maaf saja pertarungan ini kau yang kalah."
Adi tidak terlalu pandai menggunakan sihir walau demikian sekecil apapun sihir jika digunakan dengan baik maka hasilnya akan jauh lebih mengerikan.
Sebuah lingkaran sihir menghentikan langkah Claude, disusul pusaran air kemudian perlahan tubuhnya membeku.
"Sihir air, dan sihir angin, menciptakan sihir es, bagaimana bisa seseorang menggunakannya? Dari yang aku dengar hanya Rinko yang mampu melakukannya."
Adi sedikit terkejut karena dia bisa kenal dengan pahlawan. Dia keluar dari dinding sedikit membetulkan topengnya yang sedikit longgar.
"Kekuatan sihirku tidak sekuat orang lain, meski begitu aku mampu mempelajari semuanya."
Adi mengarahkan tangannya, hanya dengan sihir api sederhana tubuh Claude terlempar ke udara sebelum jatuh tidak sadarkan diri.
__ADS_1
"Seharusnya Mebel juga sudah selesai di sana."